25 June 2018

Selamat Jalan Sahabat Terbaikku, Chandra Ira

Oleh: Muslim Arbi

Chan, aku menangisi kepergian mu yang begitu cepat. Bukan kah 2 hari lalu kita masih telepon2an. Saya akan ke Jakarta dan bertemu untuk suatu urusan?

Tidak ada tanda2, " kau akan ninggalin aku" untuk selama nya. Kau berpindah ke alam Ke Abadian. Kita tidak lagi bisa berbagi cerita duka dan gembira.

Kau bagaikan Malaikat Kecil, di saat aku, dalam posisi yang sangat sulit.

Terakhir sekali, tiket ku hangus dan tidak bisa balik ke Surabaya dan aku pun terdiam di Bandara Halim Perdana Kusuma, karena kehabisan duit, kau menolong ku sehingga dapat segera balik ke Surabaya dan dapat menolong suatu urusan yang juga sangat emergensi.

Chan, pertemanan kita sejak 1996 di Departemen Perdagangan, sampai hari ini, menyisakan kenangan manis yg sulit untuk di lupakan. Kau begitu sering menolong teman2 yang ke susahan, termasuk aku dan teman2 ku. Bahkan nama mu di kalangan teman2 di kementrian Perdagangan dan Perindustrian sangat akrab dan familiar. Juga beberapa kalang di DPR.

Chan, Kau, bahkan seperti "Raja Kecil" dan Malaikat Kecil, di Dekin, sebutan untuk kementrian Perdagangan dan Perindustrian. Hehehe
Semua nya merasa kehilangan atas kepergian mu yang begitu cepat.

Pagi kemarin, saya di telepon Iwan Baadillah, memberitahu, berita kematian mu. Aku pun langsung mengkofirmasi berita itu ke beberapa kawan, di antara Mas Edi, Rifai dan teman2 di Kementrian Perdagangan, Seperti Amrul, Jurnalis, Sito dan ke Mas Ginoy di DPR agar menyampaikan ke Pak Lili. Tapi rupanya Ginoy yang adalah sekertaris Pak Lili di KomisimVI sudah mengetahui berita kematian Chandra yang mendadak itu.

Saya lalu mencari alamat Rumah Almarhum, di BSD. Alhamdulillah, dari Teteh saya dapat kan alamat itu, dan saya share ke beberapa kalangan sehingga teman2 dapat mencapai Rumah Duka. Saya pun di telepon oleh Rifai atas berita ini. Bahkan Amrul yang tahu saya sangat kenal dan akrab dengan Almarhum, mendesak, "Lim, lu mesti Ke Jakarta".

Tapi, memang di Surabaya pun, saya dalam posisi dilematis, saya sudah memastikan suatu pertemuan dalam menangani kasus Yang sudahv di tunda beberapa kali. Dan ini pun mengangkut nasib dan kehidupan sebuah keluarga di Surabaya, yang juga sudah lama trauma atas kasus yang menimpa mereka, sehingga akhir nya saya pun tidak ke Jakarta untuk mengantarkan mu ke Pembaringan Terakhirmu, Chan. Tapi saya berjanji, akan ke Maqam mu, dan menjumpai Keluarga mu yang kau tinggalkan.

Kehidupan dan Kematian adalah Taqdir Ilaahi, yang sudah tergores di Lauhul Mahfud. Kita hanya tinggal menjalani nya. Chan, kemarin, kau telah pulang dengan Khusnul khatimah, di alam asal usul Kita Semua. Dan kami pun pasti akan menyusul mu. Doa kami selalu menyertai mu. Sampai kita bertemu kembali di Alam Keabadian.

Pertemanan dan Persahabatan Kita Abadi, Chan. Semoga Allah SWT memberkahi kita Semua. Dan Dia menyayangi mu di Alam Barzah. Lahu, Almarhum Chandra Ira Alfaatihah. Allahummagfir lahu warham hu, wa aafihie wa fu an hu, wa akrim nujuju la hu... Selamat Jalan Chan..."Aku masih menangisi mu".[***]

Category: 

Berita Terkait

Loading...