Rekonsiliasi

Oleh Christanto Wibisono

 

Orientasi saya setelah satu generasi tragedi Mei (1998-2021) adalah rekonsiliasi dan transformasi nasional Indonesia memaafkan tragedi masa lalu tapi tidak melupakan forgive but not forget kata pemenang Nobel Nelson Mandela atas penistaan thd dirinya oleh sipir penjara rezim apartheid.  Yang kita usahakan sekarang adalah mencegah terulangnya  tragedi perang saudara dan perang sara, dalam sejarah geopolitik kita.

Sejak Geger Pecinan 1740, kerusuhan Kudus 1918 , persekusi China Benteng 1946 sehingga Pem Syahrir mengangkat Mr Tan Po Goan sebagai Menteri Negara untuk mendukung posisi RI mencari pengakuan Sidang Dewan Keamanan PBB bahwa peristiwa Tangerang tidak dibenarkan olehPemerintah RI. Selanjutnya memang masih terus terjadi gesekan kebijakan dan aksi kekerasan terhadap kelompok etnis Tionghoa dengan pelbagai affirmative axtion spt Program Benteng sejak 1950, Assatisme Kensi 1956, PP10 larangan pedagang China di Kabupaten memicu tertembaknya dua wanita Tionghoa dan 100.000 orang Tionghoa kembali ke RRT 1960.

Masih di era Bung Karno, meletus insiden rasial 10 Mei 1963 di Bandung yang memakan korban ang PPKI drs Yap Tjwan Bing yang mobil dan rumahnya dijarah, anaknya autis semakin parah. Bung Karno mengangkat Oei Tjoe Tat dan 2 orang Tionghoa masuk kabinet 100 menteri. 1965 perang saudara 1965 tentu saja makan korban jutaan warga tpribumi ermasuk non pribumi. Terjadi penajaman konflik etnis dan kebijakan Orde Baru mengkarantina Tionghoa hTionghoa yang lahir 1928 sebagai bagian dari Sumpah Pemuda, diganti Tjina pada 1967 suatu derogatory term mirip nigger di USA.

Maka meledak Mei 1998 dimana keluarga saya menjadi salah satu dari korban tragedi pembakaran penjarahan rumah di Pantai Indah Kapuk. Hingga detik ini tidak ada permintaan maaf atas kegagalan pemerintah Indonesia mencegah atau barangkali malah membiarkan demosida itu terjadi di abad modern ini. Maka kita semua seyogyanya mengelola kebijakan dengan arif setelah lahrnya 2 UU ttg Kewarganegaraan dan UU Anti Diskriminasi Rasial, untuk tidak mudah melonatarkan isu "sara" yang dapat menjadi predator ganas bagaikan viru Covid, tapi berupa virus sara.

Dalam konteks itulah saya bersedia menjadi pembicara pada acara di Semarang untuk menutup buku tragedi Mei 1998 dan rentetan tragedi berdarah lain yang seharusnya kita kubur bersama demi lahirnya Indonesia Modern 2045 yang unggulan dan andalan dalam kompetisimeritokratis antar bangsa dalam transformasi geopolitik dari Homo Sapiens yang terpapar birus sara menuju Homo Dejus, yang menghormati sesama manusia agar bebas dari diskriminasi sara yang dimanapun selalu merupakan sumber malapetaka bikinan manusia yang makan korban bagaikan pandemi. Itulah semangat saya menyikapi tragedi Mei 1998 yang diperingati di Semarang dgn sinci utk Ita Martadinata, salahseorang korban tragedi Mei 1998.

Semoga Tuhan mengampuni sebab hanya Tuhan mempunyai prerogative mengampuni manusia berdosa yang bertobat . Jakarta 2 Mei 2021 Hari Pendidikan Nasional merenung Ki Hajar Dewantara bahwa mendidik itu bukan cuma wacana, tapi menjadi panutan dan teladan dalam perbuatan sehar hari.

Penyakit terbesar dari masyarakat sekarang adalah kemunafikan, tidak satunya kata dan perbuatan termasuk pelaksanaann penerapan ideologi Pancasila sebagai way of live dan behaviour sehari hari. 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...