22 August 2019

Gaung Menghargai Demokrasi Sekedar Basa Basi

Oleh : Mira Susanti 
Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi

Penyataan sikap dari seorang tokoh masyarakat Bapak Amien Rais bahwa beliau akan mengawasi pemerintahan Jokowi - Ma'ruf dalam 5 tahun ke depan mendapat respon positif. Salah satu pihak yang merespons positif sikap Amien Rais adalah Mendagri Tjahjo Kumolo. Menurut Tjahjo, sikap Amien merupakan bentuk menghargai demokrasi. DetikNews

Jikalau pernyataan tersebut dianggap sebagai bentuk menghargai proses demokrasi yang baik. Lalu apakah sikap ketidakpercayaan masyarakat terhadap wajah demokrasi saat ini dianggap buruk?. Tentunya hal ini tidak bisa diterima. Karena sejatinya menghargai bukan berarti membiarkan ia ternodai dengan ambisi kursi kekuasaan semata. Permasalahannya bukan terletak pada menghargai atau bukan pemerintahan bapak Jokowi - Ma'ruf nanti. Pasalnya terletak pada sejauh mana antusias kepercayaan  rakyat terhadap output kepemimpinan ala demokrasi.

Fakta dilapangan selama proses pesta demokrasi berlangsung banyak terjadi kejanggalan sana - sini. Satu hal yang patut diketahui bahwa masyarakat tidak bisa di bohongi secara terus menerus. Di tengah-tengah goncangan dhasyat menimpa wajah demokrasi saat ini mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi kian menipis. Karena keburukan serta kebrutalan demokrasi tampak jelas di pertontonkan oleh pihak yang mengakui dirinya sebagai politisi demokrasi  sejati.

Namun nyatanya tak lebih dari sekedar basa basi politisi untuk melanggengkan ambisi kekuasaannya. Tak hayal mengorbankan ratusan rakyatnya sebagai tumbal. Konyolnya lagi menghabiskan biaya  triliunan hanya untuk memilih orang yang sama. Kecurangan- kecurangan yang tampak justru tak berdampak di mata hukum. Lalu rakyat di minta untuk menerima segala ketetapan hukum serta hasil yang memilukan jiwa. Inikah yang di maksud menghargai proses demokrasi yang penuh misteri keajaiban?.

Rakyat hidup di era dimana orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran di anggap sebagai pemecah belah kesatuan. Sementara di sisi lain pihak yang menutupi kebohongannya di anggap sebagai prestasi yang harus di akui kebenarannya. Sungguh aneh suatu kebusukan dipaksakan untuk tetap wangi itulah demokrasi ilusi.

Tarik ulur penerapan sistem demokrasi sepenuhnya ditentukan oleh pihak yang memegang tampuk kekuasaan. Seringkali di gaun-gaunkan sebagai sistem terbaik yang sudah final namun nyatanya syarat dengan kriminal elit politik. Gambaran sistem demokrasi yang baik dalam pesta demokrasi hanya settingan belaka. Kedaulatan tertinggi demokrasi berada ditangan rakyat itu bohong. Justru trakyat hanya sebatas alat legalitas politik.

Demokrasi sejatinya tidak akan pernah membawa kebaikan karena ia berasal dari akal manusia yang lemah. Meskipun beribu dalih dikemukakan demi membenarkannya tetap saja  tidak akan mendatangkan kebaikan. Karena nilai kebaikan dalam demokrasi ditentukan oleh akal manusia yang lemah bukan pencipta manusia yang Maha Hebat. Manusia bisa saja mengatakan dia lebih tahu urusan kehidupannya. Namun ia lupa bahwa yang berhak mengatur itu semua adalah Allah SWT.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...