Pancasila Oh Pancasila, Desakralisasi? Masih Sakti?

Oleh: Nasrudin Joha

Pancasila itu tidak sakral, bahkan orang yang mengagungkan Pancasila sendiri yang mendesakralisasinya. Dahulu, dahulu kala pada zaman Orba, UUD 45 juga dipandang sakral. Pasca Reformasi, UUD cuma produk akal yang bisa diperdebatkan. Perdebatan mengenai UUD telah menghasilkan 4 (empat) kali amanden.

Pancasila nampaknya juga akan mengalami hal yang sama, diperdebatkan karena memang hanya produk akal. Pancasila tidak mampu memberi jawaban, atas adanya setumpuk problem yang mendera bangsa.

Pancasila, tidak berkutik manakala kekuatan politik secara telanjang melepaskan Timor Timur dari pangkuan ibu pertiwi. Pancasila juga tidak bertaji, manakala sengketa Sipadan dan Ligitan menyebabkan keduanya lepas dari NKRI.

NKRI sudah final ? Sepertinya tidak. NKRI terus berproses, bukan menambah wilayah tetapi terus melepaskan wilayah. Isu Papua merdeka, sampai saat ini tidak ada perhatian serius. Rezim yang gembar gembor Aku Pancasila, NKRI harga mati, nyatanya ciut nyali dan membisu ketika ditantang duel OPM.

Tetapi jika kritisme datang dari anak negeri, yang memiliki tafsir berbeda tentang aspirasi yang terbaik buat negeri, rezim aku Pancasila memburunya hingga ke lobang semut. Jurus kebencian dan SARA selalu dijadikan argumen perburuan.

Jika civitas kampus mengujar nalar kritis, tafsir merongrong NKRI, tafsir bertentangan dengan Pancasila, menjadi jampi-jampi ampuh untuk mempersekusi. Tidak ada hak atas pembelaan diri dan persamaan kedudukan dihadapan hukum. Proses kode etik dan kepegawaian hanya formalitas saja, kesimpulan dan keputusan sudah dipersiapkan, tinggal Teken pasca proses formalis.

Tangan-tangan kekuasaan menjulur masuk ke jantung-jantung area pemikiran, area intelektualitas, membelenggu dan memaksanya menyebarkan teori yang tidak pernah diuji secara akademis. Aku Pancasila, aku Indonesia, yang berbeda anti Pancasila, yang tidak setuju bertentangan dengan Pancasila.

Setiap urusan, jika sudah berhadapan dengan tafsir Pancasila, maka yang berkuasa yang paling digdaya. Rakyat kecil hanya punya mulut dan otak, sementara kekuasaan memiliki alat legitimasi. Tanpa otak, bosa sepihak memutus bersalah sekaligus menjatuhkan sanksi.

Deretan orang-orang yang mengaku 'Aku Pancasila' nyatanya juga tidak lebih dari para pengkhianat bangsa. Tersandung korupsi, terlibat narkoba, cacat wibawa dan moral, penjual aset bangsa, berutang dengan menjaminkan nasib masa depan anak cucu dan generasi bangsa, memburu para penganjur kebajikan, mengkriminalisasi ulama, membubarkan ormas Islam, menyerahkan aset umat kepada asing aseng, dan seterusnya...itulah rezim aku Pancasila.

Aneh juga, bahkan mereka yang duduk sebagai Brahmana Pancasila, menjadi pengarah kemudian berubah menjadi pembina Pancasila, ternyata tidak lebih dari kelas kaum sudra. Kelas masyarakat bawah yang belum selesai dengan urusan pribadi, sehingga perlu mencangkokan kebutuhan perut pada anggaran negara.

Ujaran bijak dan kata mutiara, berpadu membuat tafsir ndakik tentang Pancasila, rasanya menjadi hambar ketika melihat kelakuan. Dasar, kelakuan-kelakuan. Nuraninya mati, hatinya beku, tak mampu merasa apa yang rakyat derita.

