23 September 2019

Jika AHY Jadi Gubernur DKI, Apakah Ummat Islam Diuntungkan?

Karena batas-batas pengetahuan kita soal agenda apa yg strategis secara ekonomi dan politik di DKI kurang lebih sama. Dia menjadi penting bukan dalam konteks kebangkitan nilai Islam dalam kehidupan berbangsa. Alasanya hanya sekedar pertarungan klan politik saja. Karena siapa yang kuasai DKI setelah pilkada, bisa tentukan nasib beberapa project besar. Yang dalam project itu bergantung agenda politik kekuasaan hari ini. Siapa berkuasa bisa berunding. Apa yg dirundingkan? Itulah yang selama reformasi menjerat bangsa kita dalam kubangan balas dendam antar klan politik, antar gank politik dengan gunakan instrumen penegakan hukum. Sesuatu yang masih panjang waktu permainanya. Tapi kita dituntut untuk tampil di depan bukan sekedar karena keharusan membela kalam Allah yg dinista, tapi sederet kewajiban lainya berkaitan keterpurukan bangsa dalam soal moralitas penyelenggara negara. Dan semua itu menumpuk di Jakarta, maka tepat jika umat berdakwah di Jakarta untuk menggetarkan hati para durjana. Dan keadilan apa yg bisa kita harap ditegakan oleh penegak hukum bergelimang harta dan kemewahan? Mereka tak takut Tuhan. Mereka cinta jabatan, tak ada keadilan yang bisa diharapkan. Lalu apakah SBY dan AHY adalah orang-orang dengan sifat-sifat sebaliknya? Memiliki penghayatan pada kemuliaan Sayidina Abu Bakar ketika jadi pemimpin, misalnya? Saya belum melihatnya, entah anda. Jadi jika langkah mujahadah kita mensukseskan aksi 212 mendorong kaum muslimin jakarta untuk mengalahkan Ahok, tapi ternyata didomplengi oleh kepentingan memenangkan AHY, harus ada yg bisa menjelaskan soal ini kepada kita. Apakah AHY berani bersumpah untuk memikul beban ghiroh umat yang dikembangkan demikian dahsyat? Jika tidak. Mari sama-sama kita bersumpah bahwa siapa saja yang memanfaatkan ghiroh umat untuk kepentingan kekuasaan di Jakarta, Tuhan, Allah SWT akan menurunkan LaknatNya.[***]
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...