18 June 2018

Harumnya Ajaran Islam dan Busuknya Sistem Demokrasi

"Siapa yang menanam dialah yang akan memanennya" itulah ungkapan yang sering kita dengarkan dari pepatah alam, menanam kebaikan akan memanen kebaikan, begitu juga menanam keburukan pun akan memanen keburukan.

Kalaulah kebaikan yang kita tanam belum berbuah hasil kebaikan, coba kita koreksi kembali siapa tau ada hasil kebaikan yang luput dari hitungan kita, atau malahan kita lupa cara menanam kebaikan dengan standar dari Dzat pembuat kebaikan?.

Bibit unggul harus di tanam pada kultur tanah yang bagus dengan komposisi tepat serta waktu yang memadai.

Tak akan kita temui kebaikan pada sistem yang sudah cacat dari lahirnya dan di masanya pun mulai menuai gejolak sosial dan ekonominya, di mana kesenjangan antara si miskin dan si kaya terus di jaga dan di berikan ruang khusus.

Persekongkolan jahat yang  masih belum usai oleh begundal² Milenial yang sedang mabuk kekuasa'an & takut jatuh di tengah jalan sehingga semua cara disiapkan tak perduli bawahan merasa kedodoran.

Di pemerintahan jahiliyah modern Abu Jahal² milenial beserta kroni²nya menyiapkan gada palu untuk menghentikan laju dakwah Islam & menghabisi  bahkan mencoba membuat saudara² Muhammad SAW hilang mata pencahariannya.

Di Darun Nadwah modern yang di pimpin oleh Abu Lahab² milenial yang di dalamnya berbagai koalisi suku² bertemu pun tak bisa apa² atas ulah kroni² mereka, yang ada maling tercipta dengan segudang aturannya.

Perwakilan suku² yang telah mendapatkan mandat rakyat dan dikirim membawa Panji masing² ternyata hanya mementingkan perut kelompok masing² tanpa menghiraukan nasib konstituennya.

Simbol gambar pohon rindang ternyata tak seteduh yang di gambarkan, slogan "Suara rakyat suara tuhan" hanya berlaku ketika mereka butuh dukungan setelah itu mereka lupa daratan karena sudah mencicipi lautan madu palsu penghianatan, iyah penghianatan atas suara tuhan.

Simbol semangka busuk yang mewakili kaum sarungan tak beda ulahnya dengan yang lain, malahan terkesan hanya main gambar  yang buram dengan memasang runner up di mana-mana.

Panji dengan simbul rumah umat, kepala banteng, bintang Mercy dan ada juga simbol kepala burung semuanya sama saja tak bisa berbuat apa apa untuk sekedar membuat senyum kaum emak-emak.

Lalu dimanakah saudara Nabi Muhammad  SAWyang  terkenal dengan julukan "Al-Ghuraba' ? Mereka bersama-sama para sahabatnya berjuang memakai sistem sendiri/non kooporatif di rumah sahabat Arqom modern (Darul Arqom).

Mereka tidak membawa umat  dalam kancah perjuangan  melalui sistem Darun Nadwah (parlemen) yang sudah terlihat mapan tapi penuh tipuan itu, mereka tau kalau memperjuangkan  kebaikan melalui  sistem jahiliyah maka akan terjebak oleh permainan mereka.

So santai aja, kemenangan itu adalah janji yang tak pernah di ingkari oleh Dzat pembuat janji. Yang perlu kita sadari kita berada dalam barisan mana? Barisan Jahiliyah modern atau barusan saudaranya Muhammad SAW?.

Maka yang perlu kita kenali dari diri kita apakah kita berada dalam kelompok perubahan di sa'at banyak manusia asyik masyuk dalam kemaksiyatan? Atau malah kita berada dalam kubangan kolam Abu jahal modern? Tanyakan kepada diri kita masing-masing jika kita ingin selamat dari huru hara fitnah umat Akhir zaman.{***}

#KhilafahAdalahKebaikan
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahUntukSemua
#IslamSelamatkanNegeri

Category: 

Berita Terkait

Loading...