20 October 2019

Puasa, Perubahan dan KeIndonesiaan

Oleh: Dian AK
Women Movement Institute

Memasuki pekan pertama bulan Ramadhan, fenomena tutup aurat mulai digandrungi rakyat Indonesia terutama kalangan artis. Tak hanya itu fenomena ramaikan masjid juga tak ketinggalan baik saat menjelang berbuka hingga tarawih. Fenomena ini hadir bukan tanpa sebab, namun keberadaan Ramadhan yang sangat dirindukan dan membawa pahala yang berlimpah inilah pemicunya. Walhasil geliat ketaatan pada syariah ini akan muncul dalam diri individu-individu muslim tatkala kedatangan tamu Ramadhan ini.

Hanya saja aktivitas ketaatan di bulan Ramadhan ini agaknya terganggu dengan adanya sentimen terhadap penceramah tertentu dan pengkhususan kebolehan beberapa penceramah saja. Tak sampai di situ adanya penjagaan ketat oleh pihak berwajib saat pelaksanaan sholat terawih hingga kecurigaan yang besar pada setiap warga yang berhijab pasca peristiwa pengeboman 14 Mei lalu sangat menodai kesucian Ramadhan. Betapa tidak, di bulan suci ini Negara harusnya mensuport setiap individu warga untuk melakukan setiap aktivitas ketaatan bukan malah menjadikan warga semakin tak nyaman dan risih.

Agaknya situasi seperti ini semakin mengecilkan harapan Indonesia akan mengalami perubahan yaitu perubahan menuju negara yang taat syariah. Setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, kesalahpahaman terhadap syariah. Syariah masih dipandang sebelah mata hanya sebatas aturan ibadah saja, dan menafikan keberadaan syariah sebagai aturan politik dan negara. Paham sekulerisme inilah penyebab kesalahpahaman memahami hakekat syariah Islam. Masih ada penyamaan Islam dengan agama lain yang tak memiliki aturan dalam bernegara.

Kedua, ketakutan terhadap syariah Islam. Maraknya pencitraburukan syariah Islam dan framing-framing media yang menggambarkan syariah sebagai sesuatu yang menakutkan. Tak sedikit yang beranggapan bahwa hukum Islam atau aturan Islam akan mengekang kebebasan yang selama ini diagungkan. Keruntuhan liberalisme atau paham kebebasan ini tak akan dibiarkan, maka wajar apabila stigma negatif ini akan selalu dihadirkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung-jawab baik dalam skala nasional maupun internasional.

Ketiga, ketidakpercayaan terhadap syariah Islam. Dewasa ini tak ada satupun negara yang menerapkan syariah Islam secara total bukan Arab Saudi bukan pula Turki. Tak ada contoh riil yang mampu diindra saat ini dan menjadi percontohan negeri ini. Penerapan syariah Islam hanya ada dalam sejarah masa lalu. Masih ada ketidakpercayaan bahwa ini mampu diterapkan saat ini yang memiliki banyak perbedaan dengan masa lalu.

Faktor-faktor inilah yang menjadikan negeri ini alergi terhadap syariah secara menyeluruh, hanya syariah yang berkenaan dengan aturan ibadah saja yang diterima. Maka impossible Indonesia akan mengalami perubahan, untuk menerapkan syariah Islam ataupun memuliakannya. Apalagi moment bulan puasa ini hanya dijadikan perubahan sesaat merubah perilaku atau penampilan yang tak berbekas dan tak berpengaruh di bulan yang lain.

Fenomena ini pula akan menambah beban Indonesia sulit mengalami perubahan. Sekalipun mayoritas rakyat Indonesia mengakui bahwa aturan Allah pastilah yang terbaik, tak menjadikan syariah Allah ini dilirik untuk diterapkan. Padahal jika dibandingkan dengan Kapitalisme dan Sosialisme, aturan Islamlah juaranya. Tak satupun mengingkari bahwa syariah Islam pernah diterapkan selama 13 abad lamanya semenjak Nabi hijrah ke Madinah. Berbeda dengan dua sistem di atas yang tak selama itu diterapkan apalagi membawa kesejahteraan dan kemakmuran. Saat ini saja penerapan Kapitalisme menjadikan Indonesia sarang koruptor, mudah terjerat utang, terlebih ingin menyelamatkan dari kemiskinan yang ada malah lebih banyak lagi, walhasil rakyat menjadi lebih sengsara.

Maka perlu adanya second opinion, jika Kapitalisme telah nampak kebobrokannya maka sudah sewajarnya melirik aturan yang langsung dari Pencipta yaitu aturan Kekhilafahan. Sama halnya dengan Kapitalisme dan Sosialisme yang berawal dari wacana, maka kesempatan untuk diterapkan harusnya juga diberikan pada aturan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits ini. Sehingga mewujudkan perubahan Indonesia menjadi lebih baik lagi tak sekedar mimpi namun kenyataan yang akan terwujud.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...