16 June 2019

Mengenang Kembali Peristiwa Malari

Tepat tanggal 15 Januari 1974 atau 45 tahun yang silam, merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi para mahasiswa Indonesia khususnya dan negara Indonesia, pada saat kondisi politik sangat tidak kondusif dengan tidak adanya kebebasan yang bermakna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Saat itu pula, mahasiswa Indonesia menjadi pelopor dalam memperjuangkan kebebasan khususnya dalam memperjuangkan kebebasan ekonomi dari penjajahan ekonomi. Diawali dengan berbagai aktifitas sebagai prolognya 15 Januari 1974 memunculkan seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hariman Siregar sebagai tokohnya.

Dari berbagai faktor yang dominan pada 45 tahun yang lalu, maka faktor ekonomi yang menjadi permasalahan utama saat itu adalah kebijakan pemerintah dalam penanaman modal asing. 

Dominasi Jepang dalam perekonomian sangat terlihat jelas. Banyaknya perusahaan Jepang yang dalam masuk berbagai sektor ekonomi Indonesia. Di kota-kota besar terutama di Jakarta iklan-iklan perusahaan global Jepang terpampang di gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Sangat dominan.

Masih dengan dominasi Jepang terhadap ekonomi Indonesia, sangat terkait dengan UU PMA yang berlaku setelah Jendral Soeharto memegang kekuasaan.Undang Undan tersebut dikenal sebagai UU No 1 Tahun 1967-Penanaman Modal Asing. Ini merupakan momentum masuknya modal asing ke Indonesia khususnya yang dari Jepang.

Di belakang semua ini jelas ada tokoh-tokoh yang mendesain masuknya korporasi-korporasi global ke Indonesia. Mereka ini yang memengaruhi Presiden Soeharto saat itu sehingga kebijakan pemerintah Indonesia dalam bidang ekonomi berpaling ke Jepang. Boleh jadi tokoh utama di belakang layar adalah Soedjono Humardhani, yang Aspri Soeharto sendiri/ Kedekatan Soedjono Humardhani tidak muncul sekejap tetapi, memang sudah memiliki latar belakang kedekatan dengan pihak Jepang.

Faktor:

Faktor ekonomi tidak bisa independen, berdiri sendiri dan adanya pengaruh faktor politik. Keterkaitan, saling memengaruhi antara faktor ekonomi dengan faktor politik sebagai aksioma, sudah diketahui kebenarannya. Hal yang sana berlaku pada Peristiwa 15 Januari 1974.

Pemicunya adalah faktor ekonomi, namun sudah bisa dipastikan adanya faktor politik yang memengaruhi bahkan sebagai kekuatan yang pengaruhnya tidak bisa diabaikan.

Kalau ditelaah, dianalisis, dan diperhatikan dengan seksama, sesungguhnya sangat menarik dengan faktor ekonomi yang memicu Peristiwa 15 Januari 1974. Bagaimanapun, semua tahu porak poranda dan hancurnya ekonomi Indonesia sekitar 1964 -- 1966. Kemudian dengan disahkannya UU PMA, sebetulnya Indonesia dalam posisi mengundang masuknya modal asing. Dengan UU PMA ini yang diikuti dengan berbagai kebijakan termasuk perpajakan, esensinya adalah memberikan kemudahan bagi modal asing masuk ke Indonesia.

Jepang yang secara geografis dekat ke Indonesia, tahu betul bahwa investasi di Indonesia sangat menarik dengan berbagai alasan seperti populasi penduduk, potensi sumber daya alam, dan prospek sebagai pasar. Selain itu, adanya faktor historis dalam Perang Asia Timur Raya, yang belakangan dikenal dengan Program Pampasan Jepang, boleh jadi pihak Jepang ingin memperbaiki hubungan kedua bangsa ini,

Berdasarkan evaluasi terhadap faktor-faktor yang siginifikan, banyak sekali perusahaan Jepang berinvestasi di Indonesia. Nama-nama korporasi global seperti Mitsui, Toyo Menka, Sony, Sanyo, Toshiba, Natinal yang belakangan menjadi Panasonic, dan Hitachi. Dalam bidang otomotif, Toyota, seperti flag shipnya, kemudian ada Nissan, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi. Dalam sektor farmasi, pemain-pemain global juga tidak mau ketinggalan. Beberapa nama-nama terkenal seperti Eisai, Tanabe, Meiji, Takeda, Taisho, dan Otsuka.

Entah kenapa belakangan muncul resistensi terhadap korporasi Jepang. Boleh jadi masuknya modal Jepang relatif sangat cepat ke Indonesia. Sementara secara kultural bangsa Indonesia belum sepenuhnya siap. Namun, faktor lain adalah masuknya modal Jepang ke Indonesia juga diikuti dengan mengimplementasikan strategi pemasaran yang promotif, terbuka, sangat aktif yang sepertinya masih baru untuk masyarakat Indonesia merupakan konsekuensi logis dari ekspansi korporasi Jepang ke Indonesia. Oleh karena itu berbagai bill board terpampang di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya dan berbagai kota-kota besar lainnya. Faktor ini sepertinya cukup mengagetkan bangsa Indonesia. Alhasil lampu neon promosi bertebaran di banyak tempat.

