18 June 2018

Sri Mulyani Jadi Menko Ekonomi, Selesai Sudah Harapan Rakyat

Berhembus kabar paska lebaran Presiden Joko Widodo akan melakukan rhesuffle kabinet yang ke III, kasak kusuk simpang siur kebenaran informasi tersebut beredar luas ke publik.

Dari sekian kabar yang lalu lalang tersebut, ada satu informasi yang jadi sorotan publik, yakni seputar pergantian tim ekonomi pemerintahan Jokowi.

Konon Sri Mulyani Indarwati (SMI) yang sebelumnya menjabat menteri Keuangan akan digeser ke Menko Perekonomian. Betapa istimewanya mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut di mata pemerintahan Jokowi.

Jika informasi tersebut benar, selesai sudah harapan rakyat menunggu datangnya era kedaulatan politik, era membangun fondasi kemandirian ekonomi dan era memperkuat kepribadian budaya di pemerintahan Jokowi ini.

Semua yang ditunggu publik hanyalah isapan jempol belaka. Semangat Pro wong cilik dan janji membangun ekonomi kerakyatan hanyalah jargon komoditas politik musiman ketika rutinitas kampanye pemilu diadakan.

Masuknya Sri Mulyani dalam kabinet kerja pemerintahan Jokowi pada rhesuffle jilid II yang lalu saja jelas sudah membuat publik kecewa dan bertanya-tanya, atas pertimbangan apa seorang SMI yang nota bene bermazhab ekonomi Neoliberal, penghamba IMF-World Bank, Minim Prestasi memajukan kemandirian bangsa, disorientasi, bisa bergabung leluasa dengan era rezim yang katanya pengusung cita-cita Tri Sakti dan Agenda Nawacita ini, Pemerintahan Jokowi jelas tak istimewa bagi rakyat dan mematikan harapan publik yang ditunggu-tunggu selama ini.

Sri Mulyani yang gagal melakukan reformasi pajak, gagal memenuhi target pemasukan negara, gagal menaikkan pertumbuhan ekonomi, gagal menjalankan program Tax Amnesty, dan kegagalan-kegagalan yang lainnya, membuat bangsa ini semakin tertunda jalan kebangkitannya.

Alih-alih mencari solusi memecahkan problematika ekonomi bangsa, SMI justru asyik dan terlena dengan retorikanya dan memaksakan agenda-agenda World Bank - IMF agar di jalankan dipemerintahan Jokowi ini, seperti pencabutan subsidi, pemangkasan anggaran dan genjot utang luar negeri.

Pemerintahan Jokowi telah menutup mata dari lambat dan tergopoh-gopohnya kebangkitan bangsa selama hampir 50 tahun kebelakang ini, pemerintahan Jokowi memilih "Kecerobohannya" sendiri secara sadar dengan terus melanggengkan SMI didalam pemerintahannya.

Pemerintahan Jokowi memilih jalan "hipokrit" Jika terus pertahankan SMI, jalan kepura-puraan Tri Sakti, jalan kepura-puraan Nawacita. hanya "slogan bombastis tapi tak ada legacy", Padahal agenda sesungguhnya pemerintahan ini dengan SMI dan Darmin Nasution didalam kabinetnya maka berwatak dan cirikan "Neoliberalisme". Sebuah paham yang dibenci dan dilawan Bung Karno. "... Go To Hell With Your Aid..."

Tiga tahun berjalan ini, publik sudah " kapok"dengan pemerintahan Jokowi yang faktanya telah gagal kelola perekonomian di bawah kendali Darmin Nasution dan SMI. Waktu tersisa tinggal dua tahun berjalan, pemerintahan Jokowi harusnya lebih jeli dan peka mendengar kehendak rakyat. Betul-betul membangun ekonomi kerakyatan, Bukan justru mengekor kemauan Bank Dunia - IMF, janji Presiden Jokowi pada Pemilu 2014 masih tersimpan baik di memori rakyat.

Presiden Jokowi kembalilah !
______________________________

Oleh: Hariadi Hartono

Sumber: Kompasiana

Category: 

Berita Terkait

Loading...