RRC, Indonesia dan Jet Tempur buatan Rusia: Sukhoi-35

Bagi Cina (Tiongkok), keputusan TNI-AU membeli jet tempur Sukhoi-35 ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Cina juga mengandalkan Sukhoi, dan teknologi Rusia di dalam pesawat tempur buatannya.

Kini Indonesia dan Cina sama-sama menanti kehadiran puluhan pesawat tempur tercanggih buatan Rusia Sukhoi-35 yang kabarnya setara dengan F-35 buatan Amerika. Cina memesan 24 unit, sedangkan Indonesia 16.

Maka jangan heran bila pasukan udara Indonesia dan Cina menjadi pasangan paling serasi untuk bekerja sama dan sangat berbahaya bagi lawan. Australia dan Singapura, yang merupakan benteng militer Barat di Asia Tenggara dan Pasifik, meyadari bahaya tersebut sehingga menambah kekuatan udaranya dengan sejumlah jet tempur mutakhir buatan Amerika.

Alasan Indonesia memilih Su-35, selain karena kecanggihannya, karena Indonesia sudah memiliki dua skuadron Shukoi. Yaitu skuadron Su-29, dan Su-30. Dengan mengandalkan skuadron tempur yang dibuat oleh satu pabrik, menurut para petinggi TNI-AU, perawatan jadi lebih mudah murah.

Cina telah memiliki 148 jet tempur Sukhoi, yang terdiri dari 75 pesawat Su-27, dan 73 SU-30MKK. Selain itu, Cina memiliki 441 jet tempur yang seluruhnya mengandalkan teknologi Rusia. Bahkan 421 jet tempur buatan sendiri yang sangat diandalkan oleh China, yaitu Jian-8, Jian-1, dan Jian-16 memakai mesin buatan Sukhoi.

Cina juga sangat tergantung pada Rusia di kapal-kapal perang yang diklaim sebagai buatan dalam negeri. Berkat teknologi Rusia, armada tempur Cina dilengkapi dengan misil jarak jauh berketepatan tinggi. Armada ini juga dilengkapi dengan penangkal serangan udara dan misil jarak jauh mutakhir sehingga dinilai kian mendekati kekuatan armada tempur Amerika di Asia.

Rusia dan Cina juga telah menawarkan kerjasama di bidang pertahanan laut. Mungkin mereka merasa Indonesia berada dalam fron yang sama karena dianggap tengah menggusur Barat secara sistematik dari proyek-proyek pembangunan infrastuktur dan mengggantikannya dengan Cina.

Sedangkan Rusia bermasalah dengan Barat karena invasi militer di Ukraina. Sementara itu Cina dianggap sebagai biang keladi memanasnya situasi di Laut Cina Selatan, dan mengancam pengaruh ekonomi dan politik Barat di negara-negara sedang berkembbang termasuk Indonesia.

Maka, bila Angkatan udara Cina dan TNI-AU sama-sama memilih Sukhoi, tentu bukan tidak disengaja. Demikian pula bila nanti armada tempur Indonesia mengandalkan teknologi Rusia. Hal ini tentu terkait dengan makin mesranya hubungan ekonomi Indonesia-Cina di bawah kepemimpinan presiden Jokowi. Dalam arti, memiliki mesin-mesin perang yang kompatibel bisa membangun kerjasama militer lebih ampuh. Dengan demikian perlindungan terhadap kepentingan Cina di Indonesia bisa lebih mantap, demikian pula sebaliknya.

Apalagi sekarang ini hubungan antara Cina dengan Amerika dan para sobatnya di Asia Timur dan Tenggara (Filipina, Malaysia, Brunei, dan Vietnam) sedang memanas gara-gara Cina nekat melakukan reklamasi di kepulauan Spratly di ‘perairan internasional’ di Laut Cina Selatan. Reklamasi ini dicurigai oleh Amerika dan para tetangga Indonesia akan dikembangkan menjadi basis militer sehingga mengancam kebebasan berlayar di Laut Cina Selatan.

Namun menteri Hankam Ryamirzard Ryacudu dan panglima TNI Gatot Nurmantyo telah menyatakan tidak berpihak pada pihak manapun. Ryamirzard bahkan mengaku percaya bahwa Cina bisa diandalkan karena kata-katanya bisa dipegang. Cina, menurut Ryamirzard, tak pernah berniat melakukan provokasi kepada siapapun.

Mengenai pengiriman 7 kapal perang ke laut Natuna Oktober lalu, setelah ada kabar tentang penerobosan oleh kapal selam Cina, Ryamirzard menyatakan bahwa “itu hanya patroli biasa.” Kalau bertemu dengan kapal asing, armada RI tak akan melakukan tindakan agresif melainkan hanya melambaikan tangan pertanda persahabatan.

Peningkatan hubungan ekonomi dan militer Indonesia tampaknya memang sulit dihindari karena pemerintah tampaknya memilih masuk dalam gerbong Cina untuk menghadapi persaingan global. Amerika dan para sekutunya seperti Australia, Kanada, Jepang, dan Korea Selatan telah melahirkan blok ekonomi Trans-Pacific Partnership yang menguasai sekitar 45% PDB dunia.

Untuk menandingi, Cina menggunakan konsep Jalur Sutra Modern untuk menggalang dukungan dari negara non-TPP. Cina juga berupaya mengikat mereka melalui AIIB, yang dibentuk untuk menyaingi lembaga-lembaga multilaeral yang ada dan dikuasai Barat seperti ADB, dan Bank Dunia.

Bila melihat demikian besarnya ketergantungan bisnis para papan teratas, yang sangat tergantung pada kredit dari bank-bank BUMN Cina, bulan-madu Indonesia-Cina tampaknya bakal makin sulit dihentikan. Bersama Rusia, mereka mungkin bahkan makin saling kasmaran meski perekonomian sedang lesu berat.

Mungkin mereka mau membuktikan bisa membangun sebuah segitiga maut yang bisa melumpuhkan semua ancaman.(Praginanto/Indonesian review.com)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...