21 September 2019

Gambaran Umum Ekonomi Makro DKI Jakarta

Oleh: Muchtar Effendi Harahap

I. PENGANTAR:
.
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi informasi gambaran umum ekonomi makro DKI Jakarta 2013 (era Jokowi), 2014 dan 2015 (era Ahok) dalam perspektif PDRB.

Dari gambaran umum ini, diharapkan pembaca dapat melakukan penilaian kritis kondisi kinerja Pemprov DKI Jakarta di bawah Gubernur Ahok urusan PDRB.

II. NILAI PDRB PER KAPITA ATAS HARGA BERLAKU:

Berdasarkan target capaian setiap indikator Nilai PDRB Per Kapita Atas Harga Berlaku, kondisi kinerja pada awal periode RPJMD (2012, era Fauzi Bowo) sebesar  Rp.110,46 juta.

Kondisi kinerja target capaian pada  2013 Rp.124,2 juta; pada  2014 Rp. 135, 8 juta; pada  2015 Rp. 140,58 juta; pada  2016 Rp. 151,20 juta; dan, pada 2017 Rp.160,00 juta. Dari tahun ke tahun target capaian sengaja diperbesar.

Berdasarkan target capaian setiap tahun indikator Nilai PDRB Per Kapita Atas Harga Konstan  2000, kondisi kinerja pada awal periode RPJMD (2012. era Fauzi Bowo) Rp. 45,02 juta. Selanjutnya kondisi kinerja target capaian pada  2013 Rp.48,00 juta;  2014 Rp. 50,00 juta; tahun 2015 Rp. 54,00 juta; 2016 Rp. 57,00 juta; dan, tahun 2017 Rp. 60,00 juta. Juga dari tahun ke tahun target diperbesar.

III. NILAI PDRB ATAS DASAR HARGA BERLAKU:

PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi DKI Jakarta pada  2013 sebesar  Rp. 1.255,9 triliun, sedangkan 2012 (era Fauzi Bowo) hanya  Rp. 1.103,7 triliun. Terjadi peningkatan Rp. 152, 23 triliun atau 13,79 %.

 PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi DKI Jakarta 2014 Rp. 1.761,41 triliun, sedangkan  pada 2013 Rp. 1.547,04 triliun. Terjadi peningkatan Rp. 214,37 triliun atau 13,86 %.

PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi DKI Jakarta 2015 Rp. 1.983,42 triliun, pada  2014 sebesar Rp. 1.760,22 triliun. Hal ini berarti, terjadi peningkatan Rp. 223,20 triliun atau 12,68 %. Pada  2013, sekitar 72, 21 %.

PDRB Jakarta berasal dari sektor tersier (perdagangan, keuangan, jasa dan pengangkutan). Sebesar 27,27 % berasal dari sektor sekunder (industri pengolahan, konstruksi dan listrik-gas-air bersih). Hanya sebesar 0,52 % dari sektor primer (pertanian dan pertambangan).

 Pada  2014, sekitar 72, 69 % PDRB Jakarta berasal dari sektor tersier (perdagangan, keuangan, jasa dan pengangkutan). 26,83 % berasal dari sektor sekunder (industri pengolahan, konstruksi dan listrik-gas-air bersih). Hanya sebesar 0,48 % dari sektor primer (pertanian dan pertambangan).

Pada 2015, sekitar 72, 31 % PDRB Jakarta berasal dari sektor tersier (perdagangan, keuangan, jasa dan pengangkutan). 27,34 % berasal dari sektor sekunder (industri pengolahan, konstruksi dan listrik-gas-air bersih). Hanya sebesar 0,35 % dari sektor primer (pertanian dan pertambangan)

 IV. DISTRIBUSI PDRB MENURUT PENGELUARAN:

Distribusi PDRB menurut pengeluaran selama  2013 terbesar pada komponen konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 57,56 %, meningkat jika dibandingkan tahun 2012 (era Fauzi Bowo) mencapai 56,88 %.

Kontribusi terbesar kedua pada komponen ekspor 54,57 %. Komponen ekspor ini juga mengalami penurunan dibanding 2012  (era Fauzi Bowo)  mencapai 56,19 %.

Kontribusi terkecil pada komponen konsumsi pemerintah 9,79 % selama 2013.

Distribusi PDRB menurut pengeluaran  2014 terbesar pada komponen konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 60,72 %, meningkat jika dibandingkan  2013, mencapai 61,01 %.

Kontribusi terbesar
kedua pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 41,16 %. Komponen ini juga mengalami penurunan dibanding tahun 2013, mencapai 44,18 %. Kontribusi terkecil pada komponen perubahan inventori 0,20 % selama  2014.

Distribusi PDRB menurut pengeluaran 2015 terbesar pada komponen konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 65,78 %, meningkat jika dibandingkan  2014, mencapai 60,23 %.

