Duit Bikin Lembaga Survey "Berotak Udang"

Oleh: Nasrudin Joha

Hehe, mereka tidak bisa memungkiri bahwa suara umat Islam itu kunci. Kunci kemenangan. Sehingga, kerangka umum kampanye baik melalui jurkam langsung atau melalui 'Framing' survey surveyan, dibuat dalam kerangka untuk menggaruk suara pemilih Islam. Sayangnya, karena tak memahami suasana kebatinan umat Islam, pilihan modus operandi untuk menggaet suara umat Islam itu kolokan, kampungan.

Bahkan, untuk lembaga kelas bergengsi yang biasanya ilmiah, IQ berdiri, sekarang IQ nya jongkok, 200 sekolam, otaknya otak udang. Pilihan-pilihan isu yang diangkat tidak lagi mengarah pada isu sentral penyelenggaraan pemerintahan. Tetapi, menggarap isu yang sensitif dan tidak objektif.

Contoh saja, ada jurkam yang mengangkat isu lomba Ngaji untuk konsumsi pemilih. Weleh, weleh, sejak kapan jurkam jadi pengasuh ponpes ? Selain dangkal, jurkam model ini tidak memahami visi umat Islam. Umat Islam itu bukan hanya ingin pemimpin yang bisa baca Qur'an, tetapi pemimpin yang bisa menerapkan hukum Qur'an. Itu suasana kebatinannya kalau pingin tahu.

Adalagi, lembaga survey yang mengunggulkan calon tertentu yang dipilih oleh pemilih yang rajin sholat. Disebut rajin sholat, tapi penjelasannya meski sehari hanya sekali.

Dalam Islam, sholat wajib lima waktu, bukan hanya sekali. Dan jika sudah melaksanakan sholat lima waktu, itu juga biasa saja, tidak disebut rajin sholat. Itu hanya memenuhi kriteria standar dasar. Kecuali, respondennya selain sholat lima waktu juga bangun tahajud, puasa Sunnah, ahli sedekah, giat berdakwah, bolehlah disematkan predikat 'Rajin'.

Lagi lagi, jurkam dan lembaga survey surveyan ini kehilangan nalar kritisnya, metode berfikir ilmiahnya pupus. Jadi mirip buzzer berdalih lembaga ilmiah. Sekali lagi, duit memang bikin segalanya bisa dan biasa.

Kalo mau ditelusuri, ini bentuk kepanikan dan ketidakberdayaan rezim mengelola isu politik untuk menggaet suara umat Islam. Ini, juga menjadi pertanda awal bahwa kekuasaan memang akan dipergilirkan.

Dari sisi ikhtiar, sudah cukup berdarah-darah, bahkan rezim berani mengorbankan profesor sosmed di detik terakhir hanya karena praduga dengan menggaet jubah dan sorban agama akan mampu menangguk suara umat Islam. Keliru besar Bung !

Hari ini era sosmed, dimana baik dalam hal ibadah apalagi politik, umat Islam tidak lagi menggunakan metode taklid buta. Bahkan, mereka berani berbeda dengan ulama jika ulama berfatwa menentang hukum syariah.

Ketika jubah itu untuk membungkus seonggok daging busuk, menutup aib rezim yang represif dan anti Islam, bukan rezim yang menjadi wangi atau setidaknya baunya tidak menyengat. Justru jubah agama dan sorban kesalehan itu yang menjadi tercela, penuh noda, dan tidak akan bersih meskipun direndam 7 hari 7 malam, walau digunakan byclean untuk memutihkannya.

Lembaga survey digunakan untuk itu, menangguk suara umat Islam, karena suara militan rezim tidak perlu diurus. Pengikut rezim dikasih nasi satu bungkus saja beres. Kerja keras mereka, adalah bagaimana memindahkan preferensi politik umat Islam kepada rezim.

Sayangnya, lembaga survey ini merendahkan tingkat penalaran politik umat Islam. Dianggap, umat Islam bisa terjebak pada simbol dan nuansa ibadah yang sifatnya artifisial untuk di politisasi demi suara rezim.

Wahai lembaga survey survey-surveyan, ketahuilah ! Kalian akan mendapat balasan dari umat Islam. Tahun politik ini, adalah projek terakhir survey surveyan kalian. Setelahnya, rezim akan tergusur dan tidak adalagi yang menggunakan jasa lembaga survey surveyan untuk mengelabui aspirasi umat Islam. [].

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA