19 June 2018

Merdeka Selatan versus Merdeka Utara

Soal wacana becak di Jakarta, saya pribadi kurang setuju dan kurang tertarik dengan diskursus tersebut. Tapi masalahnya, kecerdikan Prabowo menyusun arena harus kita hargai. Sekarang akan tampak perang ideologi yg lebih nyata dengan masuknya unsur pemerintahan, dengan tarung rebutan simbol-simbol. Sebelumnya, pada 2012, Jokowi dan PDIP menggunakan becak sebagai idiom proletar untuk menangguk suara. Ketika Jokowi bangga berhasil mengkooptasi segmen tersebut dan mulai beralih mengurusi investasi politik para taipan, segmen proletar tadi terbengkelai. Prabowo Anies Sandi masuk mengolah segmen ini. Inilah kekagetan kedua kelompok PDIP setelah Ahok tumbang di Pilkada 2017. Bayangkan, idiom segmen "wong cilik" mereka dibetot ke arah lain. Ini yang membuat mereka blingsatan.

Maka jangan heran mereka nge-gas soal becak, menggunakan banyak resources dan peluru untuk menyerang. Bagi kelompok Prabowo, opportunity ini telah masuk ke gelanggang yang seimbang. Sebelumnya adalah rezim pemerintahan Jokowi vs rakyat, namun sekarang pemerintah vs pemerintah: Merdeka Utara vs Merdeka Selatan. Sebuah pertarungan unik yang sepintas tidak fair: Pemerintah pusat vs pemerintah provinsi. Padalah itu pertarungan lanjutan dari dua kubu yang belum selesai paska Pilpres 2014. Merdeka Selatan sudah jadi idiom perlawanan terhadap rezim di Merdeka Utara. Lihat saja kasus Reklamasi, memamerkan sengitnya pertarungan dua kubu. Menko Maritim Luhut BP mainkan jurus-jurus kungfu selamatkan Reklamasi, lalu Anies batalkan Raperda Reklamasi dan minta pembatalan sertifikat tanah reklamasi. Jokowi yang sebelumnya berusaha lolos dari jeratan kasus keabsahan regulasi reklamasi menggunakan instrumen rezim, pakai tangan BPN untuk kekeuh legitimasi sertifikat yang janggal itu. Padahal kalau ditanya lahan reklamasi itu masuk kelurahan mana sampai bisa keluar sertifikatnya mereka juga bingung. Jadi becak adalah salah satu simbol pertarungan ideologi yg memasuki fase ke-2 setelah Pilkada DKI, menuju Pilpres 2019 dan bahkan melampauinya. Maka program DP Rumah Rp 0 Anies Sandi contohnya bukanlah hal sepele. Bagaimana kalau menjalar ke Jabar, Sumut, dan daerah lainnya? Didukung REI, program ini sedikit banyak mematahkan rumusan para taipan properti yang seolah-olah menguasai pasar. Menampar wajah dan mempermalukan mereka yang telah bersekongkol dengan rezim. Gelombang baru harus dihadapi oleh mereka yang sebelumnya bangga dan me-marketing tagline wong cilik. Hancur rumusan ideologi mereka di pasar politik.

Jadi terbaca bahwa Prabowo merampas kembali sekaligus memanfaatkan investasi politik yg ditanamnya pada 2012. Ingat, Prabowo-lah yang memfasilitasi Jokowi-Ahok pada 2012. Becak Jakarta adalah kayuhan Prabowo jua untuk menangguk suara bagi Jokowi, hingga ditoreh jadi Kontrak Politik Jokowi 2012 yang "tak ada niat jahat" untuk diwujudkan. Dan mungkin Prabowo juga tak menyangka jeram-jeram politik ini memberinya gelontoran logistik siasat yang diciptakannya sendiri pada masa lalu. Sehingga, entah becak di Jakarta terwujud atau tidak, tapi pertarungan fase ke-2 ini telah memanaskan bara api yang telah ditabur di matras para petarung politik.

Jadi jangan heran lumbung sekaligus simbol suara Jawa dan Sumatera harus direbut dengan kekuasaan sejak sekarang, taruh jenderal polisi sebagai PLT Gubernur di Jabar dan Sumut. Mereka sadar sudah jebol di Jakarta. Jadi jangan sampai fenomena di Jakarta menjalar tak terkendali bak virus dihantar angin.

Tapi apa yang sebenarnya terjadi?

Lebih besar. Di Jakarta, drone politik praktis ideologi Sosialis-Neo-Pagan dikoyak drone ideologi kesalehan agama plus good governance. Itu membuat mereka shock and sick.

Tapi yang juga penting sekarang adalah mengawal Anies Sandi. Pasangan idiom baru ini fokus pada tarekatul hakekat mereka, sebuah safari dari Muharram menuju Rabbiulawal. Kafilah pembuka jalan ini jangan "genit" melayani gonggongan anjing di pinggir jalan.[***]

Category: 

Berita Terkait

Loading...