Melingkar

Oleh: Ahmad Zacky Siradj
 
 
Kakak boleh berkunjung kerumah, boleh kak, orang tua bagaimana, in syaa Allah well come, ada yang kira-kira akan marah atau tidak seneng, mungkin ada kak, ooh ... kakak kandung yah, bukan kak, lalu siapa, hi hi hi pesaing kakak hi hi hi, ia menjawab sambil ketawa kecil, menutup mulut dengan tangan kanannya, kulihat mukanya agak memerah, lensung pipitnya semakin menambah cantik dan menawan, tapi kak, ia melanjutkan bicaranya, agak susah berkunjung kerumah, karena harus jalan melingkar mengelilingi komplek, saya tinggal di spk kak, komplek baru yah, bukan, itu singkatan dari sekitar pinggiran komplek hi hi ...kembali ia ketawa kecil, terlihat kegenitannya dan tidak canggung berkomunikasi dengan seniornya yang juga sebagai instrutur traininng dimana ia sebagai salah satu pesertanya, saya orang kampung kak kebetulan bernasib baik hingga saya bisa kuliah...sambil menatapku seakan minta perhatian...
 
Memang berbeda dengan yang lainya, peserta dari luar daerah itu bila bertanya ungkapan pertanyaannya itu langsung pada obyek yang dituju, tapi peserta dari cabang yang satu ini bila bertanya atau menyanggah pendapat pertanyaannya melingkar-lingkar dulu, mengemukakan referensinya, jalan logikanya malah ada semacam ilustrasi dari kenyataan atau suatu kasus tetentu yang diangkat dan nadanya itu seperti ingin menguji instruktur atau penceramah dalam menguasai materi dan pembendaharaan referensinya, sehingga cabang ini dikenal dengan tradisi pemikirannya yang relatif unggul dari cabang yang lain, tapi konon kabarnya tradisi keilmuan ini sudah mulai meredup tidak lagi menjadi bintang pemikiran dalam training-training, kemampuan mengelaborasi pemikirannya menurun sehingga bila bertanya sama saja dengan peserta lainnya tidak lagi melingkar lingkar...
 
Pada saat itu tidak ada membubuhkan tanda melingkar seperti bulatan pada nomor atau hurup atas pilihan jawaban yang dianggap tepat atau relefan, dulu malah lebih banyak petanyaan yang menuntut jawabannya itu dengan menguraikan apa dan kenapa sehingga jawaban itu merupakan uraian alasan kenapa kemudian pesoalan itu hadir atau sedikit mengurai tentang ruang lingkup dari persoalan yang dipertanyakan itu, sehingga murid bukan hanya diuji kemampuan intelegensianya jalan logika dan pikirannya tetapi imajinasi dan pembendaharaan bahasanyapun terukur disamping tergambar seberapa jauh ia dapat memahami dan membahasakannya kembali menguraikannya dalam bentuk tertulis tentang apa yang diberikan gurunya. Materi ajar memang penting tetapi tidak kurang pentingnya adalah juga methode mengajar yang ternyata tidak sedikit pengaruhnya terhadap pengembangan intelegensia, daya nalar dan imajinasi. Pantas bila ada gejala malas membaca, membaca sejarah misalnya, karena besar kemungkinan selalu dihadapkan pada soal yang jawabannya memilih dengan melingkar angka dan hurup malah untuk menentukannya, dengan menghitung kancing baju...?
 
Terdiri dari beberapa orang dengan posisi melingkar, lalu masing-masing berputar-putar, terus berputar melingkar, bagian bawah jubah wol (suf) nya, mengembang ibarat payung terbuka setengah, bagai kuncup bunga melati putih yang sebentar lagi kan mekar mengembang, tangannya terbentang lurus kesamping sekali menengadah keatas seperti sedang bermunajat, memohon sesuatu dengan terus berputar melingkar, menyatukan gerak tubuh hati jiwa dan pikiran, diiringi desah dzikir kalimah suci yang tiada henti, tiada tuhan kecuali Allah (la ilaha illallah) mengalun syahdu, tiada jeda walau sebentar menyambung terus selama gerakan berputar melingkar, itulah tarian sufi, ikhtiar menyatukan diri pada ilahi, berma’rifat...
 
Bacaan suci itu terus menggema tiada henti ada yang tangannya selalu mengusap pipi karena tetesan air mata selalu membasahinya, ada pula yang mengepalkan tengan jalan dengan tegak penuh semangat, tapi ada juga yang jalan merunduk, menundukan kepala walau sesekali mukanya menatap langit, mereka berjalan melingkar, melingkari ka’bah, menunaikan salah satu rangkaian dari ritual ibadah haji, thawaf. Setiap jamaah berbeda bacaannya selama melingkar memutari ka’bah atau melaksanakan thawaf itu, ada yang bacaan tasbih yang biasa dibaca setelah shalat, ada yang bermunajat dengan terus mengulangi do’a yang sama, disamping ada yang selalu mengucapkan suatu ungkapan yang penting dan sakral/suci dengan memanggil (talbiyah) yang intinya tiada lain memberitahu kedatangan untuk menghadap-Mu aku datang memenuhi panggilan-Mu (labaykallahumma labayk), kemudian mempertegas kembali tentang keesaan ketauhidan tuhan yang tiada ada sekutu baginya (la syarika laka labayk...). Wa Allahu a’lam (azs, 1592020).

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...