25 January 2020

Negeri Dalam Jebakan Penjajahan Gaya Baru

Oleh: Yuyun Rumiwati

Bulan Agustus telah menghampiri. Ritual tahunan mulai ramai di pelosok negeri. Merayakan kemerdekaan yang berusia 73 tahun. Bukan usia yang muda untuk tataran umur manusia.

Sebuah pertanyaan, akankan aroma merdeka sekedar terhirup dalam ritual tahunan?. Bersuka ria dalam kemeriahan agustusan. Berbagai lomba diselenggarakan. Sebatas inikah kita hargai arti sebuah perjuangan para pahlawan?

Sebagai anak bangsa, tentu patut kita sikapi dengan serius langkah juang untuk kemenangan negeri ini.

Merdeka Ataukah Masih dijajah?

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah terbebasnya manusia dari penghambaan makhlukNya, menuju ketundukan total hanya kepada sang pencipta. Secara penjajahan fisik memang negeri ini telah terlepas dari penjajah. Namun, secara hakiki masih belum. Betapa penjajahan gaya baru masih terus berlangsung dan mengungkung.

Penjajahan Gaya Baru

Penjajahan gaya baru (neoimperalisme) dengan berkuasanya kapitalisme makin nyata dan terasa. Ideologi yang berasaskan kebebasan, tidak akan mengenal kepuasan. Karenanya metode penjajahan akan selalu menjadi jalan penyebarannya. Hanya modelnya yang bisa berubah dan beraneka ragam. Bisa secara fisik seperti di negeri kita di masa lalu. Termasuk di beberapa negeri lain seperti Palestina, Suria. Di sisi lain model penjajahan nonfisik terus mencekram belahan negeri-negeri muslim khususnya.

Ibarat penyakit, penjajahan gaya baru lebih berbahaya dan mematikan. Sebab, seseorang tetap merasa tubuhnya sehat bugar. Namun, tanpa disadarinya penyakit kronis telah menggerogoti tubuhnya hingga habis.

Penjajahan gaya baru mampu menghipnotis penduduknya dalam ketenangan. Karena secara fisik negerinya aman dan terbebas dari peperangan. Namun, secara fakta segala aturan yang berkembang tidak lepas dari model dan rancangan penjajah. Lewat age-agenya: penguasa antek penjajah maupun LSM yang didanainya.

Dampaknya kebijakan diberbagai bidang tidak lepas dari Undang-Undang yang bersumber dari ideologi penjajah (baca: kapitalisme). Bidang ekonomi: dengan segala kebijakan privatisasi BUMN, pengurangan dan pencabutan subsidi dan penguasaan asing dalam aset-aset negara seperti freeport. Di bidang keuanganpun, negeri ini masih dalam penjajahan dolar.

Begitupun di bidang layanan umum seperti pendidikan dan kesehatan tidak lepas dari kapitalisme. Melambungnya biaya pendidikan dengan Adanya BHP PT.

Bidang kesehatan dengan program BPJS menjadi bukti nyata bahwa produk kebijakkan penjajah ideologi kapitalisme menguasai negeri. Kesehatan tidak lagi menjadi hak rakyat yang harus dilayani negara. Tapi rakyat dibiarkan dengan susah payah melayani kesehatan dirinya. Hal tersebut sebagian bukti bahwa negeri ini masih terjajah.

Menuju Kemerdekaan Hakiki

Kesadaran umat bahwa negeri ini masih dalam penjajahan harus ditingkatkan. Tidak cukup di situ langkah jelas dan benar untuk melepaskan penjajahan dari belenggu penjajahan butuh terus diopinikan. Inilah bentuk perjuangan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya. Perjuangan menuju kepada atutan sang pencipta. Menjadikan tiap sendi-sendi kehidupan berpegang pada atutan-Nya. Sehingga keberkahan langit dan bumi akan tiba. Sebagaimana firman-Nya, " Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa akan kami limpahkan kepada mereka berkah langit dan bumi..."(Qs: Al-A'raf: 96).

Sinergisitas umat butuh dijaga agar bermanfaat bagi perubahan yang nyata. Agar tidak terjebak dalam hipnotis kemerdekaan fatamorgana. Terlena dan mencukupkan diri mengisi kemerdekaan dengan ritinitas tahunan. Dan lupa bahwa negeri ini masih dalam cengkraman penjajahan.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...