Omnibus law dan rendahnya mutu intelegensia masyarakat.

Prof. Pitoyo Hartono

 

Oleh:   Prof. Pitoyo Hartono 

 

 

Saya sama sekali tidak mengerti ttg omnibus law dan sama sekali tidak tertarik utk tahu lebih jauh

Yang saya tahu dengan pasti, lempar batu dan membakar halte bukan solusi utk apapun. Mana ada orang yg lebih goblok dari orang yg merusak kotanya sendiri.

Apalagi kalau ini dilakukan oleh mahasiswa/i. Mereka harusnya menjadi penjaga benteng logika yg gigih. Yg kita lihat sekarang di Indonesia, banyak yg menjadi cunguk anarkisme. Kekerasan lahir setelah logika buntu. Mereka belum belajar membangun tapi sudah praktek merusak.Orang yg pernah membangun, tidak perlu secara fisik, akan tahu susahnya proses itu, dan tidak akan cepat merusak apa yg telah dibangun oleh orang lain.

Ini menandakan menyedihkannya mutu intelegensia masyarakat kita. Ada yg menunggangi? ya mungkin. Tapi fakta bahwa banyak yg bisa ditunggangi menunjukkan apa yg saya katakan di atas.

Mutu wakil rakyat rendah ? Ya itu karena mutu rakyat rendah. Wakil rakyat adalah cermin dari rakyat. Rakyat tidak punya pilihan. Sampah kalau tidak diolah akan menghasilkan fermentasi sampah.

Ini imbas dari terbengkalainya pendidikan selama ini. Kita membolos dari berinvestasi utk pendidikan dan menuai hasilnya sekarang.

Saya seorang peneliti AI dan robotics. Saya tahu apa yg bisa dilakukan dan apa yg tidak oleh AI dan robot dalam 5 tahun kedepan. Kalau dibiarkan dalam kondisi sekarang, mahasiswa/i seperti ini, dan juga sebagian besar buruh di Indonesia akan dengan mudah tergantikan oleh AI dan robot.

Dengan mutu pendidikan seperti ini, kita jangan bermuluk2 mengkhayal ttg bonus demografi, karena yg akan kita hadapi adalah bencana demografi.

Kalau kita tidak cepat membenahi pendidikan, akan muncul banyak orang yg tidak lagi relevan dalam kemajuan teknologi dan peradaban.

Masih mau tunggu apa lagi utk membenahi pendidikan ? (Jft/JurnalPatroli)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...