16 August 2018

Prabowo, Ghost Fleet dan Realita Bangsa

Oleh: Tb Ardi Januar

Prabowo kembali menjadi korban framing media dan buzzer tercela. Dia dituduh meramal Indonesia akan bubar pada 2030. Padahal, Prabowo hanya menyampaikan pesan dari para ahli strategis dan scenario writing di luar negeri.

Mei 2017 lalu saya pernah memposting pernyataan Prabowo tersebut. Dia mengajak semua anak Bangsa bersatu agar prediksi para ahli itu tak terbukti. Prabowo kembali menyinggung isu ini saat berpidato dihadapan kader Gerindra beberapa bulan lalu. Tak ada media yang mengutip atau netizen yang menyinggung pernyataan Prabowo tersebut.

Entah kenapa dan darimana asalnya, tiba-tiba ramai kabar Prabowo meramal Indonesia bubar di 2030. Media partisan dan pengamat bayaran menyerang. Banyak juga tokoh bergelar yang termakan isu dan berkomentar sinis. Salah satunya politisi kemarin sore, AHY.

Saya menduga, operasi ini sengaja dimunculkan dan dibesarkan. Tujuannya ada dua, degradasi nama Prabowo dan menutupi isu politik yang lebih besar. Sekali mendayung, dua tiga isu tertutupi.

Nama Prabowo kian dicintai publik. Perlahan banyak yang tersadarkan kualitas dan isi kepala dari mantan Danjen Kopassus ini. Bila tidak dihadang, namanya akan semakin berkibar dan para jagoannya di pilkada mendatang berpotensi akan menang. Gagal memberi predikat pelanggar HAM, mereka produksi predikat baru, yakni “sang peramal”.

Selain mendegradasi nama Prabowo, isu “Ghost Fleet” juga efektif untuk menutupi setumpuk persoalan yang tengah menghimpit negeri. Setidaknya ada tiga isu yang teralihkan.

Ketika Prabowo dihantam isu “Ghost Fleet”, di saat yang bersamaan, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengungkap fakta bahwa utang negara ini sudah mencapai angka Rp 7.000 triliun. Beban yang semakin berat untuk anak cucu kita ke depan. Sayang, kabar ini sunyi bak ditelan bumi.

Berita soal Prabowo dan analisa 2030 juga semakin digoreng dan diviralkan ketika Setya Novanto mengungkap fakta mengejutkan di persidangan kasus e-KTP. Dia menyebut Puan Maharani dan Pramono Anung menerima aliran dana masing-masing sebesar 500 ribu USD. Bila dalam kurs rupiah, jumlah tersebut cukup untuk mengajak tamasya orang sekampung.

Kendati keduanya membantah, tapi pengakuan dari Novanto ini kian mempertontontan kondisi para elit negeri yang dihantui budaya koruptif dan bancakan kekuasaan. Suasana semakin gaduh setelah Demokrat dan PDIP saling tuduh.

Satu fakta lagi yang beritanya tertutup oleh framing Prabowo adalah naiknya BBM jenis pertalite dari 7.600 menjadi 7.800 per liter. Entah ini kali keberapa pemerintah menaikkan harga BBM. Dan selalu kebijakan semacam ini dijalankan secara diam-diam. Tanpa sosialisasi dan pengumuman.

Sayang, ketiga persoalan Bangsa di atas terturup gaungnya oleh pidato Prabowo yang diutarakan jauh-jauh hari. Mereka yang sama sekali tak memahami persoalan strategis menilai Prabowo pesimistis. Padahal dua mantan Panglima TNI yakni Djoko Santoso dan Gatot Nurmantyo mengerti dan mengamini maksud dari Prabowo.

Publik kini tahu. Prabowo tidak menghilang tetapi ada di Hambalang. Saat politikus lain narsis di media massa, Prabowo malah fokus membaca. Saat politikus lain sibuk bicara pilkada, Prabowo justru berpikir memikirkan nasib Bangsa.

Prabowo tahu ucapannya diplintir. Prabowo tahu dirinya sedang dibully. Dia hanya tertawa dan tak berhenti membaca. Tidak marah-marah sambil melotot, tidak mengencangkan urat dan tidak mengancam akan membuka dosa orang lain.

Sing becik ketitik, sing olo ketoro

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...

Berita Terkait