22 July 2019

Pengamat Sosial Kemasyarakatan : Fondamen dari NKRI adalah Nasionalis-Religius, Tak Melibatkan NU dan Muhammadiyah masalah Serius ke depan bagi Jokowi

KONFRONTASI-Dalam sebuah percakapan Penyair dan Pengamat Sosial Kemasyarakatan Warih W Subekti mengingatkan bahwa fondasi dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Nasionalis-Religius ini yang menjadi filosofi dan spirit Fauonding Fathers mendirikan dan menata kehidupan berbangsa dan bernegara, alotnya kompromi-kompromi dilakukan oleh mereka dalam menata kemudian menegakkan keberlangsungan hidup kita sebagai bangsa di tengah-tengah pergaulan bangsa-bangsa di dunia, dan filosofi dan spirit itu yang saat ini diabaikan Kabinet Kerja Presiden Jokowi, ini tercemin dari tak diakomodasikannya NU dan Muhammadiyah dalam Pemerintahan Jokowi, demikian butir-butir pemikiran Warih yang disampaikan pada KONFRONTASI.

Lebih jauh Warih yang juga Peneliti di LSM Freedom Foundations Jakarta ini, mengingatkan pada Presiden Jokowi beserta Kabinet Kerja bahwa, saat Pilpres 2014 kemarin isu SARA sangat santer dihembuskan oleh kubu lawan dan ini menyangkut keberadaan Jokowi terkait dengan pemahamannya terhadap agama yang dianutnya yakni Islam dengan serbuan berbau SARA lewat Tabloid Obor Rakyat yang tersebar secara luas dan masif di pesantren dan kalangan santri di hampir seluruh jawa. Muhammadiyah dan NU sebagian tokohnya membela dan membentengi Jokowi atas serbuan itu dan Jokowi tetap eksis oleh terpaan badai SARA yang dihembuskan oleh Obor Rakyat.

Banyak kalangan memuji kesabaran dan kerendahan hati para tokoh Muhammadiyah dan juga NU, mereka bisa sabar dan menahan diri tidak reaktif menanggapi pengumuman menteri Kabinet Jokowi yang notabene tak mengakomodir kader-kadernya, tentu ini hanya semacam 'api dalam sekam' yang dikhawatirkan sewaktu-waktu akan muncul kepermukaan, pungkas Warih Jebolan FPMIPA UNNES Semarang ini.(Kf)

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...