19 December 2018

Menyoal Politik Puisi Slogan

Gelanggang  politik yang kian memanas menjelang Pemilu Presiden 2014 tiba-tiba dikejutkan oleh munculnya puisi bertajuk Sajak Boneka karya Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Tak berselang lama selepas puisi itu tersiar di media-media online, sejumlah lawan politik dari partai yang telah memaklumatkan Prabowo Subianto sebagai Capres itu menuding bahwa Fadli sedang menyindir Capres pesaing Prabowo, yang tak lain adalah Joko Widodo alias Jokowi.

Sebuah boneka/berbaju kotak merah muda/rebah di pinggir kota/boneka tak bisa bersuara/Kecuali satu dua kata.Demikian bait pembukanya. Tanpa selubung personifikasi yang terukur¾meski sedikit menjaga rima¾dan langsung ke pokok soal; Jokowi dianggap boneka yang sedang “dimainkan”. Dipungut di pinggir kota, pula. Kata “pinggir” dapat ditimbang sebagai kiasan bahwa Jokowi yang sedang berada di atas angin itu bukan bagian inti dari partai pengusungnya.

Lewat diksi serba terang, puisi itu tidak lagi menyindir, tapi telah menegaskan sinisme secara telanjang. Boneka tak punya wacana/kecuali tentang dirinya/boneka tak punya pikiran/karena otaknya utuh tersimpan/boneka tak punya rasa/karena itu milik manusia/boneka tak punya hati/karena memang benda mati/boneka tak punya harga diri/apalagi nurani. Demikian bait selanjutnya, yang kian menegaskan betapa Fadli tak sedang berbasa-basi, apalagi bersembunyi di balik kode-kode puitik. Sebab, yang hendak digapai bukan puncak pengalaman puitik, tapi kesederhanaan dalam mengemas pesan politis hingga dapat dicerna oleh sebanyak-banyaknya pembaca.

Kehadiran puisi, atau yang setidaknya disebut “puisi” oleh kalangan politisi, adalah kelumrahan yang tiada perlu dicemaskan bakal mendistorsi  sastra. Alih-alih kuatir pada ketercemaran dunia puisi, para sastrawan semestinya riang-gembira lantaran masih ada politisi yang “sadar-puisi”. Fadli berangkat dari latar belakang sastra, bahkan masih anggota Dewan Redaksi majalah sastra terkemuka. Memang kuat dugaan bahwa Sajak Tentang Boneka, Sajak Seekor Ikan, Airmata Buaya, Raisopopo, dirancang atas dasar sentimentalisme terhadap kandidat Capres tertentu, tapi para relawan Jokowi segera dapat menulis puisi tandingan. Satu hari setelah puisi Fadli disiarkan, di jagat maya bermunculan  puisi-puisi yang menyangkal sinisme itu. Para pengguna media jejaring sosial menikmati “perang-puisi” itu sebagai perayaan di tengah medan kontestasi menuju kursi Presiden.  Realitas ini dapat ditakar sebagai estetisasi politik atau politisasi puisi. Bila di medan politik  masa lalu, puisi hanya melihat dari jauh, berdiri di luar pagar, di masa kini puisi merangsek ke dalam, menjadi insider di kancah politik itu sendiri.

Bila ditimbang dengan parameter ilmu Susastra, puisi-politik Fadli memang hampir jatuh sebagai pamflet atau baliho, yang segera dibuang seusai Pilpres, dan betapapun buruknya selera sastra para politisi, tetap saja puisi lebih bermartabat  ketimbang  retorika  debat-kusir yang muncul saban hari di layar TV. Semakin banyak bicara semakin terang kepandiran mereka. Seekor ikan di akuarium/Kubeli dari tetangga sebelah/Warnanya merah/Kerempeng dan lincah. Begitu narasi Sajak Seekor Ikankarya Fadli Zon, yang meski sinis, namun lebih menantang ketimbang pidato kampanye yang melimpah-limpah, tetapi maknanya begitu rendah.

