Mengapa Sebagian Besar Masjid Sepi?

Oleh: Fadh ahmad Arifan*

Jumat 5 Desember 2018, Ustadz Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, MA berkhutbah di Masjid Al-Firdaus Kota Malang. Pada hari-hari sebelumnya beliau memberi tausyiah di masjid Jenderal ahmad yani dan masjid Abu Dzar Al-Ghifari. Dalam khutbahnya beliau berpesan memakmurkan masjid adalah salah satu ibadah yang agung. “Siapa yang memakmurkan masjid, maka ia melakukan apa yang dicintai oleh Allah swt” ujar beliau. Masih kata beliau, “Jadikan memakmurkan masjid sebagai salah satu cita-cita hidup anda”. Terdapat 3 Tujuan mengapa masjid dibangun, pertama, sebagai tempat sholat berjamaah khususnya sholat jumat. Kedua, tempat diajarkan ilmu. Adanya Madrasah pertama dalam sejarah Islam bermula dari masjid. Ketiga, Masjid adalah pusat aktivitas dakwah dan sosial.

“Mengapa sebagian besar masjid sepi? Karena iman yang lemah dan kurangnya pemahaman terhadap keutamaan sholat berjamaah di masjid” ujar peraih gelar Doktor kehormatan dari International Electronic University Mesir. Kalau saya cermati melalui buku-buku Sejarah peradaban islam, duhulu daya tarik masjid terletak kepada ulama dan koleksi perpustakaannya. Tak heran, umat Islam di masa Keemasan Bani Umayyah dan Abbasiyah, antusias datang ke masjid untuk menimba ilmu dan membedah kitab karangan ulama. Kini, sebagian besar pengurus masjid cuma sanggup menyediakan penghafal Quran untuk menjadi imam masjid, mobil ambulance dan membuka Taman pendidikan Quran, padahal yang lebih utama adalah seberapa sering mengadakan majlis Taklim yang bermutu. Agar jamaah sekitar kian tertarik ke masjid.

Selain itu, beliau mengingatkan hilangnya peran masjid sebagai pusat amar ma’ruf. Padahal dulu ketika Rasulullah saw hidup dan generasi setelahnya, disekitar masjid tidak ditemukan orang-orang yang berbuat kemungkaran. Pada masa sekarang, alangkah baiknya pengurus masjid mendorong orang-orang kaya untuk ikut berperan memakmurkan masjid. Mintalah mereka untuk peduli terhadap kekurangan-kekurangan fasilitas masjid. Jangan lupa, anak-anak kecil dibiasakan agar betah dengan suasana masjid. Pengurus harus menyediakan pendamping anak-anak. Lengkapi pula masjid dengan fasilitas berupa kamar mandi khusus untuk jenazah, poliklinik dan taman bermain untuk anak-anak. “Kesakralan dan keharuman masjid juga perlu dijaga.” Kata beliau. Tidak bisa dipungkiri, persoalan keharuman karpet, sajadah dan kebersihan kamar mandi sering luput dari perhatian pengurus masjid. Syukurlah aroma di dalam Masjid Al-Firdaus sudah harum.

Sebelum mengakhiri khutbah jumatnya, sambil menitikkan air mata, beliau mengingatkan kepada jamaah sholat jumat di masjid Al-Firdaus kota Malang agar tak melupakan nasib Masjidil Aqsha. “Masjidil aqsha adalah kiblat pertama kita… meski dalam kondisi dijajah Zionis, sampai kapan pun umat islam wajib peduli. Minimal dengan doa, berunjuk rasa dan syukur-syukur mampu meniru Shalahuddin al-Ayyubi.” Kata beliau.

Tak lupa Dr. Zaitun menjadi imam sholat Jumat. Rakaat pertama membaca surah al-Isra’ dan rakaat kedua surah al-Fiil. Diluar dugaan, beliau membaca doa Qunut untuk bangsa Palestina dan Masjidil Aqsha. Pasca sholat jumat, saya bersalaman dengan beliau dan minta ijin, “Ustadz saya ijin menulis dan mengunggah intisari khutbah jumat antum”. “Silahkan akhi...” Jawab Ustadz yang menjadi Ketua umum Wahdah islamiyah. Wallahu’allam

*Alumnus MTsN 1 kota Malang

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...