Pemilu yang Mengenaskan

Oleh: Angga Trenggana

Kematian satu orang adalah tragedi, sementara kematian ribuan orang adalah statistik. Kata-kata diktator Uni Soviet Joseph Stalin patut direnungkan di tengah perhelatan kontestasi Pemilu 2019. 

Jumlah angka kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) selama Pemilu 2019, memang tak mencapai ribuan seperti kata Stalin. Hingga Selasa, 30 April 2019 jumlah petugas KPPS meninggal karena Pemilu mencapai 318 orang. Sementara, yang sakit sakit 2.232 orang. 

Namun, KPU hanya bisa mengucapkan prihatin dan memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan. KPU hanya mengukur kematian lewat data statistik. Tiap hari mereka memperbarui data petugas KPPS yang meninggal.

Upaya memberikan santunan, bolehlah diapresiasi. Tapi, besaran uang Rp36 juta untuk setiap petugas meninggal dunia, maksimal Rp30 juta untuk penyandang cacat, dan Rp16 juta untuk luka-luka, tidak akan mampu membayar duka keluarga yang ditinggalkan.


Siapa yang bertanggung jawab atas kematian ratusan orang? jelas KPU. 

Ya, sebagai penyelenggara pemilu, Arief Budiman dan kawan-kawan harusnya bisa mengantisipasi jatuhnya korban, sejak awal.

Proses penghitungan suara di sejumlah daerah yang bisa memakan waktu 24 jam, ditambah lagi dengan beban kerja yang memerlukan ketelitian, menjadi penyebab petugas kelelahan.

Selain beban fisik, tekanan psikologi juga dialami petugas KPPS di lapangan. Bentakan-bentakan dari saksi menjadi faktor yang memperburuk kondisi petugas kesehatan.

Dalam kasus ini KPU bisa disebut abai. KPU seharusnya melakukan evaluasi menyeluruh sedari tahapan Pemilu dimulai.

Misalnya, membatasi usia petugas KPPS maksimal 45 tahun. Bila proses penghitungan suara tak bisa dihentikan, sebaiknya dibikin sistem shift. Kemudian, libatkan petugas medis.

Itu yang harusnya dilakukan KPU sejak awal, bukannya hanya diam dan memberikan komentar prihatin setelah korban berjatuhan.

Kacaunya pelaksanaan Pemilu ini, harus menjadi bahan evaluasi DPR dan pemerintah baru yang terpilih. Buat sistem yang lebih baik agar kasus seperti Pemilu 2019tak terulang. Jangan lagi akorban jatuh dianggap semata-mata angka statistik. Setiap kematian adalah tragedi.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...