23 July 2018

Kepentingan Nasional Vs Kepentingan Global

Relevansi Kepemimpinan Nasional-Kepentingan Nasional dan “Rumah Kebangkitan Indonesia”.

Oleh : Asp Andy Syam

Prolog menuju Pilpres 2019. Pemimpin nasional untuk kepentingan nasional. Kembalikan martabat bangsa ku.

Seperti yang telah menjadi berita dan viral di WA sejumlah tokoh nasional dengan lintas latar belakang yang berbeda, resmi mendeklarasikan ” Rumah Kebangkitan Indonesia”. Latar belakang pemikirannya ” kondisi ekonomi bangsa sekaran ini sungguh memprihatinkan.
Masalah kesulitan ekonomi rakyat dan hutang yang makin mendera, menghampiri lampu merah, bisa menjadi bom waktu.

Disini tidak ingin berdebat tentang kondisi bangsa. Karena bisa juga memang ada yang sengaja mengkondisikannya untuk menarik Indonesia kedalam Proxi-War sebagai permainan global. Keadaan ekonomi menjadi pemicu terjadinya “demontrasi besar -besaran”, agar terjadi kekacauan dan konflik. Fenomena ini sebagai trend global di negara yang mayoritas penduduknya muslim di dunia. Di Mesir beberapa waktu lalu, Presiden Husni Mubarak akhirnya jatuh karena tuntutan rakyat yang merasakan kesulitan ekonomi.

Di Libya dan Suriah terjadi pergolakan karena rakyat mengalami kesulitan ekonomi menyeret kedua negara kedalam perang saudara. Di Mesir genjolak massa tidak sampai membawa perang saudara. Di Iran baru-baru ini diseluruh negeri terjadi demontrasi besar- besaran karena kesulitan ekonomi. Situasi ini cenderung memecah belah Iran karena penangkapan Ahmadinejad, mantan Presiden Iran karena pidatonya dianggap memicu demontrasi besar-besaran.

Sesungguhnya persoalan bangsa adalah lumrah saja. Setiap bangsa punya “tantangan zaman”. Tantangan ekonomi adalah tantangan sepanjang masa, karena menyangkut kepentingan/ kelangsungan kehidupan materil (duniawi).

Yang menjadi persoalan “adakah pemimpin yang pas dengan tantangan yang dihadapi.?.

Jawabannya sudah pasti ada. Tetapi apakah pemimpin yang bersangkutan “memperoleh kesempatan”. Jawabannya belum tentu..!.

Masalahnya ” siapakah sesungguhnya yang menentukan seorang akan menjadi pemimpin di negeri ini..?.

Loh kok pertanyaannya lugu banget, sudah tahu ada “Pemilu” masih nanya gitu?.

Betul tak terbantahkan bahwa melalui Pemilu rakyat memilih pemimpinnya atau Presiden dan Wapresnya”.

Tetapi sadarkah kita, bahwa ” siapa yang akan menjadi “pemimpin” alias Presiden” mesti sejalan dengan “kepentingan global”. “Kepentingan nasional” bisa digusur oleh kepentingan global. Kalau begini celakahlah kita sebagai bangsa …!!.

Kenyataannya memang demikian. Pemimpin kita, yang terpilih melalui pemilu yang nampak demokratis belum tentu pemimpin yang terbaik untuk “kepentingan nasional”. Tetapi pemimpin yang lebih pantes bagi “kepentingan global”. Calon pemimpin untuk kepentingan global, butuh dukungan dana global untuk menang dalam pesta demokrasi. Dibantu oleh agen-agen lokal liberal, yang menguasai lembaga survey dan mengatur media massa. Yakin calon pemimpin itu pasti menang. Demokrasi liberal menjadi jalan tol bagi kepentingan global.itulah maksud mengganti demokrasi Indonesia dengan sistem perwakilan/pemusyawaratan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan” (sesuai Pancasila dan UUD 1945) . Pemilu terlihat dari luar nampak demokratis yang elegan, tetapi di dalamnya, adu pertarungan kekuatan yang dikendalikan oleh kepentingan global. Sebagian besar rakyat masih bodoh dan miskin, hanya melihat pada siapa yang mau membagi rezeki, tanpa mempertanyakan halal/haramnya rezeki itu. Demikianlah kondisi dan emosi rakyat dalam memilih pemimpinnya, dieksploitasi oleh para elit bangsanya yang punya kepentingan dan tunduk pada kepentingan global.

Mengapa hal itu bisa terjadi.?.

Semuanya kembali kepada niat para elite kita memilih pemimpin. Terutama kalangan elit bangsa (Partai2 dan elemen-elemen masyarakat) yang menentukan calon pemimpin ( Presiden dan Wapres). Apakah mau berfikir dan berusaha atas dasar kepentingan nasional ataukah menjual kepentingan nasional untuk kepentingan global?.

Kalau dulu semua anak2 bangsa (para pendahulu kita, pendiri bangsa) bersatu membela tanah air (kepentingan nasional) untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penindasan penjajahan . Karena mereka berani menolak tunduk pada kepentingan asing (penjajah), maka kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya diraih. Sungguh tinggi nasionalisme (kebangsaan) dan martabat bangsaku waktu itu….!!.

Di era globalisasi sekarang ini, apakah kita dan semuanya, para pemimpin masih ingin bersatu untuk membela “kepentingan nasional” bangsa Indonesia?. Ataukah kita tetap lemah ingin tunduk pada kepentingan global (asing)?. Apakah kita rela menjadikan rakyat kita menjadi “korban kepentingan global”?. Kalau demikian, sungguh rendah nasionalisme (rasa kebangsaan) dan martabat bangsaku sekarang ini…!!

Jangan salah faham, kita tidak perlu membenci asing apalagi menolak globalisasi yang lagi updated di zamannya. Walaupun globalisasi ekonomi sudah dikritik karena hanya menguntungkan negara maju.

Yang penting kembali ke jati diri bangsa, martabat/ kehormatan sebagai bangsa yang berdaulat. Biarlah bangsa Indonesia dengan tulus memilih pemimpinnya atas nama kepentingan nasional bukan untuk kepentingan global. Para elit jangan lagi mementingkan diri dan kelompok menjalin koalisi global, tapi pengorbankan kepentingan nasional. Mau memilih pemimpin nasional kok, pake lobi-mobi global. Ingat pesan para pendiri bangsa (founding fathers): “Kepentingan nasional adalah diatas segalanya dari pada kepentingan individu atau kelompok/golongan”. Apabila ingin menyelamatkan NKRI.

Dengan keadaan bangsa yang memprihatinkan, kita mesti bermuhasabah, kenapa kita mesti mombodohi diri sebagai bangsa, kehilangan martabat karena mau didikte oleh kepentingan global. Hanya karena ingin memenangkan pertarungan Pemilu. Bangsa kita butuh pemimpin yang murni semangat ke- Indonesiaanya, bukan mau didikte oleh kepentingan global, seperti Soekarno dan Hatta yang mampu menjaga Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat, dihormati dan disegani oleh bangsa lain. Bukan menjadikan bangsa Indonesia diombang-ambing oleh bangsa lain seperti busa diatas air.

Salam Indonesia yang maju dan bermartabat.

Category: 

Berita Terkait

Loading...