Jawaban terhadap Tulisan Denni JA : Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja Dan Middle Income Trap

Oleh:   Indra Wardhana

 


Saya sadar betul ketika membaca tulisan Denny JA sebagai salah satu buzzer pemerintahan saat ini. Dia mengawali istilah dengan kata determinasi, bahwa Omnibus law adalah determinasi dari Joko Widodo, berikut kalimat yang di tuliskan oleh Denny JA, saya cuplik : “Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus walau didemo berhari- hari, berminggu-minggu, berjilid-jilid, di banyak kota.” Terus terang hal ini membuat saya tertawa, penempatan kata Determinasi oleh Denny JA tidaklah benar, dia hanya melakukan narasi untuk kepentingan dia saat ini, karena bahan referensinya tidak dapat di jadikan sandaran atau berbeda dengan fakta yang setiap detik dapat berubah, dan dia lupa akan hal itu.....Saya menilai tulisan Denny JA, layaknya seorang komentator bola dan saya sadar betul ketika mengatakan hal itu. Saya sadar betul, bahwa kata determinasi itu sering terucap oleh para komentator pertandingan sepak bola. Merupakan suatu kesengajaan oleh saya, untuk menggunakan kata tersebut dalam menyuarakan kebenaran, dengan harapan dapat meng-influence para pemirsa atau penggemar sepak bola.


Determinasi, merupakan suatu kata yang digunakan oleh komentator untuk menggambarkan betapa kuatnya “tekad” pemain sepak bola untuk memberikan aksi terbaik yang memukau, terutama dalam mengejar bola, merebut bola, menerobos pertahanan lawan, mengawal pemain lawan yang berbahaya, atau mengamankan area pertahanan dari serangan lawan. Sesuai dengan definisi KBBI online, determinasi berarti ketetapan hati (dalam mencapai maksud atau tujuan). Selanjutnya perkataan Denny JA : “Lihatlah hasilnya kini. Indonesia semakin kompetitif. Investasi semakin tumbuh karena proses usaha semakin mudah. Lapangan kerja  semakin terbuka. ““Ekonomi Indonesia melaju, keluar dari apa yang disebut negara yang stagnan pada status pertumbuhan di level middle income. Middle Income Trap.”“LIhatlah hasilnya kini. Mereka yang dulu habis habisan menentang UU Cipta Kerja menikmati hasil baik dari UU itu.”.....Menikmati ? Sungguh analisa konyol tanpa data kalimat Denny JA ini, baiklah akan saya jawab satu persatu tulisan tersebut, maaf sebelumnya saya orang bodoh ya teman-teman tiddak seperti Denny JA, yang pintar membolak balikkan data sesukannya, dan kaya. Sementara saya, ah sudahlah...teman-teman pasti tahu tentang saya yang bukan siapa-siapa ini. Berikut jawaban saya :


Indonesia semakin kompetitif ? : darimana bisa mengatakan hal itu sehubungan dengan RUU omnibus law itu sendiri, bukankah RUU tersebut baru saja di syahkan, kemudian melihat hasil dari RUU dapat meningkatkan kompetisi indonesia di ASEAN/Dunia kapan, masa baru di syahkan tiba-tiba indonesia sudah memiliki tingkat kompetisi atau sangat kempetitif ? Saya ambil contoh dalam tulisan di https://theaseanpost.com/article/indonesia-has-big-problem dalam artikel tersebut dikatakan : Indonesia memiliki masalah serius sejauh menghadapi tantangan Revolusi Industri Keempat. Lanskap yang berkembang pesat dan potensi permintaan tenaga kerja di negara ini berubah menjadi perhatian nyata. Perekonomian terbesar di ASEAN maksudnya Indonesia, bisa jadi kehabisan waktu untuk membekali rakyatnya dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan agar tetap kompetitif. Dengan kurangnya kesempatan di rumah, banyak orang Indonesia sekarang mencari tahu lebih jauh. Menurut laporan RGF International Recruitment's Talent in Asia 2019, mayoritas orang Indonesia akan memilih untuk pindah ke Singapura (38 persen), jika diberi kesempatan, di atas negara lain. Jika bukan Singapura, talenta lokal akan mempertimbangkan pindah ke Eropa (13 persen) dan Malaysia (tujuh persen).


Sementara negara-negara ASEAN lainnya yang disurvei (Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina) juga memilih Singapura sebagai tujuan utama mereka, talenta Indonesia masih menempati posisi tertinggi untuk pindah ke Singapura. Sementara itu, 21 persen warga Singapura mengatakan China adalah tujuan pilihan mereka saat mencari pekerjaan di luar negeri.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa mayoritas orang Indonesia yang disurvei (76,5 persen) memilih kompensasi yang adil dan kompetitif pasar sebagai alasan mereka untuk mengevaluasi kesempatan kerja. Pindah ke, dan mencari pekerjaan di Singapura, bagaimanapun, bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang Indonesia. Di mana tingkat kompetisinya? Karena di dasarkan survei di atas, banyak Profesional kita ingin hengkang ke negara lain?.


Berikut cuplikan yang saya ambil dari laporan RGF International Recruitment's Talent in Asia 2019. (see pages 62/63)
---------------------------------------------------------------------------------
See pages 68/69
Most important factors to evaluate an employment opportunity
FRIENDS, HEALTH AND WELLNESS
While salary is far and away the most important factor for Indonesians when considering employment
opportunities, the other factors that matter include a strong work culture and good benefits - namely
health benefits. Indonesian job seekers want to work with a good bunch of colleagues, and so will be on the lookout for strong company culture that thrives on collaboration and camaraderie.
GOOD HEALTH BENEFITS : 6.9 %
CAREER ADVANCEMENT OPPORTUNITIES : 7,2%
FAIR & MARKET COMPETITIVE COMPENSATION: 76,5%
TOP CALIBRE COLLEAGUES :8,3%
Alasan meninggalkan Indonesia / Leaving Indonesia
An overwhelming majority (38%) of Indonesians would choose to relocate to Singapore, if given the chance, above any other country. If not Singapore, local talent would consider a move to Europe (13%) and Malaysia (7%)./ Mayoritas (38%) orang Indonesia akan memilih untuk pindah Singapura, jika diberi kesempatan, lebih tinggi di atas negara ASEAN lain. Jika bukan Singapura, pegawai Indonesia akan mempertimbangkan pindah ke Eropa (13%) dan Malaysia (7%).


PERSPEKTIF KARYAWAN


Meskipun mengalami pasang surut ekonomi, sentimen pemberi kerja di Indonesia sangat positif, dengan 69% pemimpin yang merasa yakin tentang masa depan negara. Ini sejalan dengan rencana perekrutan perusahaan untuk sisa tahun ini, dengan mayoritas ingin menambah jumlah pegawai./ EMPLOYER PERSPECTIVES


Despite economic ups and downs, the employer sentiment in Indonesia is incredibly positive, with 69% of leaders feeling confident about the country’s future. This is aligned with company hiring plans for the remainder of this year, with the majority looking to increase headcount.

HIRING CHALLENGES & SOLUTIONS


Like many other Asian countries, Indonesian employers are also suffering from a talent shortage, low
hiring budgets and struggling to find culturally-aligned talent. Bilingual professionals fluent in both Bahasa Indonesian and English are in high demand, but hard to come across - especially for highly technical roles./ TANTANGAN & SOLUSI MEMPEKERJAKAN
Seperti banyak negara Asia lainnya, pengusaha Indonesia juga mengalami kekurangan tenaga kerja, rendah mempekerjakan anggaran dan berjuang untuk menemukan bakat yang selaras dengan budaya. Profesional dalam berbahasa Bahasa Indonesia dan Inggris banyak diminati, tetapi sulit ditemukan - terutama untuk jenis pekerjaan  yang sangat teknis. Dari fakta ini terlihat di antara negara-negara ASEAN kita belum mampu untuk mendapatkan Tanega kerja yang benar-benar kompetitif. Apalagi pada tingkat Dunia ?