Puisi tak mungkin melarikan diri dari kesadaran politik. Sajak-sajak WS.Rendra, seperti Paman Doblang, Sajak Orang Kepanasan, Sajak Sebatang Lisong tak dapat dilepaskan dari realitas politik pada masanya. Begitu pula puisi-puisi perlawanan Wiji Thukul, Hamid Jabbar, bahkan sajak-sajak mbeling Remy Silado. Pada 1977, penyair Leon Agusta bahkan menulis puisi Hukla Final Pacuan Kuda. Sangat politis, karena memvisualisasikan proses suksesi pemerintahan dengan pengamsalan final pacuan kuda. Padahal, ternyata peserta pacuan satu ekor kuda belaka.            

Penyair Binhad Nurrohmat pernah pula menggarap puisi-politik, sebagaimana terhimpun dalam buku Demonstran Sexy (2008). Alih-alih takut terkontaminasi oleh efek kuasa politik, sajak-sajaknya justru menyekutukan kesadaran puitik dengan kesadaran politik. Meski dengan persekutuan dua sumbu kesadaran itu sajaknya menjadi cair, misalnya; Dari pemilu ke pemilu/Undang-Undangnya selalu baru/kayak orang ganti baju/Dari pemilu ke pemilu/banyak kontestannya yang baru/Ada yang asli dan palsu. Tak ada yang asing, apalagi rumit, dalam sajak “Pemilu Modis” itu, hingga gampang dicerna oleh siapa saja, termasuk kelompok anti-puisi sekalipun. Tapi, ekspektasi puitik tidak sekadar mampu melakukan simplifikasi—dari gelap menjadi terang, dari kabur menjadi terang, dari keruh menjadi jernih—lebih jauh, tentu tidak harus terjerumus pada keremehan yang dangkal, sebagaimana lelaku retorik politisi yang disanggahnya. Maka, ada benarnya tinjauan Yudi Latif, yang menulis epilog buku itu, bahwa relasi penyair dengan realitas politik sesungguhnya bukan tanpa persoalan. Bila kurang waspada, efek kuasa politik bisa lebih dominan daripada otoritas kepenyairan itu sendiri. “Tak ada penulis yang kebal dari jaring laba-laba politik,” kata Luisa Valenzuela, sastrawan Argentina, “Dunia bernapas politik, makan politik, berak politik.”

Ini pula yang terjadi pada puisi-politik Fadli Zon. Alih-alih dapat dipersepsi sebagai puisi, malah terdengar memukau sebagai slogan. Bahasa politik yang menyaru ke dalam tubuh puisi. Demikianlah efek kuasa politik terhadap lelaku ujaran penyair. Meski kini Fadli dikenal sebagai politisi, tapi sebagai alumnus fakultas sastra, tentu ia tak lupa, bahwa puisi sesungguhnya adalah “mata”, dan bukan “senjata”. Puisi berkhidmat di ranah kesaksian, bukan perkakas dalam perkelahian. Yang lebih penting lagi, puisi bermula dari kejernihan dan kesadaran yang subtil. Bila puisi bertolak dari kebencian, sinisme, apalagi muslihat-jahat, niscaya ia akan gugur sebagai puisi.

Jika kami bunga/engkau adalah tembok/tapi di tubuh tembok itu/telah kami sebar biji-biji/suatu saat kami akan tumbuh bersama/dengan keyakinan: engkau harus hancur!Begitu bunyi sajak Bunga dan Tembok, karya Wiji Thukul, penyair yang hingga kini masih dinyatakan hilang. Dibandingkan dengan satu bait sajak itu saja, puisi-puisi instant Fadli yang bergentayangan itu akan terkapar tiada berdaya…

__________________________________

Oleh: Damhuri Muhammad, Sastrawan tinggal di Depok 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...