21 August 2018

Renungan Pasca-Gempa Bumi di DPR RI: Dan, Atheis pun (Tiba-tiba) Bertuhan

TEPAT pukul 13.34 tadi siang, ribuan orang di DPR tiba-tiba panik. Penyebabnya tak lain adalah gempa yang terjadi di Lebak Banten dengan kekuatan 6,4 Skala Richter.

Gempa ini terasa begitu kuat. Lantai 17 DPR, tempat saya mengais rezeki, juga hingga bergoyang, akibat gempa ini. Maka, tak terelakkan orang-orang di DPR, terutama di lantai 17 begitu panik dan berusaha berlarian untuk segera meninggalkan gedung Wakil Rakyat itu.

Kepanikan itu wajar, karena peristiwa tersebut boleh dibilang mempertaruhkan nyawa. Gempa yang berkekuatan tinggi akan dapat merontokkan gedung pencakar langit sekalipun, termasuk juga gedung DPR.

Akibat rasa panik itu semua orang segera bereaksi. Tentu dengan kadar respon masing-masing. Ada yang begitu panik hingga teriak histeris, ada pula yang lebih tenang. Ada yang berlari kencang melewati tangga darurat gedung, ada pula yang memilih berjalan pelan. Begitu pun dari lidah mereka, ada yang hanya mengeluarkan teriakan-teriakan, ada pula yang sambil mengagungkan nama Allah, dengan menyebut asma-Nya, seperti tasbih, istighfar, takbir, termasuk juga sholawat kepada Nabi.

Dalam kondisi demikian, semua orang ingin menumpahkan perasaannya kepada Tuhan, semua tiba-tiba menyebut nama Tuhan. Mereka yang hari-harinya dekat dengan Tuhan atau juga mereka yang jauh dari Tuhan dan shalat pun jarang, tiba-tiba segera ingat Tuhan.

Mereka tiba-tiba kembali kepada keagungan Tuhan. Dan, bahkan atheis pun juga tiba-tiba mencari tempat tambatan hati sekaligus sandaran hati untuk melepas kepanikannya. Dari alam bawah sadar mereka, tiba-tiba kata Tuhan pun terlontar dari lisan mereka.

Inilah sejatinya realitas kehidupan manusia, bahwa tak seorang pun di belahan dunia ini yang bisa benar-benar meninggalkan Tuhan. Bahkan seorang atheis yang menyatakan diri tidak bertuhan atau mengikuti arus pemikiran Nietzsche dengan slogan populernya, “God is dead. God remains dead” (Tuhan telah mati, Tuhan tetap mati), sebenarnya mereka tetaplah bertahan. Ada kerinduan juga dalam hati mereka terhadap Sang Pencipta.

Kebertuhanan mereka (meskipun terlihat secara spontan) membenarkan tentang adanya perjanjian primordial manusia dengan Tuhannya ketika masih dalam zaman Azali ketika manusia ditanya “Alastu birabbikum, qaaluu balaa syahidnaa” (Apakah Aku Tuhanmu? Mereka bilang: Kami bersaksi).

Perjanjian ini menyuratkan bahwa setiap manusia dari sejak dalam rahim ibundanya sudah menyatakan diri bertuhan. Maka, reaksi kebertuhanan itu terlihat begitu nyata ketika manusia dilanda kepanikan dan ketika mereka sudah tak mampu lagi bersandar pada rasionalitasnya.

Reaksi ini sebenarnya merupakan sifat manusia yang hanief dan selalu condong pada suara hati nurani (shautu adh-dhamiir). Sebab, sejatinya itulah suara Tuhan yang (mestinya) selalu menjadi rujukan bagi perjalanan hidup manusia. Dengan demikian, pertanyaannya, masihkah kita akan meninggalkan Tuhan di saat kita lagi lapang dan tak dilanda kepanikan seperti saat ini?

Oleh: Moh. Ilyas
Ruang 1745 Nusantara I DPR, Jakarta, 23/1/2018
Pukul 15.10 WIB

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...

Berita Terkait