Rezim 'Aku Pancasila' juga menorehkan preseden luar biasa menjelang hari kelahiran Pancasila. Memburu media, mengamuk, memukul, melakukan kekerasan dan intimidasi. Hanya karena junjungan dikritik, luar biasa. Bagaimana jika negeri ini terus dipimpin barisan Qurawa seperti ini ?

Memang benar, Pancasila tak lagi suci, tak lagi dianggap super, karena kelakuan orang yang mengagungkan Pancasila justru melecehkan Pancasila. Sering gunakan Tafsir suka hati untuk menuduh, menetapkan dan memberikan sanksi bagi elemen anak bangsa yang memiliki tafsir berbeda.

Negeri yang subur, kaya sumber daya, memiliki generasi yang pakar dalam berbagai bidang, nyatanya tidak memberikan buah kesejahteraan bagi rakyat. Rakyat hanya disuguhi BLT, beras miskin, kartu kartuan, dan permainan statistik tentang angka kemiskinan.

Penegakan hukum juga jauh panggang dari api. Apinya disini, panggangnya disono. Tajam ke rakyat, tumpul ke pejabat. Anak Presiden disebut kolektor kecebong, ngamuk. Presiden disebut kacung, mingkem.

Karena itu, umat harus kembali kepada akidah Islam. Menentukan halal haram berdasarkan hukum Qur'an, bukan Pancasila. Pancasila terlalu ringkih, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk menjawab apakah daging babi haram, Pancasila tidak memiliki surat dan ayat. Paling banter, tafsir GATUK MATUK.

Didunia ini kita mendapat mandat dari Alllah untuk beribadah, dan Allah telah turunkan Al Quran untuk panduan ibadah, bukan Pancasila. Ibadah sholat, ibadah zakat, ibadah mengelola harta, ibadah mengelola negara, ibadah menegakan hukum bagi rakyat, semua lengkap panduannya ada dalam Al Quran. Bahkan, Allah SWT mengutus Rasulullah SAW bersama hadits yang dibawanya, untuk melengkapi dan merinci Al Quran.

Semua masalah dan persoalan, ada solusinya berdasarkan Quran dan hadits. Sementara Pancasila, tidak mampu, tidak bisa, dan tidak mungkin disetarakan dengan Al Quran. Pancasila hanya punya lima ayat, sementara Al Quran memiliki 114 surat, 6666 ayat, lengkap sekali.

Saat lahir, hidup dan meninggal, semua ada panduannya. Dan saat dihari perhitungan, umat akan kembali kepada Allah SWT dihisab berdasarkan kitab suci Al Quran, bukan Pancasila.

Lantas, bagaimana mungkin kita melepaskan ketaatan pada Al Quran, padahal itu hukum dari Allah SWT ? Bagaimana mungkin kita mengimani perintah puasa Ramadhan, sementara kita mengabaikan perintah menegakan hudud Allah SWT ?

Saya sangat prihatin, jika ada yang masih tertipu dengan ujaran 'Aku Pancasila' dan ikut menuding syariat Islam. Coba lihat akhlak keduanya, pejuang syariat Islam dengan pejuang 'Aku Pancasila'. Lebih layak yang mana ?

Apakah penganut, pengemban dan penyebar paham 'Aku Pancasila' lebih layak diteladani ketimbang para pejuang Islam ? Lihatlah ! Siapa yang terlibat korupsi e KTP, pejuang Islam atau pejuang 'aku Pancasila'?

Sekali lagi, setiap pilihan ada pertanggungjawaban. Semua tindakan akan dihisab di yaumul hisab kelak di hari kiamat. Saya, ingin berada di barisan bendera (Liwa) Nabi, semoga juga Anda.

Saya tidak ingin di hari kiamat kelak dikumpulkan bersama barisan Qorun, Hamman, Fir'aun, Banteng Moncong Putih, Rezim 'Aku Pancasila', bersama Aidit, Muso, Karl Marx, atau Gembong-Gembong lainnya.

Saya ingin bersama Anda, bersama Rasulullah SAW, bersama sahabat Khalifah Abu Bakar, bersama Khalifah Umar bin Khatab, bersama Khalifah Utsman, bersama Khalifah Ali, dan segenap kaum beriman. [***].

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...