Internal power struggle:

Masyarakat umum nampaknya tidak tahu secara pasti kebenaran adanya internal power struggle di antara beberapa jenderal yang dekat dengan Soeharto apakah kedekatannya karena jabatan atau karena hubungan pribadi. Media massa juga tidak sepenuhnya mengungkap secara terbuka karena bisa berakibat bumerang bagi media massa sendiri. Sementara desas desus, isu, dan berbagai informasi bergerak ke berbagai penjuru tanpa tahu siapa sumbernya.

Salah satu informasi yang terdapat di kalangan mahasiswa bahwa terjadi pergesekkan antara para Aspri Presiden Soeharto khususnya antara Ali Moertopo dengan Jendral Soemitro. Desas desus ini on off,turun bagaikan Lautan Teduh. Sementara itu Jendral Soemitro berkeliling ke beberapa kampus untuk memberikan ceramah. Ini semakin memperkuat kebenaran desas desus tersebut bahwa memang terjadi internal power struggle. Ali Moertopo dengan gayanya sendiri tetap bermanuver seringkali sulit terdeteksi. Boleh jadi karena latar belakangnya sebagai intelijen.

Akhirnya, saat terjadinya Peristiwa 15 Januari 1974, Jendral Soemitro sebagai Pangkopkamti didampimhi Brigjen Hermans Sarens Soediro, Selasa sore 15 Januari dengan panser untuk menenangkan penduduk kota Jakarta. Keesokan harinya, Rabu pagi 16 Januari, Jendral Maraden Panggabean juga dengan berkeliling Jakarta untuk menenangkan massa yang masih bergolak.

Yang sangat menarik adalah ketika Rabu siang 16 Januari, Jendral Soemitro tampil bersama dua Aspri Presiden yaitu Ali Moertopo dan Soedjono Humardhani serta Laksamana Soedomo dan beberapa Perwira Tinggi lainnya. Setelah itu mulai dilakukan penangkapan-penangkapan, sesuai dengan tampilan Jendral Soemitro yang sangat represif tampilannya.

Kebangkitan mahasiswa:

Gerakan mahasiswa Indonesia untuk perubahan merupakan sejarah panjang sejak tahun 1920-an. Tepatnya pada 28 Oktober 1928 dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda menjadi satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bahkan Indonesia disebut sebagai rumah dari gerakan mahasiswa yang dalam sejarah Dunia. Setidaknya ini pendapat Kevin O'Rourke mengatakan , analis politik memiliki keyakinan seperti itu setelah mengamati secara seksama gerakan mahasiswa di Indonesia.

Memang mahasiswa memang identik dengan perubahan. Idealisme yang dimiliki pada mahasiswa merupakan motivasi untuk perubahan. Oleh karena itu, mahasiswa selalu berada di depan dalam perubahan. Ini Ini sulit disangkal, karena terjadi di berbagai belahan Dunia.

Akan halnya Peristiwa 15 Januari 1974, para eksponen mahasiswa saat itu sudah mengamati, menganalisis, dan merasakan adanya yang salah dalam kebijakan pembangunan saat itu. Utamanya adalah dominasi modal asing dalam ekonomi Indonesia . Apalagi saat itu Indonesia sedang berusaha untuk membangun kembali ekonominya.

Dominasi Jepang terhadap ekonomi Indonesia, jelas akan sangat menguntungkan sekelompok elite di Indonesia, kalau tidak mau disebutkan sebagai segelintir saja. Para mahasiswa tidak melihat adanya azas pemerataan dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang hanya berbasis penanaman modal asing.

Dari seminar ke seminar, dari pertemuan ke pertemuan, dari rapat ke rapat, para mahasiswa Indonesia membahas ketimpangan ekonomi Indonesia yang mana kue terbesar untuk kepentingan asing dan mereka yang menerima keuntungan dari kebijakan ekonomi tersebut.Bagaikan api dalam sekam, akhirnya protes para mahasiswa mencapai kulminasinya bersamaan dengan kedatangan PM Tanaka.

Jakarta sebagai pusat politik, pemerintahan, dan ekonomi memang tidak bisa dihindari menjadi sentral sebagai gerakan mahasiswa untuk penolakan dominasi Jepang dalam ekonomi. Para mahasiswa Universitas Indonesia memegang tongkat komando dalam gerakan protes mahasiswa ini dengan Hariman Siregar dari Fakultas Kedokteran Indonesia sebagai tokoh utamanya..

Pengorbanan dan perjuangan para mahasiswa tidak sia-sia. Kebijakan ekonomi mengalami perubahan drastis setelah terjadinya peristiwa 15 Januari 1974. Menurut dr Hariman Siregar, yang memberikan pernyataan khusus untuk tulisan ini, akhirnya Presiden Soeharto saat itu melihat bahwa pertumbuhan ekonomi bukan segala-galanya. yang mana kemudian Soeharto menekankan adanya pemerataan. implementasi dari kebijakan ekonomi baru adalah antara lain mendirikan Puskesmas,dan berbagai proyek dan kegiatan untuk masyarakat bawah sesuai dengan prinsip pemerataan dan semua segi. Hal lain yang juga penting adalah dengan dibubarkannya Aspri.

Peristiwa 15 Januari 1974 telah menjadi tonggak perubahan bagi ekonomi Indonesia. Sejarah telah mencatat semuanya ini. Ini akan menjadi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia ke depan.

___________________

Oleh: Ahmad Fuad Afdhal, Dosen dan Pengamat isu sosial

Sumber: kompasiana

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...