Pelarangan Bercadar, Apa Kabar dengan HAM?

Oleh: Dinda Citra Aprilia
Aktivis Mahasiswa Universitas Airlangga

Lagi dan lagi seolah tiada henti, polemik negeri ini kembali terjadi. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbanyak, pantaskah bila sebuah universitas Islam mengeluarkan surat keputusan tentang pelarangan bercadar untuk mahasiswa? Sungguh ironis, ketika penduduk mayoritas seolah tengah berada di negeri kafir sebagai minoritas. Setiap  gerak-gerik umat muslim yang mengarah ke arah kebangkitan selalu jadi sorotan dan ibadah yang sifatnya individual pun seolah tabu, hingga diperdebatkan mengharu-biru.

Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), di mana ketika seorang ataupun sekelompok orang melakukan suatu kebebasan yang menyimpang sekalipun, HAM adalah pelindung utama agar bebas dari hukuman. Contohnya gerakan LGBT yang dianggap wajar ketika berlindung dibalik HAM. Namun ketika seseorang ataupun sekelompok orang berusaha menerapkan hukum-hukum yang sejalan dengan Islam, HAM seketika bungkam dan hal ini semakin membuktikan bahwa keberpihakan terhadap sistem sekuler-demokrasi telah menghujam di negeri-negeri kaum muslimin sejak puluhan tahun silam. Hingga membuahkan berbagai agenda deradikalisasi, yang tanpa sadar membuat umat phobia dengan agamanya sendiri.

Bercadar bukanlah budaya yang diadopsi dari suatu negara tertentu dan bukan pula sesuatu yang identik dengan pelaku terorisme. Bercadar termasuk dalam ajaran Islam. Hanya saja karena sistem sekuler-demokrasi yang senantiasa mencitra-burukkan hal tersebut maka wajar bila masyarakat awam termakan dengan fitnah-fitnah keji yang membuat hukum-hukum Islam semakin tersisih.

Perlu diketahui bahwa wanita dalam pandangan Islam sangatlah istimewa sehingga peraturan menutup aurat diatur dengan demikian detail, termasuk peraturan bercadar. Di mana ulama empat madzhab telah bermufakat bahwa status hukum bercadar adalah antara wajib atau sunnah, bahkan meskipun ada ulama yang berpandangan mubah. Sehingga ketika seseorang memutuskan bahwa hukum bercadar itu wajib berdasarkan keyakinannya terhadap salah satu madzhab yang dianut, maka hal itu menjadi hukum syara’ (ibadah) yang mengikat baginya. Dan ketika ada pihak-pihak yang mengingkari sebuah perintah yang bermuatan hukum ibadah, maka sama halnya dengan menentang hukum Allah. Hukuman bagi orang-orang yang demikian ketika hari kiamat tiba adalah mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta lalu tak bisa berjalan ke arah kemenangan dan kebahagiaan. Lagi-lagi ini jelas merupakan suatu kriminalisasi terhadap Islam. Dan kebebasan atas nama HAM yang selama ini digaung-gaungkan langsung redup ketika hukum Islam yang dipojokkan.

Islam senantiasa memberikan solusi atas setiap permasalahan, tinggal bagaimana manusia mau atau tidak untuk mengambil hukum-hukum Allah secara keseluruhan lalu menerapkannya. Tak perlulah bersusah payah membuat Islam makin tersisih, karena seberapa pun usaha yang mereka lakukan untuk menekan kebangkitan umat Islam, maka sebanyak itu pula kami akan terus bangkit berkali-berkali. Tak peduli sekuat apapun kebangkitan tersebut coba diredam dengan kekuasaan yang mereka punya. Tak peduli si pemangku kekusasaan melarang peraturan-peraturan berbau Islam, alergi dengan Islam politik, bahkan pakaian seorang muslim pun dipermasalahkan dengan dalih terorisme yang mereka ciptakan. Hasil yang mereka harapkan: umat phobia dan enggan mengkaji Islam, keyakinan asasinya sendiri.

Maka ingatlah duhai penguasa! Selihai apapun  Anda menciptakan makar, maka tetaplah makar Allah yang kelak akan menang.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA