19 November 2019

Jika Kalah Pilpres, Akankah Jokowi Di-"Najib Razak"-kan?

Soal kekalahan Jokowi, itu hampir pasti. Tinggal menunggu waktu saja. Apa soal ? Bukan hanya karena rontoknya elektabilitas Jokowi, tapi juga tren kenaikan Prabowo. Ada migrasi pemilih, dari Jokowi ke prabowo. Posisi Jokowi dibawah 50 %, dan trendnya melorot, mungkin juga sampai 0 %.

Waktu yang pendek atau lama, kampanye terbuka, door to door atau via sosmed tidak akan menolong Jokowi. Tenggang waktu sebelum menuju 17 April 2019, adalah tenggang bagi kubu Prabowo untuk memindahkan pemilih dari Jokowi ke Prabowo, sekaligus meyakinkan Undecided Voters untuk memilih Prabowo. Prediksi saya, hasil akhirnya sampai saat Pilpres bisa diangka 60:40, posisi Jokowi yang 40.

Yang perlu diulas adalah bagaimana masa depan Jokowi ? Nasib Jokowi pasca keok Pilpres ? Ini bukan soal Jokowi akan pulang ke solo atau tidak. Ini soal, apakah Jokowi kelak akan di Najib Razak-kan ?

Sebagaimana diketahui, mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menelan kekalahan dalam pemilihan umum di Malaysia. Sebelum pemilu digelar pada Rabu (9/5/2018), Najib harus menghadapi tudingan korupsi atas penjarahan dana pada perusahaan investasi negara, 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Mantan Perdana Menteri Malaysia ini juga dikenai 25 dakwaan dugaan pencucian uang dan penyalahgunaan kekuasaan terkait uang triliunan Rupiah yang masuk ke rekening pribadinya.

Dakwaan ini ditimpakan kepada Najib Razak dalam kasus penggelapan miliaran dolar AS dari Badan Investasi Negara Malaysia, 1MDB, yang diduga melibatkan dirinya. Dengan dakwaan tambahan ini, maka Najib menerima total 32 dakwaan setelah sebelumnya dikenai empat dakwaan terkait 1MDB.

Jelas, kasus Najib ini selain kasus hukum juga kasus politik. Sebab, kasus hukum yang dilakukan penguasa politik selalu kebal, sebab aparat penegak hukum berada dibawah kendali penguasa politik. Di Malaysia, perdana menteri merupakan kepala Pemerintahan, otoritas Politik tertinggi di Malaysia. Kepolisian dan kejaksaan Malaysia, secara struktur kelembagaan berada dibawah perdana menteri.

Najib, diproses kasus hukumnya setelah dia tidak lagi memiliki kekuasaan politik. Aparat penegak hukum, memiliki independensi dan kehendak bebas untuk memproses Najib, karena Najib bukan atasannya, tidak lagi pejabat perdana menteri, bukan siapa siapa.

Euforia politik Malaysia nampaknya juga tidak mustahil akan bermigrasi dan terjadi di Indonesia. Pasca Jokowi keok Pilpres, bukan tidak mungkin berbagai kasus yang diduga melibatkan Jokowi akan diusut.

Saat ini, Jokowi masih Presiden. Lembaga Kejaksaan dan kepolisian ada dibawah Presiden. KPK juga tidak punya taji, karena Presiden memiliki imunitas khusus sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.

Namun, pasca Jokowi menjadi orang biasa, tidak lagi menjabat Presiden, bukan siapa-siapa, apakah kasus hukum yang menimpa Jokowi akan diproses ? Beberapa kasus yang santer diduga melibatkan Jokowi, baik sebelum atau setelah menjabat Presiden diantaranya : kasus korupsi pengadaan bus trans Jakarta, kasus beli lahan RS Sumber Waras, kasus-kasus pembebasan lahan Jakarta, kasus reklamasi, kasus saat menjabat walikota solo, dan sebagainya. Boleh jadi, ada juga kasus yang belum terendus publik, misalnya saja pada kasus divestasi freeport.

Hanya kultur Indonesia agak sedikit berbeda dengan Malaysia, lebih kental ewuh pakewuh. Tapi bisa juga, sebab Presiden Soeharto juga dikasuskan, meskipun tidak sampai menjadi terpidana dan akhirnya meninggal dunia.

Penulis kira, semua pihak yang memiliki hubungan dan bertalian erat dengan Jokowi agar mengambil langkah antisipasi. Dengan mempersiapkan gunting, untuk memotong semua keterkaitan dengan Jokowi. Sebab, jika Jokowi dikasuskan, penulis yakin Jokowi akan menyanyi nyaring, dari do hingga do lagi. Do re mi fa sol la si do. Menyebut nama semua pihak yang terlibat.

Lagi-lagi, akankah Jokowi di Najib Razak-kan ? Rasanya, pertanyaan ini perlu disimpan dan kita tunggu hingga usai Pilpres. [].

_____________________

Oleh: Nasrudin Joha

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...