19 April 2019

'Rommy Efek' Masih Berlanjut: Khofifah dan Lukman Hakim Syaifudin Terdampak

Oleh :  Nasrudin Joha

Sudah dapat diduga, Rommy tidak bermental seperti anggota Yakuza Jepang, atau paling tidak seperti sindikat Clan Triad di China. Rommy adalah OKB (Orang Kaya Baru) yang sulit beradaptasi dengan kesempitan hidup.

Awalnya, penulis geram ingin menulis ihwal disebutnya kemenpora menerima duit 1,5 M, pada kasus yang menjerat Fuad Hamidy. Keterangan saksi Suradi yang dirangkum dalam dakwaan jaksa KPK ini membuat publik heboh.

Tapi, nampaknya penulis lebih tertarik menulis ihwal kisah Rommy dulu. Kisah Rommy lebih dramatis dan mengharu biru. Soal Imam Nahrawi ? Pada saatnya juga akan masuk redaksi politik Nasrudin Joha. Sabar saja.

Oke, kembali ke laptop. Baru beberapa hari jadi tahanan KPK, Rommy ngeluh kesehatan, tidak bisa tidur, ventilasi tahanan kurang nyaman. Rommy belum merasakan menjadi tahanan dalam kasus tindak pidana umum, pasti mabok dia. Tahanan KPK, itu termasuk tahanan dengan kualitas layanan dan fasilitas super nyaman.

Coba Rommy menjadi tahanan seperti Dani, membaur dengan tahanan tipidum lain nya. Bisa mencret dia. 

Yang paling bisa ditebak, seperti awal tulisan artikel ini, Rommy tidak bermental seperti anggota Yakuza Jepang, atau paling tidak seperti sindikat Clan Triad di China. Rommy, baru intro saja sudah 'NGEREF' menyanyikan lagu tabu bagi beberapa koleganya.

Rommy bukan seorang mafia tulen, yang siap mati sendiri di penjara, atau siap dijepit jempol kakinya dengan ujung kursi yang diduduki petugas dengan berat badan tinggi, tidak nyengir kesakitan, dan tetap bungkam. Kalaupun keluar kata, pasti dari mulutnya hanya keluar kata 'saya melakukan kejahatan seorang diri'.

Yah, baru intro lagu Rommy sudah berteriak menyebut nama Khofifah dan Menag. Menurut Rommy, dia hanya sekedar menyampaikan aspirasi. Terlebih, Haris Hasanuddin sebelumnya direkomedasikan salah satunya oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Menyebut khofifah 'merekomendasikan' Haris Hasanudin secara hukum memang belum bernilai apa-apa. Keterangan ini menyendiri. Jika Haris dan Khofifah ingkar, pernyataan Rommy ini tidak bernilai.

Hanya saja secara politik, pernyataan Rommy ini tamparan keras bagi muka Gubernur Jatim. Rommy sebenarnya, bisa saja mengambil alih tanggung jawab dengan menyatakan dirinya hanya meneruskan keinginan Haris kepada Kemenag yang punya kewenangan. Tanpa menyebut Khofifah.

Menyeret Khofifah pada kasus a Quo, menunjukan Rommy bukanlah 'mafioso sejati' atau boleh jadi Rommy memiliki target politik. Apa itu ? Target untuk mengajak semua yang terlibat untuk bersama-sama main kartu di Rutan KPK, menjadi tersangka KPK.

Karakter mafia pemula, itu umumnya tidak mau kedinginan sendirian. Rommy bisa saja sedang berusaha mencari teman untuk ikut bertanggung jawab seperti dirinya. Siapapun yang makan nangka, Rommy ingin berbagi getahnya.

Adapun kepada Lukman, meskipun Lukman adakah kader PPP bawahan Rommy, nyatanya itu tak membuat Rommy menyembunyikan peran kemenag. Bahkan, Rommy 'kontras' menyebut kemenag yang memiliki kewenangan. Dia, mengaku hanya 'calo' yang meneruskan aspirasi.

Jika ditilik dari nalar hukum, kasus 'jual beli jabatan di kemenag ini' tentu akan menyeret kemenag selaku pihak yang memiliki kewenangan. Bisa Dirjen atau bahkan menterinya langsung.

Namun, melihat not balok yang dinyanyikan Rommy, memperhatikan pula temuan 180 juta dan US$  300.000 diruang Menag, bisa dipastikan eksekusi jual beli jabatan itu ditangani langsung oleh Menag.

Berulang kali politisi PPP menyebut duit temuan KPK adalah honor pribadi Menag, namun KPK justru mengkonfirmasi temuan duit itu masih terkait kasus Rommy. Jadi jelas kan konklusinya ? Menag, diduga kuat terlibat.

Seruan publik agar Menag mundur sudah nyaring digulirkan. Bahkan, perwakilan tokoh dan lembaga kredibel mengagaungkan seruan yang sama. 

Jokowi sendiri, tidak mungkin menolak opsi memecat Menag setelah nanti ditetapkan sebagai tersangka. Jika TKN jeli, tentu koalisi Jokowi akan meminta Menag mundur sejak dini, agar Rommy efek tidak merembet lebih jauh pada elektabilitas Jokowi.

Jika nanti, Menag terbukti terlibat dan ditetapkan tersangka, sementara eksekusi Menag harus melalui pemecatan Jokowi, bisa dipastikan publik akan mengaitkan perilaku Menag ini dengan eksistensi koalisi Jokowi. Dan ini, bisa menambah derita dan nestapa hebat bagi elektabilitas Jokowi. Semoga saja. [].

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...