15 December 2019

Mantan Bos Gojek dan Arah Pendidikan Indonesia

Oleh: Ita Mumtaz

Dunia pendidikan dibuat geger dengan keputusan Presiden Jokowi yang mendaulat seorang mantan CEO Gojek sebagai menteri pendidikan.

Memang sudah biasa terjadi, program pendidikan di Indonesia selalu berganti, seolah anak didik dicoba-coba sebagai kelinci. Tergantung siapa yang duduk di kursi menteri.

Akan tetapi untuk kabinet sekarang sungguh katerlaluan. Wajar jika sebagian besar insan pendidikan merasa tidak nyaman. Menteri yang mendapat amanah signifikan, tidak memiliki pengalaman di bidang pendidikan. Padahal kondisi baik dan buruk generasi mendatang tergantung pada kebijakan.

Sebenarnya secara mendasar tak ada keterkaitan antara dunia pendidikan dengan sosok pebisnis startup sukses itu. Meskipun tidak sedikit yang memaksakan opini bahwa pendidikan adalah satu-satunya variabel yang bisa menjawab permasalahan lapangan kerja dan pengangguran.

Krisis Moral adalah Gambaran Output Pendidikan Bangsa

Krisis moral yang melanda negeri menandakan bahwa anak didik saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kasus pembunuhan oleh siswa terhadap sang guru pun menambah deretan angka merah pada lembar prestasi pendidikan anak bangsa.

Ada mega proyek yang harus digarap terkait pendidikan generasi di negeri muslim terbesar. Bagaimanapun, potret anak muda sangat dipengaruhi oleh proses pendidikan yang tengah berlangsung. Karena di sanalah keyakinan, pemahaman, dan kecenderungan akan ditempa dan dibiasakan.

Untuk itulah, Bapak Menteri tentu memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Segala kebijakan akan menentukan ke mana arah pendidikan dibawa. Apakah menuju kepada keimanan dan kepribadian Islam tangguh dengan tidak menafikan ilmu terapan, termasuk sains dan teknologi informasi. Atau sekedar mengejar ilmu duniawi tanpa kekuatan Iman dan takwa?

Kita perhatikan konsep yang telah dicanangkan Bapak Menteri dan Presiden. Sekilas bisa kita baca ke mana muaranya. Tidak menyinggung sama sekali soal Iman, takwa dan akhlak.

“Kita akan membuat terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM, SDM siap kerja, siap berusaha, yang link and matched antara pendidikan dan industri." (Kumparan.com, 23/10/2019)

Tak bisa dipungkiri, lapangan kerja memang sangat dibutuhkan di tengah putaran ekonomi dan politik yang semrawut saat ini. Namun bukan lantas pendidikan dikorbankan untuk mengisi lubang masalah yang ada.

Karena problem kemiskinan dan pengangguran sejatinya berpangkal dari tatanan ekonomi kapitalistik di bawah naungan negara yang berdasar sekuler-liberal.

Bagaimanapun pendidikan harus dikembalikan kepada tujuan utama, yakni "Upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi." (Yusanto dkk, 2004)

Jika pendidikan kian tersekulerkan, maka permasalahan akan semakin kompleks. Problem kemiskinan dan pengangguran tak jua berkurang, masih ditambah dengan bejatnya moral anak didik. Halal haram tak lagi menjadi pijakan dalam perbuatan. Mereka akan semakin liar, mudah tersulut masalah yang ada, malas berpikir untuk mencari solusi.

Berbeda halnya jika keimanan dan katakwaan yang melandasi kehidupan dan aktivitasnya. Keruwetan hidup akan senantiasa disikapi dengan sabar dan syukur. Jiwa pun semakin tunduk pada aturan Allah.

Pendidikan berbasis takwa akan mewujudkan semangat membangun karena Allah, spirit mengawal perubahan menjadi lebih baik. Senantiasa meningkat level berpikirnya, menjadikan Islam sebagai solusi atas segala problem yang ada.

Konsep Pendidikan dalam Islam.

Sebenarnya yang dibutuhkan generasi saat ini adalah generasi yang berakidah dan berkepribadian Islam, menguasai ilmu kehidupan,  berjiwa pemimpin dan berkarakter negarawan sejati. Jika tidak, maka kita tak bisa membayangkan lagi, seperti apa wajah negeri ini ke depan.

Sebagaimana konsep pendidikan yang dicanangkan dalam Islam. Tujuan utama pendidikan dalam Islam yaitu :

Pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang berbasis akidah dan ibadah. Penanaman akidah dan pembiasaan ibadah akan berproses kuat dalam tahapan awal.

Berlanjut dengan penguasaan tsaqofah Islam sesuai proporsi yang telah ditetapkan pada setiap jenjang pendidikan. Tsaqofah Islam merupakan ilmu-ilmu yang dikembangkan berdasar akidah Islam. Sekaligus menjadi sumber peradaban Islam.

Diiringi penguasaan ilmu kehidupan, yakni ilmu pengetahuan dan keahlian. Materinya bersifat penunjang dan terapan guna mempersiapkan generasi yang tangguh dan mandiri. Sehingga mampu menyongsong perkembangan teknologi yang senantiasa tercipta.

Dengan demikian, pendidikan Islam akan menghasilkan generasi takwa berkualitas. Sudah terlampau banyak bukti-bukti yang bisa dinikmati dalam sejarah sepanjang kemajuan peradaban Islam.

Pendidikan berasas Islam telah mampu mencetak generasi terbaik seperti Imam Syafi'i yang menguasai bidang ushul fikih dan ilmu astronomi, Jabir Ibnu Hayyan sang ahli kimia, Ibnu al-Nafis bapak fisiologi peredaran darah, Al-Khawarizmi sang penemu aljabar dan angka 0, dan masih banyak lagi.

Karena keyakinan yang ditanamkan dalam proses pendidikannya adalah keimanan produktif, yakni senantiasa bertumbuh bersama amal mulia. Semangat membawa kebermanfaatan bagi semesta. Keimanan yang mendorong mereka menorehkan prestasi terbaik yang dipersembahkan untuk umat dan dunia.

Mereka tak hanya berpikir akan kepentingan pribadi dan keuntungan duniawi. Namun pandangannya mengarah jauh ke depan, yakni misi dan visi akhirat. Menggenggam bumi, menaklukkan dunia dengan mengisi peradaban dalam rangka menuju kehidupan hakiki nan abadi.

SDM siap kerja pun akan terwujud dalam balutan iman dan takwa. Karena mereka diajarkan tentang kemandirian dan amanah. Bahwa setiap laki-laki baligh wajib bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Seorang suami atau ayah yang memiliki amanah besar pun akan menyambutnya dengan mental pekerja keras. Selaras dengan fitrahnya sebagai seorang pemimpin dan pelindung keluarga.

Tinggal negara yang harus menyiapkan lapangan pekerjaan dengan mekanisme yang diatur dalam Islam. Semuanya tersemat dalam konsep ekonomi Islam yang telah terbukti mampu menyejahterakan.

Wallahu a'lam bish-shawwab.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...