Siapa di Balik Rencana Kudeta Raja Yordania?

OPINI-Yordnaia adalah negara Arab yang secara geografis memiliki perbatasan langsung dengan Israel. Negara Arab lain yang juga memiliki perbatasan langsung antara lain: Mesir, Lebanon, dan Suriah.

Jika Suriah dan Lebanon tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara Zionis ini bahkan masih dalam status perang, Mesir dan Yordania memiliki hubungan diplomatik setelah melakukan perdamaian secara terpisah.

Meskipun demikian hubungan Amman dan Kairo dengan Tel Aviv tidak pernah benar-benar mencapai kindisi normal, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial, sebagaimana lazimnya hubungan dua negara bertetangga.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kecurigaan kedua belah pihak, ditambah keengganan masyarakatnya masing-masing untuk saling memberi dan menerima. Perang besar Arab-Israel yang terjadi paling tidak tiga kali, tampaknya meninggalkan luka dalam bagi kedua belah pihak.

Bagi Yordania ada tanggungjawab tambahan, mengingat besarnya penduduk asal Palestina yang mencapai hampir separoh penduduk Yordania secara keseluruhan bermukim dan menetap di negara ini, baik karena terusir akibat perang ataupun secara sukarela dengan berbagai alasan.

Ratu Rania yang kini menjadi permaisuri Raja Abdullah merupakan anak bangsawan Palestina. Tidak sedikit tali-temali kekeluargaan seperti ini terjadi di masyarakat Yordania menunjukkan kedekatan antar dua bangsa yang sebelumnya merupakan dua provinsi bertetangga sampai pada era Turki Usmani sebelum dipisah oleh penjajah Inggris dan Perancis.

Bahkan, ketika Israel sudah berdiri kemudian menguasai sebagian besar wilayah Palestina, Yordania masih diberikan kehormatan sekaligus tanggungjawab untuk merawat dan melindungi tempat-tempat yang disucikan oleh Ummat Islam, termasuk Al Quds atau Masjid Al Aqsa.

Saat negara-negara Arab Teluk yang didorong oleh Presiden Donald Trump untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, Yordania bersikap pasif dan skeptis. Bahkan dalam sejumlah kasus yang bisa dijadikan indikasi, Raja Abdullah terkesan menghalang-halangi.

Hal ini dilakukan karena berbagai sekenario dan format perjanjian damai yang dirancang Jared Kushner menantu Donald Trump dinilai merugikan Palestina. Lebih dari itu, para petinggi Zionis Israel tidak segan-segan menawarkan hak pengelolaan tempat-tempat suci ummat Islam di Palestina untuk dialihkan ke Saudi Arabia sebagai imbalan, bila Riad bersedia menjalin hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.

Karena itu ketika upaya kudeta yang bertujuan menggulingkan Raja Abdullah terjadi, mata publik langsung tertuju ke Israel yang merasa sangat terganggu dengan sikap politik Yordania selama ini.

Kecurigaan ini semakin nyata ketika seorang pengusaha asal Israel bernama Roi Shpushnik yang kini bermukim di Eropa berusaha menyelamatkan dalang dan aktor-aktor penting upaya kudeta yang gagal dengan cara mengevakuasinya dengan menggunakan pesawat pribadi.

Rencana ini gagal dilaksanakan karena kalah cepat dengan aparat keamanan Yordania yang berhasil mengendus plot kudeta, kemudian bergerak cepat lebih dahulu mengamankannya. Pangeran Hamzah yang tidak lain dari adik tiri Raja Abdullah dari permaisuri Ratu Noor termasuk yang ikut diamankan.

Pangeran Hamzah semula sebagai Putra Mahkota yang diangkat sejak 1999, kemudian diganti oleh Pangeran Hussein bin Abdullah yang merupakan putra sulung sang Raja. Karena itu bisa difahami berbagai spekulasi yang menyatakan Hamzah memendam kecewa atas keputusan sang kakak menggusurnya.

Apalagi beberapa sumber yang layak dipercaya menyebutkan bahwa Roi merupakan mantan pejabat teras badan intelijen Israel Mossad. Bagi Israel mengkamuflase aparat intelijennya sebagai pengusaha sudah seringkali dilakukan.

Deputi Perdana Mentri Yordania Aiman Safadi mensinyalir adanya keterlibatan intelijen asing tanpa menyebut Mossad atau negara Zionis tetangganya, disamping menyebut adanya sejumlah indikasi keterlibatan Pangeran Hamzah sebagaimana diberitakan Al Jazeera.

Belakangan sejumlah media Israel menyebut keterlibatan Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab dalam upaya kudeta yang gagal ini. Bukan mustahil Israel memanfaatkan dua negara Arab Teluk yang kini sedang menjalin hubungan mesra dengan Tel Aviv dalam menjalankan operasinya.

Akan tetapi bukan mustahil semua ini bagian dari sekenario terbaru negara Zionis ini untuk terus-menerus mengadu-domba negara-negara Arab. Wallahua'lam. rmol.id

_________________

Oleh: Dr Muhammad Najib

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...