Sejuta Puisi Penyair Facebook, Antara Mimpi dan Autopi

Oleh : Warih W Subekti*)

Saya sadar betul sejak melontarkan ide 'Parade Puisi Penyair Facebook, Mendobrak Sastra Indonesia' , akan muncul beragam tanggapan yang optimis maupun pesimis, yang mendukung maupun yang skeptis. Berbagai komentar datang ada juga yang serius ada yang biasa-biasa saja, untuk yang serius ini perlu kita tanggapi secara serius pula, komentar menarik datang dari Pakar Tesaurus Indonesia Eko Endarmoko, dia sampaikan dengan gaya bahasa yang komunikatif dan ada muatan primordialisme atau sentimen kedaerahan disana, " dengan sebutan Pak De, Kenapa mesti ndobrak?", begitu bunyi komentarnya, dalam cultur jawa yang saya pahami, tentu tindakan 'ndobrak' ini sesuatu yang tdak sopan dan melanggar keadaban umum, tapi tak sejauh itu, kata mendobrak dipakai sebagai elemen penggerak sebab ini sebuah gerakan yang tak menafikan akan spirit didalamnya.

Semula akan saya pakai istilah lain yakni 'Menggugat' tapi kedengarannya kok kurang tajam, salah apa dengan sastra indonesia kok digugat?, demikian juga kenapa sastra indonesia kok didobrak?, Saya rasa tanggapan saya untuk pemakain istilah 'mendobrak' sudah cukup, selanjutnya saya tanggapi hal yang terkait nilai-nilai estetik dari puisi para penyair facebook, komentar muncul dari Penyair Senior Remmy Novaris DM, yang mempertanyakan "jangan asal bilang mendobrak, tanpa dahulu dirumuskan konsep dari penyair facebook itu, dia bilang karakteristik penyair facebook sudah dia rumuskan, ini dia ciri-ciri penyair facebook menurut Remmy

1. Status puisi di jawab dengan puisi oleh penulis lainnya. Contoh kasus, ketika mbak Nunung menulis puisi Enggelin, kemudian mendapatkan jawaban dengan puisi oleh teman-teman lainnya.

2. Tidak berbatas usia. Jika pada forum-forum puisi formal dibataskan pada usia, maka pada penyair-penyair facebook tidak mengenal batas usia.

3. Bukan hanya terdiri dari para sastrawan tapi juga lapisan-lapisan kelas sosial masyarakat.

4. Ini yang belum ditemukan: estetikanya. Kalau ini bisa ditemukan, khususnya cirinya, baru kita bisa angkat kepermukaan dengan tak terbantahkan.

Terkait soal estetik dari penyair facebook yang menjadi perhatian dia, dan dia meminta untuk dirumuskan menjadi konsep yang jelas, " tolong dirumuskan dahulu estetikanya",  paparnya

Saya sadar betul soal estetik ini bukan persoalan yang mudah dan sepele, tapi dari amatan saya selama tiga tahun belakangan ini, saya nilai para penyair facebook punya daya estetik yang tinggi dan mumpuni, kita bisa ambil beberapa penyair facebook yang eksis dan produktif, misal Perempuan Penyair dari Bali Nunung Noor El Niel untuk menyebut salah satunya dan bila media cetak menjadi ukuran estetik penyair facebook tentu kriteria ini bisa dan mudah dilampauinya.
Di dalam Group Sastra Kumandang Sastra Semarang dimana saya pernah menjadi admin disana, saya melihat banyak potensi-potensi para penyair facebook, dan betapa dimanisnya mereka berkarya baik secara individu maupun kolaborasi, billa saya menyebut nama tentu ada beberapa yang kemudian tampil dikancah kesusasteraan indonesia dengan buku kumpulan puisinya. Kita masih bisa menyebut beberapa lagi group sastra yang sangat dinamis mengadakan diskusi tiap minggunya membahas karya para anggotanya dimoderatori oleh admin dan ini sebuah bentuk pembelajaran sekaligus sosialisasi sastra yang menjangkau lampisan masyarakat secara luas di berbagai stara masyarakat yang menjadi anggota dalam group sastra itu.

Banyak harapan juga impian ke depan dengan gagasan itu, saya tak muluk-muluk akan tetapi hanya ingin menyuarakan kegelisahan kawan-kawan penyair facebook di kancah sastra dan kesusasteraan indonesia,biar keberadaan mereka kalau tidak didengar, ya dilirik sebab sastra facebook saat ini menurut saya bukan kegiatan iseng pengisi waktu senggang, tapi sesuatu yang serius dan dilakukan dengan segenap kesungguhan.

Adanya group sastra di jejaring sosial facebook yang jumlahnya puluhan bisa ratusan, dan mereka masih ada turunannya semacan Group NewHaiku, Puisi Sonian, dll, tentu keberadaan meeka tak bisa kita kesampingkan begitu saja, maraknya panggung-panngung kesenian dan kebudayaan yang rutin diselenggarakan oleh kawan-kawan Sastra Reboan, dengan pentas baca puisi, musik dan diskusi hingga saat ini mencapai tahun yang ke 7 tentu bukan suatu yang kebetulan akan tetapi sesuatu yang dirancang, digarap dan dilaksanakan secara serius bukan asal-asalan, Salam..

________________________________________________________________

Warih W Subekti, Praktisi media online, penggagas "Parade Sejuta Puisi Penyair Facebook, Menggugat Sastra Indonesia" ((K)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...