Banyak dari anak bangsa yang telah mengukir prestasi dibidang tekhnologi. Di antaranya Prof BJ Habibie yang telah menciptakan 46 paten di bidang aeronautika. Desain dan konstruksi pesawat udara yang telah dipatenkan diakui dunia internasional. Jajaran berikutnya Prof Khoirul Anwar. Dia pemilik paten sistem telekomuniasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Belum sederet anak bangsa lainnya.

Sehingga Indonesia sangat berpeluang menjadi negara maju. Meninggalkan negara-negara berkembang yang sebelumnya sejajar seperti Singapura, Malaysia dan lainnya. Namun kunci utama pada generasi-generasi yang berbakat diberi peluang untuk terus belajar.

Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah menyatakan “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Pernyataan Sang Proklamator tersebut hingga saat ini masih releven untuk kemajuan Bangsa Indonesia.  Dan ini bisa dijadikan doktrin untuk para pendidik atau guru dalam mengembangkan cita-cita Ki Hajar Dewantoro yakni membumikan pendidikan di se antero Bangsa ini. Dengan azaz menetapkan bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, dalam arti lahir dan batin.

Dalam azas yang ini telah ditegaskan Ki Hajar Dewantoro tentang kemerdekaan bagi anak didik, dimana kemerdekaan itu diaplikasikan kepada cara anak didik untuk berfikir, yaitu dengan cara jangan selalu dipelopori atau disuruh mengakui buah pikiran dari orang lain. 

Dengan demikian, apa yang disampikan Ir Soekarno “Beri aku 10 Pemuda niscaya akan kuguncang dunia” adalah betapa pentingnya pelajar dalam berkiprah untuk kemajuan bangsa. Sehingga Pemuda di Indonesia ini sangat penting peranannya.

Untuk itu, peran pendidik atau guru untuk mengembangkan potensi diri yang ada di para siswa bisa terus digalak. Sehingga mereka bisa menjadi generasi Bangsa yang dapat berkompetisi dengan negara lain  dalam segala bidang termasuk  teknologi.

Ingat Kejujuran Murni

Kini banyak pemuda ataupun pelajar yang berprestasi tetapi itu bukan karyanya. Mereka hanya memegang prinsip “Nilaiku harus tinggi” dan untuk mencapainya tak jarang menggunakan contekan. Mereka berprestasi, namun tak murni. Jika banyak generasi seperti itu, bisa hancur Indonesia. Dan di sinilah guru berperan, selain mengajarkan pendidikan umum layak sudah memberikan pelajaran moral dan kejujuran. Karena ketika apa yang kita hasilkan murni jerih payah kita, maka di  masa depan kemungkinan kita untuk maju akan lebih besar.

Guru harus selalu ingat doktrin Presiden pertama RI Ir Soekarno, dan itu sesuai dengan cita-cita Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa. (Jft/Mading Sekolah SMA-N I Pangkah, Tegal - Jawa Tengah)