Kembang Kempis Suara Pilpres

Oleh: Alfian Dimas

Kesalahan hitung yang dilakukan petugas KPU tidak bisa dianggap main. Alasan human error tidak bisa dijadikan dalih untuk mentoleransi kesalahan itu. Salah hitung satu suara bisa fatal.

Data yang diserahkan oleh relawan IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ke Bawaslu harus ditindaklanjuti.

Angka  73.715 kesalahan memasukkan data penghitungan suara (Situng) atau 15,4 persen dari 477.021 TPS yang telah dimasukkan suara hasil pemilihan umum harus ditindaklanjuti. Publik harus tahu, benarkah data itu? 

Bawaslu dan KPU jangan hanya diam. Upaya upaya untuk mengalihkan suara lewat modus dugaan jual beli satu per satu mulai muncul. Suara milik satu capres dikembangkan, sementara yang satu dikempiskan. 

Praktik praktik lancung seperti itu harus disudahi. Bangsa ini rindu akan kejujuran. Keadilan tidak dapat dicapai dengan cara cara curang.

Langkah meraih kekuasaan lewat segala cara, sudah usang. Rakyat sudah cerdas. Meninabobokan masyarakat lewat isu isu bombastis pemindahan ibu kota, mengumpulkan ulama lewat multaqo takkan  mampu membendung kemarahan masyarakat.

KPU bekerja saja semaksimal mungkin, menjawab setiap tudingan kecurangan dengan data yang benar. Tidak dilebihkan, tidak dikurangi. Sajikan saja faktanya.

Masyarakat bisa menilai, mana yang benar, mana yang salah. Data C1 terpampang jelas di Situng KPU. Kesalahan sekecil apapun bisa terlihat dan terpantau. Hentikan segera praktik kembang kempis suara.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA