Menyiram

Oleh: Ahmad Zacky Siradj

 

 

Terkesima, karena pagi sekali kedatangan pembeli bunga, padahal seharusnya waktu menyiram bunga-bunga, agar kelihatan pada segar, nampaknya seorang ibu muda yang cantik jelita, berapa bunga ini bang...? murah bu hanya lima belas ribu satu pohonnya, saya beli lima yah ! dan dikemas pakai dus, langsung masukan begasi, lalu yang ini berapa, itu lebih murah lagi bu, hanya sepuluh ribu, lha ... kok bisa lebih murah dari yang tadi, padahal lebih cantik bunganya, iya bu yang duluan itu punya harum, ibu bisa simpan bunga itu di kamar tidur, saya jamin ibu pasti senang dengan harumnya, betul itu... ? betul bu dan agak tahan lama dari mulai mekar hingga seminggu bunga itu belum layu, asal ibu setiap pagi rajin menyiramnya...memang kalau sudah rizki tidak kemana, gumamnya tukang bunga...
 
Sebenarnya tidak dinanti musim kemarau tiba, tapi bagi daerah yang terlewati garis hatulistiwa sekurangnya ada dua musim berganti musim hujan dan musim kemarau. Bila musim hujan para petani tidak telalu cape menyiram tanamannya, lain dengan musim kemarau harus ada kegiatan ekstra menyiram tanaman, masih konvensional memang, ada yang menggunakan kincir yang digerakan oleh tenaga air itu sendiri, tapi masih ada yang mengangkut air dengan ember untuk menyiram tanaman yang masih tunas muda terutama tanaman sayuran, karena rentan mati bila kurang atau jarang menyiramnya. Tapi ada juga yang sudah menggunakan mesin penyedot air lalu ditampungnya kemudian menyiramkannya dengan mengunakan selang, biasanya pada lahan pertanian yang relatif agak luas dan juga dihubungkan dengan alat putaran air yang memancar ke sekeliling lahan kebun sehingga petani juga bisa lebih menghemat tenaga dalam menyiram tanamannya.
 
Berbeda misalnya dengan tanaman yang tumbuh digurun pasir dulu hanya didaerah oase saja yang kelihatan hijau banyak tumbuhan, sekarang ini penghijauan gurun pasir sudah mulai hijau dan pohon-pohonnyapun rimbun yang sebelumnya gersang, tapi dengan penyulingan air laut dan dialirkan melalui pipa-pipa yang ditanam dan terus meneteskan air sebagai upaya menyiram sepanjang waktu, hadirnya kerimbunan pohon di padang pasir ini kiranya dimasa datang yang dapat menjadi penyeimbang teriknya sinar mentari. Tapi ironisnya dinegeri yang berkepulauan (archipelago), kekeringan terjadi hingga banyak sawah yang tadah hujan karena bergantung pada irigasi juga sungai utamanya juga kekeringan, ditambah bendungan yang tadinya diharapkan menjadi pengimbang di musim kemarau ternyata juga tidak bisa membantu lebih banyak. Jadi persoalam menyiram tanaman di negeri yang dikelilingi lautan merupakan persoalan yang setiap tahun muncul...ada pemikiran penyulingan air laut lalu dialihkan ke daratan terutama ke daerah-daerah lereng penggunungan misalnya, dari dulu juga sudah ada pemikiran kearah itu, tapi kenapa tidak direalisasikan, alasannya sama alasan konvensional yaitu alasan dana ...tapi dibalik itu kita pun sama-sama maklum bahwa yang jelas akan mematikan jalur impor seperti import sayuran dari negara lain...dan hendaknya hati-hati bila mengutak atik jalur import ini bisa jadi ada pihak yang menyiramkan air keras kemuka...
 
Radio transsistor dua ban merk sharp itu, dibawanya kemana ia jalan khususnya kala subuh menjelang dan sesudah subuh sekitar pukul enaman, saat itu ada siaran dari radio amatir acara siraman rohani, entah kenapa judul acara itu seakan mengesankan bahwa rohani juga mengalami kekeringan perlu ada usaha menyirami rohani, yang populer disebut dengan acara siraman rohani, acara ini ada yang langsung ceramah dan para pemirsa radio mendengarkan dan menyimaknya, tapi ada pula cara menyapaikan dengan dialog, yang dibawakan pemandu acara dengan mengajukan beberapa pertanyaan lalu dijawab dijelaskan oleh penceramah, semacam tanya jawab masalah agama, pertanyaan yang diangkat yang tentu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di tengah masyarakat. Setelah itu acara serupa juga ditayangkan diberbagai pesawat televisi dan muncullah ungkapan, berda’wah dengan memanfaatkan layar kaca.
 
Berda’wah atau tabligh jelas mempunyai tujuan agar apa yang disampaikan, dida’wahkan itu dapat diyakini kebenarannya, jadi kebenaran yang dibawa utusan tuhan (rasul) hendaknya bisa diketahui dan menyebar dikalangan ummat manusia. Untuk kemudian bisa dimengerti, difahami, diyakini dan disikapi, yang upaya kearah ini ditempuh melalui proses bagaimana menyirami benih iman yang mulai tumbuh dan berkembang pada setiap rohani manusia. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa agama melalui ajaran-ajarannya senantiasa menyirami kehidupan peradaban mulia ummat manusia. Ada ungkapan yang sering kita dengar tentang rohani ini seperti ; dia itu rohaninya masih kosong atau rohaninya masih perlu diisi, agar teguh pendiriannya. Sementara pendirian itu dalam pandangan agama adalah keyakinan, dan pendirian itu menentukan kepribadian sehingga keyakinan itu bisa tumbuh dan bertambah kuat, tapi bisa juga menyusut berkurang dan melemah (yazid wa yankus), dan salah satu untuk menyirami keyakinan atau iman itu adalah dengan membaca atau mendengarkan kajian secara routine mengenai firman-firman tuhan (wa idza tuliyat ‘alaihim ayatuhu zadathum imanan). Wa Allahu a’lam. (azs, 21112020).
 
 
 
 
 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...