KPU Gudang Masalah

Oleh: Birendra Prihadi

Satu per satu mulai terbuka. Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus dicecar berbagai persoalan. Dari mulai sistem informasi dan teknologi yang lemah, hingga soal 'Linux Gratisan'. Lantas, masih mau percaya pemilu ini jujur, adil, dan bersih?

Pertama, mari kita bicara tentang bagaimana para pakar mengkritisi beberapa hal terkait sistem informasi dan teknologi KPU. Yang pertama, ternyata masalah KPU tak sebatas cakupan server saja. Ada yang lainnya.

Pakar teknologi dan Informasi Onno W. Purbo bicara begini, “Keamanan informasi termasuk berbagai prosedur khususnya perhitungan/informasi, seperti data entri tingkat kelurahan, kecamatan sampai ke KPU.”

Rasanya apa yang dikatakan Onno cukup masuk akal. Termasuk, soal keananan informasi KPU yang harusnya bisa menangani salah input data yang saat ini berujung pada dugaan kecurangan pemilu.
Harusnya sistem kemananan KPU sudah otomatis menangani polemik yang sekarang muncul. 

Bagaimana kalau salah entri? Bagaimana kalau ada yang menyelipkan data palsu? Juga, problem-problem lainnya. Nah, kalau sekarang sih semuanya nggak keurus. Masyarakat pun resah. Dan KPU, kebanyakan berkelit.

KPU harusnya ingat, atau jangan-jangan malas mengingat bahwa tiap sistem elektronik untuk kepentingan publik sudah ketat diatur. Ada poin yang menyebutkan, bahwa sistem elektronik untuk pubik harus diaudit keamanan informasinya. 

Nah ada juga yang rame nih. Baru-baru ini, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik habis-habisan sistem informasi dan teknologi KPU. Salah satu kritiknya adalah soal penggunaan Linux yang gratisan. Kok pakai yang gratisan? Bukankah anggaran Pemilu tahun ini sampai 25 Triliun. Kok....????

"Secara fisik, server KPU itu tak representatif. Seorang ahli IT menaksir dari segi biaya server KPU itu di kisaran 1-2 miliar rupiah. Begitu pun dengan operation room-nya," kata Fadli beberapa waktu lalu.

Ah, satu lagi masalah yang tampaknya bikin para petinggi KPU juga gerah. Ada dugaan para anggota KPPS yang meninggal diracun. Untuk urusan ini, KPU memang punya senjata. Minta yang menduga-duga tanya sendiri ke Kementerian Kesehatan. 

Masalahnya, ini bukan karena faktor medis belaka. Sistem pemilu memungkinkan berjatuhannya banyak nyawa. Dan KPU, tak mau gentle mengakui hal tersebut. Kini jelas segalanya memang acak-acakan. KPU makin sulit berkilah. Belum lagi, pengumuman resmi Situng KPU tinggal hitungan hari. 

Dikejar deadline iya, dikritik sana-sini iya........

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA