Menyentuh

Oleh: AHmad Zacky Siradj

 

Tak sengaja memang menyentuh tangannya yang halus mulus karena begitu sesaknya pengunjung, kulihat selintas ekspresi mukanya nampak memerah marah, tapi setelah aku mengucapkan ma’af padanya, ia pun membalasnya dengan senyuman ramah, hingga nampak jelas wajahnya yang ayu nan cantik jelita. Ia hadir bersama kedua orang tuanya, sementara aku ini wara wiri kesana kemari, mengantar tamu-tamu istimewa agar bisa mengucapkan selamat bersalaman lebih dulu kepada kedua mempelai sehingga sering kali memotong antrian para tamu undangan yang memang cukup rapat dan panjang sekali.
 
Bila mendengar lagu itu sungguh menyentuh hati, bukan sekedar mengungkap kenangan silam, tapi seakan kembali bayangannya datang menggoda ... “kunyanyikan lagu ini, kupersembahkan padamu, hanya satu pintaku, jangan kau lupakan daku”. Ternyata kawan seiring seperjuangan di organisasi juga merasa bait-bait syair lagu ini menyentuh hatinya, malah sedikit emosional, sedikit geram karena idamannya nikah duluan dengan salah satu seniornya yang punya jabatan dikedubes di luar negeri. Lalu ia menyambung lagu itu dengan penuh ekspresi rasa kesyahduan “jangan sampai kau tergoda, bujuk rayu yang berbisa, kuingatkan kepadamu akan janjimu padaku”....
 
Pagelaran seni berupa pertunjukan film atau drama tidak jarang alur cerita yang digelar disuguhkannya pada khalayak ramai itu, dapat mengundang menghadirkan menyentuh perasaan penonton yang seakan terlibat langsung kisah cerita yang tampil sebagai tontonan sehingga alur cerita atau lakon itu telah mengundang kehadirannya yang bukan hanya pasif tetapi aktif karena perasaannya telah masuk begitu dalam pada apa yang ditontonnya itu, jadi bukan sebatas menyentuh tetapi telah demikian merasuknya, bila kemudian drama atau film itu bercerita mengenai kisah sedih maka penonton pun ikut menangis sedih, demikian pula bila ceritanya suka cita maka penonton pun bergembira ria.
 
Demikian pula tentunya lakon kehidupan kita keseharian, apa itu di lingkungan keluarga, dilingkungan kerja atau dikingkungan masyarakat pada umumnya, apakah menyentuh daya pikir atau punya sentuhan-sentuhan kecerdasan sehingga masyarakat lingkungannya ikut terlibat dalam memikirkan sesuatu, ikut mengkajinya, ikut memberi saran usul untuk solusinya, dalam hal ini terjadi pergumulan pemikiran, sehingga kemudian muncul kecerdasan sosial memberi solusi alternatif pemikiran jalan keluar. Atau sentuhan lakon kehidupan itu tertuju menyentuh pada perasaan masyarakat, hingga ada perasaan kolektif masyarakat yang meluas maka terbangun rasa senasib seperjuangan dalam menghadapi hidup dan kehidupan sehingga terbangun rasa solidaritas yang tinggi kukuh kuat, hingga muncul kecerdasan emosional secara kolektif, malah ada ungkapan demikian, untuk saudaraku ini kupertaruhkan badan hingga melitang.
 
Begitu pula sepertinya dalam kebijakan politik kenegaraan bila kebijakan pemerintah itu menyentuh kebutuhan masyarakat, apa yang masyarakat tuntut dan butuhkan maka masyarakat tersebut telah merasakan kehadiran negara. Sehingga bila ada kritik pada negara baik dalam maupun yang datang dari luar maka ia akan mengatakan baik buruk adalah negari ku sendiri (right or wrong my country). Tetapi sebaliknya bila kebijakan itu sama sekali tidak menyentuh tuntutan dan kehendak masyarakat atau jauh dari cita-cita yang disepakati dalam konstitusi, jangan harap pemerintah yang ada sekarang ini atau yang akan datang nanti dapat dukungan msyarakat luas, malah masyarakat akan merasa kesal kalau tidak dikatakan membenci karena tidak merasa diperhatikan dan malah rakyat terkatakan atau tidak diucapkan menuntut agar pimpinan negara ini mundur, atau minta dipindah diganti bila itu dialamat kepada para menteri yang tidak atau kurang relevan dan tidak memiliki kemampuan, sebab bila dibiarkan maka akan terjadi salah manajemen, terjadi salah kaprah juga, karena ia mungkin kapasitasnya tidak memadai, bila hal ini dibiarkan, khawatir menuai kesalahan yang akumulatif sehingga pelan-pelan menuai kehancuran (fantadzirus sa’ah). Untuk itulah maka kebijakan solutif harus segera ditempuh sebagaimana pula yang telah dialami pada masa yang sudah-sudah.
 
Adakalanya memang suatu kebijakan itu tidak hanya menyentuh wilayah nalar pimikiran saja, tapi juga bisa menyentuh dimensi emosional, seperti perasaan senasib, seperjuangan, sehingga dapat membangkitkan semangat jiwa pengabdian pengorbanan tang tulus, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja atau lingkungan masyarakat pada umumnya, tanpa harus di minta, tapi telah tergugah dengan sendirinya, terpanggil secara otomatis sepertinya tanpa harus dikomando lagi bergerak dengan sendirinya. Begitulah setiap pemimpin bila ucap, tingkah dan kebijakannya menyentuh secara positif pada tuntutan dan kebutuhan masyarakatnya pada semua lapisan dan pada bidang-bidang yang berbeda, akan mendapat dukungan kuat baik dari kawan maupun lawan politiknya, mereka akan bergerak mendukung menjaga dan membelanya, tidak akan terdengar mencabut dukungan dan keluar dari barisan, atau turunkan, senada dengan salah satu bait lagu nasional, yang memacu semanga berjuang untuk menegakkan nilai nilai kebenaran:...maju tak gentar membela yang benar, maju tak gentar pasti kita menang (walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana). Wallahu a’lam. AZS, 3172020
(Jft/azs)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...