Covid 19, Sains dan Sikap Muslim

Oleh: Hasbi Indra

 

Apakah covid ini di desain untuk mengeruk keuntungan ekonomi pihak tertentu atau lainnya, yang pasti ini telah menjadi tantangan dunia muslim. Dunia muslim harus kembali ke surah Al-'alaq, dalam surah ini dibaca, iqra, ditulis, qolam tentang tantangan yang dihadapi dari generasi ke generasi. Bila dibaca di surah itu ada kata  'alaq adalah unsur penciptaan dan sekaligus substansi fenomena manusia dalam menjalani hidupnya, alaq salah satu artinya darah rupanya yang disebut plasma dari orang yang pulih dari Covid menjadi obat yang sangat murah dan bahkan gratis. 
 
Dalam surah ini mengandung dorongan agar muslim merespon perisitiwa yang tengah dihadapi manusia dengan ilmu atau dengan sains. Ketika nabi meminta diulang 3 kali ke Malaikat, seolah ada kesungguhan untuk datangnya peristiwa besar yang menantang umat manusia agar dibaca, ditulis dan diteliti soal covid yang saat ini merupakan substansi dari alaq--penciptaan manusia dan fenomena hidupnya itu 
Peristiwa ini layaknya seperti peristiwa perang dunia I dan II yang korbannya ratusan ribu manusia, juga seperti  peristiwa konflik sosialism dan kapitalism di jerman, korea, vietnam dan skala terbatas di tempat lain, dan peristiwa bom Hirosima dan Nagasaki, peristiwa perang TimurTengah yang juga menelan korban nyawa manusia.
Di barat dan Jepang dari peristiwa dahsyat telah membangkitkan mereka. Kini dengan covid 19 bangsa2 ditantang  mana bangsa yang bisa bangkit kembali.
Covid 19 di mata muslim menjadi tantangan bagi ilmuannya. Tantangan sains dan sekaligus teknologinya. Ketika covid ini terjadi teknologi kesehatan telah berkembang dan kini ditantang dalam konteks sains hingga diperlukan vaksin untuk membentengi manusianya. Mampukah ilmuan muslim mengambil peran di dalamnya. Tantangan sains pernah terjadi di masa shahabat, juga masa berikutnya dan tantangan di masa kini. 
 
Dulu di era klasik ilmuan  muslim survival mengembangkan sains seperti ilmuan yang sangat berpengaruh di barat nama-nama evenrus, evensina,  hingga mengantarkan manusia barat menyempurnakannya. Ini tantangan muslim sepanjang hidup manusia  yang berkaitan dengan sains guna merespon penyakit biologis manusia, tetapi juga merespon psikologis manusia yang mampu menjadi imune bagi dirinya melalui getaran ayat-ayat suci alquran yang membawa tingkat kesabaran dan keikhlasan setiap orang hingga membantu kepulihannya. Kesehatan melalui pendekatan integratif antara penyakit fisik dan pengobatan non fisik manusia telah berkembang dan ini pula tantangan muslim di era covid 19 ini ikut mengambil bagian untuk meresponnya. 
Semangat kemanusiaan mencetak sainstis bidang kesehatan memanggil muslim agar nyawa manusia tidak dijadikan objek bisnis yang merugikan banyak orang. Universitas islam negeri atau yang didirikan swasta hendaklah terpanggil untuk mendirikan fakultas kedokteran dan farmasi agar peristiwa covid di era2 berikutnya dunia muslim tak lagi gamang menghadapinya. 
 
Muslim tidak mungkin menjadikan musibah sebagai ladang untuk finansialnya tetapi tidak pula rela ketika pihak lain yang tidak tercerahkan oleh kitab suci dan kemanusiaan di mana muslim menjadi korban karena ketaksiapannya menghadap musibah yang menimpa. 
Mendirikan fakultas kedokteran dan farmasi memerlukan dana yang besar hal itu mudah diatasi. Muslim Indonesia yang jumlahnya lebih dua ratus  juta  serapan dana melalui Waqaf, Zakat, Sadaqah, jumlahnya bisa trilyunan. Dana umat tidak selalu utk membangun tempat ibadah dan umat perlu diluruskan pemahamannya ikut mendirikan fakultas kedokteran atau farmasi sama berpahalanya ketika mereka menyumbang tempat ibadah. 
 
Atau boleh diundang da’i terkenal seperti UAS ke masjid untuk mengumpulkan dana beasiswa agar para tahfidz alquran mendalami ilmu kedokteran dan farmasi. Para tahfidz alquran ini seperti dulu ilmuan2 muslim era klasik mereka tidak cukup menghapal alquran tapi mereka menjadi ilmuan seperti  ibn rusyd,  ilmuan kesehatan, ilmuan ekonomi seperti imam hanafi, hambali, syafe’i, ahmad hambal dan ilmuan sosial seperti ibn khaldun. 
Mereka akan menjadi dokter, ahli farmasi yang tidak akan mengorbankan musibah yang menimpa manusia dijadikan ladang bisnis yang memberatkan nasib bangsa dan rakyat yang sudah terkapar. 
Semoga Covid 19 ini menjadi pelajaran muslim agar tidak menjadi korban sebagai konsumen dari nafsu keserakahan pihak lain. Cukuplah muslim menjadi korban permainan ekonom global yang membuat bangsa ini tidak mandiri dan hanya menjadi bangsa konsumen sepanjang masa dan ekonominya sangat bergantung pada hutang ke negara asing, hingga kini hutang yang jumlahnya kurang lebih 6000 trilyun, muslim jumlah yang besar  telah menanggung beban dari desain yang telah mereka buat. Muslim merespon kondisi yang ada hanya diperlukan menyiapkan dirinya agar tidak menjadi korban keserakahan manusia karena memandang muslim manusia yang patut diperdayai oleh mereka. Wallahua'lam.

 
Dr Hasbi Indra  adalah dosen di Universitas Ibn Khaldun Bogor 

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...