Haji Agus Salim, Cendekiawan Muslim yang Luar Biasa dan Sangat Sederhana

Tahukah anda bahwa di dalam kuliah Haji Agus Salim di Cornell University, Ithaca, USA tahun 1953, beliau sudah membicarakan mengenai pentingnya modernitas Islam, pluralisme dan pemahaman Jihad? Dalam soal Jihad,  beliau bicara  makna Jihad yang bukan semata-mata perjuangan fisik yang bila harus didefinisikan berarti kerja keras untuk membela kebenaran bukan menyerang atau agresi.

Agus Salim berkata bahwa dalam Al Quran ada tiga kata yang yang merupakan satu akar dengan jihad, yakni ’juhd-un yang mengarah pada pengertian kerja keras; kedua, ijtihad yang lebih menunjuk kesungguhan dari segi pemikiran atau intelektualitas; ketiga, mujahadah, dalam arti mengarah pada spiritual exercise, sebuah olah rohani yang sungguh- sungguh yang biasa dilakukan kaum sufi.

Prof. George T Kahin  pernah mengundang Agus Salim dan Ngo Dinh Diem makan di ruang dosen Cornell University. Waktu itu Agus Salim sebagai pembicara tamu di Universitas Cornell tersebut sedangkan Ngo Dinh Diem saat itu sedang mengumpilkan dukungan bagi Vietnam Selatan. Tokoh yang terkenal jago omong itu kemudian menjadi Perdana Menteri di negerinya. Prof. George Kahin terperangah karena kedua tokoh itu ternyata sudah asyik berdebat dalam bahasa Perancis.

Ternyata Agus Salim dapat membuat Ngo Dinh Diem menjadi pendengar saja. Hal ini dikarenakan kemampuan bahasa dan keluasan ilmu pengetahuan sehingga ia menguasai suatu diskusi atau percakapan. Ketika mengajar di Cornell. Agus Salim tidak melupakan kebiasaannya menghisap rokok kretek. Sehingga para muridnya menjadi tidak asing lagi dengan bau eksotik itu.

Ia juga menolak pandangan yang membagi dunia menjadi dua antara Islam dan Non-Islam. Ia melihat bahwa dunia Islam dan dunia Barat adalah dua buah sumber daya yang harus dimanfaatkan.

Agus Salim tak juga menginginkan sebuah negara yang dirumuskan dari ayat suci Al Quran atau hadis Rasul dalam tubuh UUD 1945. "I think that for Indonesia we have overcome that difficulty," kata Agus Salim dalam salah satu ceramahnya di Universitas Cornell tahun 1953.

Sebagaimana dicatat sejarah, pada 1953 Haji Agus Salim memberi kuliah selama enam bulan di Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat. Saat itu, ditetapkan kuliahnya berlangsung tiap hari Sabtu, pukul 11.00 waktu setempat.

Haji Agus Salim terkesan melihat mahasiswa yang hadir cukup banyak, hampir tidak ada yang absen. Bagi Haji Agus Salim, hal ini terasa luar biasa dan agak mencengangkan, sampai ia menanyakan kepada salah seorang guru besar. Kepada guru besar itu Haji Agus Salim mengatakan betapa rajinnya mahasiswa di universitasnya.

Dalam tiga kali ia memberi kuliah tak seorangpun yang absen padahal Sabtu siang biasanya orang-orang muda lain sudah siap-siap merencanakan acara malam Minggu.

Guru besar itu tersenyum dan mengatakan bahwa sebenarnya mereka tak istimewa rajin. "Justru karena kuliah diberikan oleh Tuan Haji Agus Salim, maka mereka tertarik untuk datang," demikian dikatakan guru besar itu.

Kemudian ternyata, bahwa para mahasiswa Cornell University sangat menyenangi sistem Haji Agus Salim dalam memberikan kuliah. Pendalaman tentang cita-cita Islam dan kebudayaan Islam dapat mereka ikuti sambil berdiskusi secara hidup dengan ulama ini, yang terlebih menarik lagi ialah ia memberikan kupasan-kupasan berdasar gagasan ilmiah yang logis.

Sebagai Ulama, Haji Agus Salim ikut aktif selama duduk pada Panitia Sembilan yaitu memperjuangkan dihapusnya tujuh kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk – pemeluknya”. Keberhasilan Agus Salim ini mengecewakan Soekarno yang sejak awal mendukung terbentuknya Indonesia sebagai negara Islam. Peristiwa ini adalah sejarah besar karena menempatkan Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi modern yang tidak menempatkan salah satu agama sebagai agama negara namun tetap mengacu pada syariat Islam.Agus Salim menganjurkan agar masyarakat selalu mengikuti Al Quran dan Sunnah Rasul dan karena itu

Agus Salim menekankan perlunya pemberdayaan masyarakat melalui gerakan – gerakan swadaya masyarakat. Agus Salim menentang pembedaan antara pria dan wanita yang dilakukan dengan membuka tabir pembatas tempat duduk pria dan wanita. Agus Salim adalah penganut paham “Memimpin adalah Menderita, Memimpin adalah Melayani”.

Bahwa Agus Salim adalah diplomat yang sangat ulung. Walaupun demikian dia hidup sederhana dalam kesehariannya. Bahkan Schermerhon memiliki kesan yang mendalam terhadap Agus Salim. Dalam Het dagboek van Schermerhoon (Buku Harian dari Schermerhoon), ia menggambarkan Agus Salim: “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang jenius. Ia mampu bicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya barangkali, hanya satu yakni : ia hidup melarat.” (berbagai sumber, refleksi kecil Herdi Sahrasad, akademisi Univ. Paramadina )

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...