17 September 2019

Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

Oleh: Eriga Agustiningsasi, S.KM

Hari Kemerdekaan telah tiba. Tujuh puluh empat tahun yang lalu, para pendiri negara (Founding Fathers) beserta segenap rakyat Indonesia memploklamirkan Kemerdekaan bangsa ini yang sudah terlalu lama dijajah. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya dijajah Belanda dengan keji. Belum lagi dijajah Jepang selama 3,5 tahun, singkat tapi begitu menyakitkan rakyat negeri ini. Banyak nyawa gugur memperjuangkan kemerdekaan ibu pertiwi. Berbagai cara juga dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan negeri.  Melindungi rakyatnya, mengawasi agar bangsa asing tidak berkuasa di bumi ini, Indonesia, menjaga pulau pulau agar tetap bersatu dengan Indonesia. Agar tak terlepas begitu saja. Lalu, bagaimana kondisinya kini? Masihkan Indonesia berlabel negera merdeka di tengah gempuran luar biasa dari para pengincarnya?

Merdeka. Kata yang sering diucapkan. Kata yang menyimpan beribu harapan digantungkan. Menurut KBBI, merdeka ialah bebas dai perhambaan, penjajahan, berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Artinya merdeka terbebas dari pengaruh manapun, apalagi pengaruh bangsa asing. Lalu, apakah negeri ini sudah dapat dikatakan negeri yang merdeka secara sempurna? Mengingat kita sering mendengar berita entah melalui media elektronik maupun media cetak yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang dalam kondisi dicengkeram bangsa asing. Aset dan kekayaan ibu pertiwi telah didominasi asing. Slogan cintai produk produk dalam negeri sudah tak terdengar lagi. Slogan karya anak negeri pun juga sepertinya telah hilang ditelan bumi.

Sebaliknya, kebijakan impor diperluas memenuhi negeri dengan julukan zamrud Khatulistiwa ini. Produk berupa barang/jasa dan bahkan manusia (SDM, tenaga kerja) asing membanjiri ibu pertiwi, menggeser karya penduduk pribumi. Pertaruhkan karya anak negeri dengan lebel persaingan sejati. Alhasil negeri yang digadang gadang menjadi macan asia, kini hanya menjadi pasar perdagangan bebas negara adidaya. Kebijakan demi kebijakan menjadi pengikat Indonesia di dunia Internasional, mengharukan negeri ini mengikuti keputusan yang diambil oleh internasioanl. Artinya setiap kebijakan yang diberlakukan oleh Indonesia akan selaras dengan kemaauan bangsa lain. Masih ingatkah kita kebijakan penghapusan subsidi BBM? Kebijakan tersebut tidak lain adalah dampak dari perjanjian ekonomi politik kapitalisme untuk mendapatkan donasi dari lembaga ekonomi dunia (WB, IMF, WTO) dengan konsep untung rugi, bukan untuk kemaslahatan rakyat.. Wujud dari pelaksanaan pasar bebas liberalisasi, kemudian dilanjut privatisasi kekayaan negeri. Lantas, masihkan ada kata merdeka di negeri ini jika semua dikuasai, dipengaruhi dan disetir asing?

Racun Kapitalisme dengan ramuan liberalismenyalah membuat negeri ini jauh dari kata merdeka. Dengan liberalisasi berlabel kerja sama antar negara, asing mampu dengan mudah masuk dan menguasai pasar di Indonesia, berhasilmenguasai SDA di Indonesia, berhasil menjadi trendsetter di kalangan generasi muda, dan berhasil menggeser tenaga kerja pribumi dengan tenaga kerja mereka. 

Oleh karena itu marilah kita sadari, sudah saatnya kita kembalikan kemerdekaan negeri ini menjadi negeri yang merdeka sejati, terbebas dari pengaruh asing baik segi politik, ekonomi hingga sosial budaya. Tunjukkan bahwa negeri yang masih menjunjung tinggi nilai ketimuran ini mampu menjadi negeri dengan kemerdekaan sejati hingga slogan ”Sekali merdeka tetap merdeka” bukan hanya menjadi slogan yang diungkapkan dalam perayaan HUT RI tiap tahunnya. Tentunya dengan meninggalkan Kapitalisme beserta liberalismenya kemudian beralih ke pengaturan Islam, aturan dari Zat Yang Maha Pencipta dan Pemngatur Manusia, Dialah Allah swt. Allah berfirman,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah:50)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05
Senin, 16 Sep 2019 - 19:59
Senin, 16 Sep 2019 - 19:57
Senin, 16 Sep 2019 - 19:53
Senin, 16 Sep 2019 - 19:46
Senin, 16 Sep 2019 - 19:44
Senin, 16 Sep 2019 - 19:41
Senin, 16 Sep 2019 - 19:39
Senin, 16 Sep 2019 - 19:37
Senin, 16 Sep 2019 - 19:35
Senin, 16 Sep 2019 - 19:32