19 November 2019

Prabowo Jangan Mau Ditunggangi AHY

Prabowo usianya sudah tidak muda lagi, 17-Oktober 2018 nanti 67 tahun. Dalam menapaki usia baru nanti, tidak mudah buat Prabowo untuk merayakannya, sebab ini tahun politik. Kado menuju usia baru, Prabowo sendiri merancangnya. 

Dalam rancangannya, kado itu berisi Prabowo sebagai Capres 2019.

Bicara kado identik dengan kejutan, untuk menjadi kejutan, kado harus di bungkus dengan rapi dan menarik. Disinilah masalahnya, soal bungkus kado yang bisa rapi dan menarik.

Bungkusan kado Capres Prabowo tidak cukup dengan "kertas" Gerindra yang satu warna. Prabowo banyak butuh warna, dan warna yang tersisa hanya PKS,PAN dan Demokrat. Untuk bisa mewujudkan kado Capres, UU mensyaratkat minimal 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional pemilu legislatif. Begitu kata undang- undang.

Sebenarnya bungkusan kado Capres kali ini tidak berbeda jauh dengan yang 2014 lalu. 
PKS, PAN yang menjadi bungkusan Kado Capres untuk Prabowo 2014, kali ini masih tawar menawar. 

Konon PKS, "kertasnya" yang berwarna kuning,Hitam dan putih semakin naik harganya. Harga itu belum termasuk minta jatah "kue" Wakil Presiden dan Menteri. Prabowo tentu semakin pusing, sudah minta mahar, jabatan pula (Wapres dan Menteri). Harga yang mahal itu tentu membuat PKS semakin sejahtera.

PAN,"kertasnya" yang berwarna Biru, sinar putih Matahari masih tawar menawar.Sampai sekarang belum memutuskan apakah masih menjadi bungkusan kado Capres Prabowo lagi atau ke kubu Jokowi? Masih ada sisa waktu dua hari untuk Prabowo untuk melobi PAN dan PKS

Sisa waktu dua hari ini, Prabowo dalam mencari "kertas" bungkusan kado Capres nya sangat ditentukan oleh harga yang ditawarkan serta konpensasi. Disini hukum pasar berlaku, barang yang langka dan sangat di butuhkan tentu harganya mahal. Pertanyaannya, sanggupkah Prabowo membeli? Jawabannya tergantung seberapa kuat logistik Prabowo yang sudah terkumpul, Hanya Prabowo dan Tim nya yang tau.

Prabowo menempatkan Soal logistik menjadi masalah utama dalam pencapresan kali ini. PKS dan PAN yang menjadi sahabat Prabowo tidak menjamin Prabowo dapat "kertas" bungkusan kado Capres dengan gratis. Di dua partai ini tidak ada pertimbangan sebagai sahabat senasib dan sepenanggungan soal situasi bangsa ini. Situasi makin tidak pasti.

Dalam situasi yang belum ada kepastian ,Prabowo tetap bertahan, sabar, setia dan loyal pada PAN dan PKS. Prinsip loyal, setia serta tidak mau berhianat dalam pertemanan adalah prinsip dasar Prabowo. 

Prabowo begitu sabar, kesabaran itu di perlihatkan ke publik, betapa intens nya Prabowo bertemu dengan elit dari dua partai ini. Mestinya komunikasi yang intens ini menjadi modal, tapi faktanya itu hanya bagian dari komunikasi politik semata. Komunikasi politik yang berujung mahar, jatah Wapres dan menteri tentu itu menjadi hambatan besar Prabowo. Soal menang atau kalah, belum tentu PKS dan PAN peduli.

Rakyat yang menginginkan perubahan berharap koalisi itu di bangun atas prinsip terkait nasib bangsa dan mendorong untuk perubahan Indonesia, yang di bicarakan adalah konsep dan gagasan. Jangan di balik logikanya, harus dominan logistik. Bahwa logistik sangat penting, iya. 

Prabowo juga harus menangkap peluang yang sampai saat ini belum muncul poros ketiga. Artinya harapan sebagian orang untuk perubahan akan tertuju kepadanya.

Setali tiga uang, dalam kemelut soal "kertas" kado tiket Capres, Prabowo menjalin komunikasi politik Demokrat. Demokrat yang kali ini tidak seperti kali lalu "netral". Kali ini harus blok dan ikut menentukan suksesi Capres- Cawapres. 

Dalam konteks Pilpres,terhitung 3 kali pertemuan yang di ketahui publik antara Prabowo dan SBY. Selebihnya pertemuan tertutup, plus pertemuan para makcomblang kedua partai. Dari ketiga pertemuan ini, lagi- lagi belum ada kesepakatan, bahwa SBY mengatakan "Prabowo sebagai Capres", mungkin juga janji logistik adalah bahasa politik agar tetap menjaga hubungan koalisi yang baru di bangun. 

Pernyataan SBY itu tidak gratis, ada harga yang harus di bayar oleh Prabowo, yaitu Prabowo harus menerima AHY sebagai Cawapres untuk pendampingnya.

Disini Prabowo harus memperhitungkan dengan matang siapa pendampingnya. Bila Prabowo menerima tawaran SBY agar AHY menjadi Cawapres nya karena pertimbangan logistik, mewakili suara milenial, itu sangat merugikan Prabowo sendiri.

Pilihan AHY hanya semata- mata dua alasan tadi, Logistik dan suara kaum mileniel tidak menjamin (logistik mengalir) dan tak menjamin kemenangan.

Buat SBY dan AHY sangat menguntungkan kalau sampai Prabowo memilih AHY. AHY yang usia politiknya masih muda, sudah naik level dari calon Gubernur ke Calon Wakil Presiden. Menang tentu bersyukur, kalah juga tidak rugi, toh targetnya sudah tercapai, yaitu menaikan level politik AHY dengan pertimbangan masih bisa bertarung untuk periode berikut, usia juga masih muda.

Disarankan Prabowo dan Gerindra jangan mau jadi kuda tunggangan untuk AHY yang hanya mau menaikan level politik. Modal Prabowo membangun Partai Gerindra yang sudah berumur 10 tahun dan menjadi partai 3 besar nasional, juga 25 tahun berkarir militer dengan pangkat Jendral, tidak sebanding dengan ambisi politik AHY yang hamya mau menaikkan level si Mayor? Ingat pak Prabowo, usia politik bapak sudah tua, ini kesempatan terakhir bapak.

Kesempatan ini harus di isi dengan niat perubahan,Prabowo harus menangkap suara- suara kegelisahan atas situasi sosial- ekonomi yang kurang memuaskan saat ini. Maka pilihlah wakil yang bisa menyelsaikan persoalan tersebut. 

Dan tentu "kertas" bungkusan kado sesungguhnya untuk ulang tahun 17- Oktober nanti adalah dari rakyat, yaitu kertas berwarna kepercayaan rakyat untuk perubahan Indonesia.

_________________

Oleh : Yos Nggarang, Sekjen Pergerakan Kedalautan Rakyat-PKR

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...