 

Tingkat Kompetisi indonesia di dunia

 

Versi The Global Competitiveness Index
Peringkat Indonesia dalam indeks daya saing global Forum Ekonomi Dunia, turun lima peringkat pada 2019 menjadi ke-50 dari 141 peringkat ekonomi negara-negara di dunia, sementara Singapura mengambil alih Amerika Serikat sebagai negara paling kompetitif di dunia. Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memperoleh skor 65 dari 100 dalam kinerja daya saing, turun 0,3 poin dari tahun sebelumnya, terutama sebagai akibat dari kinerja yang stagnan pada variabel-variabel yang mencakup “lingkungan pendukung”, “modal manusia”, "Pasar" dan "inovasi". “Ini peringkat keempat dalam ASEAN, di belakang Singapura [pertama], Malaysia [27 th ] dan Thailand [40 th ],” membaca The Global Competitiveness Report 2019. Skor Singapura meningkat 1,3 poin menjadi 84,4, mengambil alih posisi teratas tahun 2019  dari AS, yang melihat skor daya saingnya turun dua poin menjadi 83,7. Daya saing digital dan inovasi yang buruk tampaknya merongrong kemajuan apa pun karena skor Indonesia dalam adopsi ICT/Information and Communications Technology, yang terdaftar di bawah variabel “lingkungan pendukung”, turun enam poin menjadi 55, memposisikan negara ini pada urutan ke-72 dalam pengadopsian ICT dari 141 negara. Skor Indonesia dalam hal kapabilitas inovasi, yang terdaftar di bawah “ekosistem inovasi”, stagnan di angka 38, yang jelas tertinggal dari daya saing negara. Indonesia memperoleh skor tertinggi dalam stabilitas makroekonomi. (see pages Xiii/15, The Global Competitiveness Index 2019)
 

Versi IMD World Competitiveness Yearbook 2019


Indonesia menjadi negara dengan peningkatan peringkat daya saing tertinggi di kawasan Asia Pasifik berdasarkan International Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Ranking 2019 yang diterbitkan oleh IMD World Competitiveness Center pada 28 Mei 2019 dan , tentu saja lembaga-lembaga tersebut menilai indonesia berbeda-beda lain lagi dengan lembaga S&P menaikkan rating Indonesia menjadi BBB dari BBB-.
Perbedaan di antara mereka tentu berkaitan dengan faktor X, saya tidak perlu membahasnya dalam tulisan ini. 

Faktanya
rata-rata pertumbuhan investasi di Tanah Air sekitar 8 sampai 10 persen, terutama aliran modal langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI)  Dan bukan di bidang keuangan.
"Investasi yang masuk umumnya lebih tertarik karena kita punya sumber daya alam yang luar biasa. Pandemi Covid-19 telah berdampak pada minat investor untuk berinvestasi. Hal ini tercermin dari realisasi investasi di Indonesia menurun 4,3% pada triwulan II-2020 jika dibandingkan dengan tahun lalu di periode yang sama. Nilainya menyusut dari Rp 200,5 triliun di triwulan II-2019 menjadi 191,9 triliun tepat setahun setelahnya.(sumber:Badan Koordinasi penanaman Modal/BKPM) 22 Jui 2020.
 
Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), 22 Juli 2020

 

Indonesia tengah menghadapi ResesiEkonomi
Pernyataan Menteri Keuangan dalam 4 hari lalu menyatakan sebagai beikut https://voi.id/en/berita/7651/sri-mulyani-indonesia-will-have-a-recessio... : Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan anjlok di kisaran minus 3,8% pada kuartal II. Sedangkan Badan Pusat Statistik memperkirakan angka yang lebih buruk, yaitu 4,8%. Namun, apakah ini pertanda resesi ekonomi?
Resesi ekonomi dapat diartikan sebagai kemerosotan ekonomi. Kondisi tersebut terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi riil mengalami penurunan selama dua triwulan berturut-turut.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III masih mengalami kontraksi, maka dipastikan Indonesia akan mengalami resesi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi sempat negatif dua kali berturut-turut.

 

Saya ingin bertanya kepada Denny JA, apa arti pernyataan dia sbb : “Ekonomi Indonesia melaju, keluar dari apa yang disebut negara yang stagnan pada status pertumbuhan di level middle income. Middle Income Trap.” Dan apapula maksud : LEGACY JOKOWI, UU CIPTA KERJA DAN MIDDLE INCOME TRAP ? Jika Fakta yang terjadi pada Indonesia itu berbeda dengan tulisan anda? I'm not upset that you lied to me, I'm upset that from now on I can't believe you, Sorry Dude...(Jft/RUMAHBELAJAR.ID)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...