19 June 2018

Menjaga Terumbu Karang, Menopang Ketahan Pangan

Terumbu karang menjadi topik penting dalam World Coral Reef Conference (WCRC) 13-16 di Manado, sebagai penopang ketahanan pangan dan menyelamatkan dunia dari ancaman pemanasan global.

Konferensi terumbu karang dunia atau WCRC itu, Jumat dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI Boediono dihadiri para pakar terumbu karang dan kelautan dari sejumlah negara sahabat, antara lain Australia, Jepang, Korea Selatan, Cina, Inggris, Amerika Serikat.

Wakil Presiden RI Boediono mengatakan terumbu karang adalah bagian dari ekosistem laut dunia, harus dipelihara karena sangat kaya dengan keanekaragaman hayati.

"Di antara terumbu karang Indonesia ada berbagai jenis ikan dan hewan laut dengan berbagai macamnya, tercatat memiliki spesis cukup banyak di perairan, termasuk berbagai jenis karang," katanya.

Ia menyebutkan karang jenis fringing reefs, barrier reefs dan patch reefs, semua hidup di perairan Indonesia dan itu harus dijaga dengan baik.

Menurut Boediono hampir 60 juta penduduk Indonesia hidup di garis pantai, dan merupakan populasi manusia terbanyak yang terkait dengan terumbu karang.

"Melihat kondisi ini, dapat dipahami Indonesia rentan dengan degradasi karang, karena besarnya ketergantungan terhadap terumbu karang," katanya.

Karena itu, kata Boediono sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam coral triangle initiative, maka pada 2010 negara ini mendedikasikan sebagian wilayah lautnya menjadi daerah konservasi sumber daya alam laut.

Boediono mengatakan komitmen tersebut diperkuat dengan rencana menambah wilayah konservasi pada tahun 2020 nanti.

Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) DR Sinyo Harry Sarundajang mengatakan aktifitas manusia modern dewasa ini memacu produksi gas CO2 diudara dan rumah kaca sebagai salah satu pembawa dampak meningkatnya suhu permukaan bumi.

Adanya perubahan iklim sangat ekstrim di bumi mengakibatkan tergangganggunya hutan dan ekosistem lainnya sehingga mengurangi kemampuan untuk menyerap karbon dioksida di atmofir, kata Gubernur Sarundajang.

Lebih Lanjut Sarundajang mengatakan pemanasan global juga mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang menimbulkan naiknya permukaan air.

Menurut Sarundajang kenaikan permukaan air laut mengakibatkan negara kepulauan akan mendapat pengaruh sangat besar dan semua itu terjadi karena efek dari rumah kaca pembawa dampak pemanasan global.

Dampak rumah kaca itu juga terjadi perubahan iklim bumi, tumbuhan tidak dapat beradaptasi akan punah, rantai makanan terganggu, dan akhirnya manusia sebagai konsumen tertinggipun terancam punah, katanya.

Sarundajang mengharapkan adanya WCRC dapat memberikan kontribusi secara signifikan bagi upaya pelestarian ekosistem laut dalam kaitannya dengan blue carbon.

WCRC diharapkan dapat mencegah dan mempromosikan restorasi laut merupakan alat penting yang dapat digunakan untuk mitigasi perubahan iklim.

Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sharif C Sutardjo mengatakan lautan Indonesia mampu menyerap karbon hingga 138 juta ton per tahun.

Ekosistem pesisir dan lautan Indonesia memiliki kontribusi sangat besar dalam penyerapan karbon emisi gas rumah kaca termasuk dioksida (CO2) berasal dari aktivitas manusia yang telah merubah iklim dunia.

Baru-baru ini, kata Sharif para ilmuwan menemukan fungsi penting dari ekosistem pesisir dan laut tropis sebagai penyerapan dan penyimpanan karbon yang dikenal dengan karbon blue (blue carbon).

Menurut Sharif, ekosistem lamun dapat menyimpan hingga 830 ton karbon per meter kubik per hektare, terutama di sedimen di bawah padang lamun.

Demikian juga, katanya, ekosistem mangrove telah dikenal memiliki produktivitas tinggi dalam siklus karbon. Ekosistem ini dapat menyimpan sejumlah besar karbon dalam sedimen organik.

"Menunjukkan bahwa ekosistem mangrove dapat memainkan peranan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Kita dapat membayangkan berapa banyak karbon tersimpan dalam kedua ekosistem ini," jelas Sharif.

Indonesia, katanya, sebagai negara kepulauan, terletak di sepanjang garis khatulistiwa pada 'Jantung' disebut segitiga karang.

Karakteristik geografisnya menyebabkan iklim hangat di seluruh negeri dan telah membuat lingkungan laut dan pesisir menjadi habitat yang cocok untuk pertumbuhan mangrove.

"Indonesia memiliki ekosistem mangrove 3,1 juta hektare atau 23 persen dari mangrove dunia dan padang lamun terbesar di dunia yaitu 30 juta hektarae," jelasnya.

Terumbu karang merupakan salah satu faktor utama dalam ekosistem laut perlu dipelihara agar produksi ikan dapat berjalan demi menjaga ketahanan pangan masyarakat.

Diperlukan komitmen dan inisiatif di tingkat nasional, global, maupun regional untuk meningkatkan pengelolaan terumbu karang sebagai penopang laut dan sumber pangan berkesinambungan.

Melalui pertemuan ini, Wapres mengharapkan adanya inisiatif dan kemitraan efektif untuk mendorong upaya global dalam pengelolaan terumbu karang.

Category: 
Loading...