20 June 2018

Resensi: Mengupayakan Keseimbangan dalam Hidup Kaum Tarekat

Judul Buku     : Tarekat Petani (Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal)
Penulis            : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si
Penerbit         : LKiS
Cetakan          : 2013
Tebal              : xiv+236 halaman

Resentator     : Arif Khoirudin

 

Keberhasilan islam menjadi agama terbesar di Indonesia, khususnya di Jawa tak terlepas dari pola penyebarannya. Sebagai agama yang datang belakangan, islam memilih menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat, dari pada harus berkonfrontasi secara fisik.
 
Langkah tersebut terbukti manjur, ajaran Hindhu-Budha yang sebelumnya dipeluk mayoritas masyarakat selama berabad-abad, mulai tergeser oleh keberadaan islam. Meskipun demikian, kebudayaan yang telah mengakar kuat itu, tak mudah dirubah. Misalnya, kebiasaan memberi sesaji (selamatan) kepada leluhur atawa tempat tertentu yang dianggap keramat
 
Supaya tak terjadi benturan nilai, penyebar agama islam khususnya wali songo, berusaha mempraktikkan islam menurut konteks kebudayaan dan cara pandang yang dianut orang jawa. Kontekstualisasi itulah, yang menjadikan islam mudah diterima masyarakat setempat, tanpa menimbulkan gejolak sosial.
 
Prinsip kebudayaan jawa yang mengutamakan kehidupan harmoni dan slamet, berbanding lurus dengan ajaran islam yang disampaikan wali songo melalui tarekat. Kedua hal itu mengajarkan ketenangan batiniah, keharmonisan hubungan dengan alam semesta dan kedekatan hati dengan sang khaliq.
 
Tarekat dan budaya jawa tidak berada dalam posisi berlawanan. Justru, keduanya bersifat simbiosis-mutualistik sehingga membentuk budaya khas, yaitu agama kaum sufi (tarekat).
 
Maka tak mengherankan sejak abad ke-16 dan 17, tarekat telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat nusantara. Tarekat yang berkembang saat itu antara lain tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Syattariyah, Khalwatiyah, Samaniyah dan Alawiyah. (hlm. 25)
 
Corak kehidupan sufi (terekat) itulah yang mewarnai perjalanan masuknya islam di nusantara, khususnya jawa. Hal itu berimplikasi terhadap beragamnya praktik keagamaan masyarakat. Pasalnya, tarekat merupakan agama dalam coraknya yang melokal.
 
Tarekat Syattariyah Kuanyar
Karya Prof Dr H Nur Syam M.Si yang berjudul “Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal” ini, berusaha menggambarkan kehidupan penganut tarekat syattariyah. Sebagai sebuah penelitian, buku ini mengambil lokasi di Desa Kuanyar Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
 
Tarekat Syattariyah awalnya berkembang di Baghdad melalui jalur Ahmad Syathori dan dikembangkan Ahmad Qusyasyi. Tarekat ini berkembang di nusantara melalui jalur Abdurrauf al-Sinkili di Aceh. Dari Sumatera, tarekat ini berkembang ke Jawa, Banten, Jawa Tengah dan Timur. (hlm. 72)
 
Berdasarkan kajian buku ini, silsilah tarekat syattariyah di Kuanyar tidak memiliki genealogi yang jelas. Jalur pengabsahannya hanya sampai kepada Kiai Murtadlo yang dinisbahkan sebagai cicit Syaikh Mutamakin. Urutannya adalah dari Syaikh Kiai Murtadlo, ke Kiai Abdurahman, Bangle, Kiai Jananim (w. 1918), Kiai Abdul Hadi (w. 1956), Kiai Syihabuddin, Kuanyar.
 
Tarekat ini mulai berkembang di Kuanyar sekitar tahun 1880-an, ketika beberapa orang dari Kuanyar mengaji ke Bangle. Di sana mereka berguru kepada Kiai Abdurrahman yang merupakan penganut tarekat syattariyah.
 
Ditinjau dari afiliasi keagamaan, masyarakat Kuanyar terbagi menjadi dua golongan. Mereka terpilah sebagai penganut Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dari NU terdiri dari anggota tarekat dan NU. Tentu diantara mereka juga ada yang bisa dikatagorikan sebagai abangan. (hlm. 43)
 
Sebagai daerah pertanian, mayoritas penduduk Kuanyar berprofesi sebagai petani. Kebanyakan dari mereka adalah penganut tarekat syattariyah. Dalam buku ini dibahas bagaimana kehidupan religus-sosial mereka sebagai petani dan penganut tarekat. Untuk memperjelas pembahasan, penulis membaginya menjadi lima golongan. Yaitu, golongan petani pedagang, petani semi penganggur, petani penganggur, petani dan penjual jajan, serta petani dan pamong desa.
 
Dari pembagian itu, dapat diketahui perbedaan cara pandang antar masing-masing golongan dalam menjalani hidup sebagai penganut tarekat. Misalnya, golongan petani penganggur yang cenderung pasrah total dalam menjalani hidup. Hal itu sangat berbeda bagi petani pedagang yang lebih menempatkan ikhtiar dan tawakal dalam posisi seimbang.
 
Keseimbangan Hidup
Dalam menjalani kehidupan agama, penganut tarekat melakukan upacara ketarekatan secara sistematis dan terstruktur melalui bimbingan intensif dari mursyidnya. Sebelumnya, mereka harus melaksanakan puasa mutih selama beberapa hari. Setelah itu, mereka akan dibaiat sebagai pertanda telah menjadi anggota baru tarekat.
 
Untuk menjaga kemurnian hati, penganut tarekat rutin mengikuti pengajian, tawajuhan  dan wirid. Secara umum, praktik ibadah mereka lebih intens dibandingkan dengan umat islam pada umumnya. Salah satunya bisa dilihat dari pelaksanaan ibadah sunnah yang disetarakan dengan ibadah wajib.
 
Buku ini ingin memperlihatkan, penganut tarekat bukanlah orang yang hidup dalam dunianya sendiri. Melainkan individu yang hidup dalam dunia sosialnya. Selain mengikuti kegiatan tarekat, mereka juga mendatangi sambatan, aktif dikegiatan sosial bahkan terlibat dalam kegiatan ekonomi yang profan.
 
Bagi penganut tarekat, semua kegiatan yang dilakukan secara ikhlas karena Allah adalah amal ibadah. Tujuan mereka dalam kegiatan sosial adalah untuk memeroleh keserasian antara wirid dan amal sholeh.
 
Penulis lewat buku ini mampu memberikan perspektif baru, karena membahas dunia kaum tarekat sehari-sehari. Sedangkan, banyak ahli lebih tertarik melihat tarekat dari sisi politik. Para pembaca, akan disuguhkan dengan kajian yang detail karena disertai dialog yang terjadi antara penulis dan narasumber. Akhirnya, semoga lewat buku ini idealitas hidup sebagai muslim akan tercipta dengan menempatkan hablum minallah seimbang dengan hablum minannaas. 
 
Arif Khoirudin, Warga Godong Grobogan
Category: 

Berita Terkait

Loading...