Kontribusi terbesar kedua pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 45,93 %. Komponen ini juga mengalami penurunan dibanding 2014, mencapai 41,91 %.

Kontribusi terkecil pada komponen perubahan inventori 0,32 % selama tahun 2015.

V. PDRB PER KAPITA ATAS DASAR HARGA BERLAKU:

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku pada 2013 sebesar Rp. 126,12 juta atau meningkat 12,7 % dibanding  2012 (Rp. 111,91 juta).

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku pada 2014 Rp. 174, 82 juta atau meningkat 12,66 % dibanding 2013 (Rp. 155,17 juta).

PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku pada 2015 mencapai Rp. 194,87 juta atau meningkat 11,54 % dibandingkan  2014 (Rp. 174,71 juta).

VI. PDRB PER KAPITA ATAS DASAR HARGA KONSTAN:

Besaran PDRB DKI Jakarta 2013 atas dasar harga konstan Rp. 447, 3 trilun, menaik Rp. 27,5 triliun dibandingkan  2012 (Rp. 449,8 triliun). Secara total pertumbuhan ekonomi 2013 sebesar 6,11 %, sedikit lebih lambat dibandingkan 2012 (era Fauzi Bowo),  mencapai 6,53 %.

Besaran PDRB DKI Jakarta 2015 atas dasar harga konstan Rp. 1.454,10 trilun, menaik Rp. 80,71 triliun dibandingkan  2014 Rp. 1.373,39 triliun. Secara total pertumbuhan ekonomi  2015 sebesar 5,88 %, sedikit lebih lambat dibandingkan tahun 2014 mencapai 5,95 %. 41.

Sumbangan pertumbuhan tertinggi (1,43 %) dari sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 10,84 %.

Sumbangan pertumbuhan kedua terbesar diberikan sektor keuangan, real estet, jasa perusahaan yaitu 1,42 % dengan laju pertumbuhan 5,17, %. Untuk sektor kontribusi di bawah 1 % terhadap PDRB seperti sektor pertanian, pertambangan penggalian dan listrik-gas-air bersih menyumbang pertumbuhan sangat kecil yaitu kurang dari 0,1 %.

Sumbangan pertumbuhan tertinggi (1,43 %) tahun 2015 diberikan sektor keuangan-areal estate-perusahaan tumbuh 55,35 %.

Sumbangan pertumbuhan kedua terbesar diberikan sektor pengangkutan dan komunikasi, 1,22 % dengan laju pertumbuhan 9,80, %.

Untuk sektor konntribusi di bawah 1 % terhadap PDRB seperti sektor industri pengolahan dan konstruksi. Sedangkan sektor pertanian, sektor pertambangan penggalian dan sektor listrik-gas-air besih menyumbang pertumbuhan sangat kecil, kurang dari 0,1 poin

Dilihat dari laju pertumbuhan, secara umum selama tahun 2013 menaik 6,11 %. Komponen mengalami pertumbuhan terbesar adalah konsumsi rumah tangga menaik 5,81 %. Terbesar kedua adalah komponen PMTB dan konsumsi Pemerintah masing-masing menaik 5,29 % dan 4,67 %.

Sedangkan terkecil kenaikan adalah komponen ekspor tumbuh 3,5 %.

Selama  2014 pertumbuhan menaik 5,95 %. Komponen mengalami pertumbuhan terbesar adalah konsumsi rumah tangga menaik 3,19 %. Terbesar kedua adalah komonen PMTB dan pengeluaran konsumsi LNPRT masing-masing menaik 1,44 % dan 0,32 %. Sedangkan terkecil kenaikan adalah komponen ekspor tumbuh 0,26 %. Selama 2015 pertumbuhan menaik 5,88 %.

Komponen mengalami pertumbuhan terbesar adalah konsumsi rumah tangga menaik 5,04 %. Terbesar kedua dan ketiga adalah komponen konsumsi pemerintah dan pembentukan modal tetap bruto masing-masing menaik 3,82 % dan 2,93 %.

Terkecil kenaikan adalah komponen net ekspor antar daerah menurun sebesar minus 21,41 %. 43. PDRB per kapita atas dasar harga konstan menunjukkan nilai PDRB per kapita secara riil. Pada tahun 2013 PDRB per kapita meningkat 5,1 %, dari Rp. 45,61 juta (2012) menjadi Rp. 47,93 juta (2013).

Pada 2014 PDRB per kapita meningkat 4,48 %; dari Rp. 130,11 juta (2013) menjadi Rp. 136,41 juta (2014).

Pada 2015 PDRB per kapita meningkat 4,81 %; dari Rp. 136,31 juta (2014) menjadi Rp. 142,87 juta (2015).[***]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...