21 November 2018

Cahaya Salam, Semesta Azan, Negara Masjid : Catatan Kuratorial Pameran Lukisan “Panggung Azan”

Oleh: Ismail Al-‘ Alam

(Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations [INSISTS], Jakarta )

(1)

Bukalah semua grup WhatsApp yang kita ikuti dan coba iseng-iseng menghitung berapa banyak informasi yang bisa dihimpun sejak kemarin malam. Segala informasi itu mengalir di arus frekuensi dengan deras sekali, lalu sebagiannya tanpa terbendung ditangkap antena dan merembes ke layar gawai kita . Meski bahasannya bisa beragam (dari politik ke kesehatan lalu ke keamanan), informasi-informasi tadi punya ciri yang sama: tanpa kejelasan sosok pemberi dan periwayat, tanpa pembeda kebenaran dari kepalsuan, dan tanpa penjelasan tentang apa yang hendak dituju. Sebagian orang, dengan nada penuh rasa belasungkawa, menyebut keadaan ini sebagai “Pasca-kebenaran” ( post-truth ).

Waktu seperti sedang menyuruh kita bergegas ke ruangan mengerikan . Di dalam ruangan itu, mata kita terpejam dan ditutup kain hitam berlapis-lapis, lalu semua lampu dimatikan. Jika ada 1000 orang dengan bahasa berbeda di sana , entah apa yang akan terjadi. Dari kerjasama susah payah karena bahasa berbeda sampai kematian tak terduga karena saling desak dan injak akan masuk ke daftar kemungkinan-kemungkinan. Campuran dari hal tersebut juga bisa dimasukkan ke daftar: permintaan tolong atau ajakan bekerjasama bisa dikira ancaman, rangkulan untuk mematahkan tulang leher dikira keramahan.

Ya, memang cuma cahaya yang bisa membuat kita membedakan ubi jalar dan ular, telaga dan jurang, atau abu-abu tua dan hitam. Ulama-ulama sufi besar, terutama Hujjatul Islam Abu Hamid Imam al-Ghazali Radhiyallahu ‘Anhu, Menjadian cahaya sebagai tamsil bagi banyak ungkapan pengalaman batin mereka. Dalam salah satu kitab pentingnya, Misykat al-Anwar, Al-Ghazali menggunakan tamsil cahaya untuk menjelaskan hakikat segala sesuatu dan mengapa ia ada (ontologi), lalu bagaimana sesuatu tersebut dapat diketahui dengan pasti (epistemologi). Wujud segala sesuatu adalah pemberian Allah melalui kehendak-Nya, seperti pendaran cahaya sampai ke batas terjauh.

Manusia, khalifah Allah di muka bumi, mampu mengetahui kebenaran jika pengetahuannya diterangi petunjuk Allah. Selama hidup dalam terang seperti ini, kita tak perlu jatuh pada keraguan, dugaan, kebingungan, apalagi sampai pada keadaan mengerikan di atas. Itulah cahaya salam , yang mengantarkan kita pada keselamatan.

(2)

Karya-karya para pelukis dalam Azan: Khusyu’ Negeriku ini adalah upaya menerjemahkan cahaya salam tersebut dalam ekspresi kontemporer dan konteks keindonesiaan kita hari ini. Tentu saja, istilah kontemporer bukan cuma mengacu pada waktu pelaksanaan, tetapi juga pada gaya kepelukisan yang langsung terlihat. Karya Guntur Wibowo, Menjaga, Terjaga , alih-alih sebuah nirmana yang biasa mengandung gradasi warna serasi, justru menjadikan warna biru untuk langit, ornamen arabesque, siluet masjid, dan sebuah masjid dalam genggaman dua tangan terbuka. Masjid yang dimaksud, Masjid Sultan Ahmed, adalah sebuah rumah ibadah di jantung kehidupan masyarakat Turki yang juga punya julukan Masjid Biru . Berbeda dari apa yang terlukis, warna biru pada masjid ini mendominasi bagian interior, bukan eksteriornya.

Lokasi Masjid Biru berdekatan dengan pemisah geografis Asia dan Eropa, Selat Bosporus, yang secara simbolik sering dikaitkan dengan pembagian Barat dan Timur baik secara ras, kebudayaan, agama, dan peradaban. Di antara usaha mengatasi pembagian itu, kebetulan sekali, juga dilakukan di daerah ini . Sejak 2008 hingga 2015, misalnya, para filsuf dari “Barat” dan “Timur” berkumpul tiap tahun di sana untuk membicarakan isu-isu kemanusiaan dalam forum Istanbul Seminar yang diinisiasi think tank asal Italia, ResetDOC. 1 Mereka mencari sebuah pegangan bersama untuk mewujudkan dunia yang adil, penuh perdamaian, dan tertata dengan baik sambil mengevaluasi semua capaian pemikiran manusia yang sudah berlalu.

Cahaya salam itulah yang membuat keberagaman ras, kebudayaan, agama, dan peradaban menjadi indah. Warna-warni kubah yang diterangi cahaya dalam karya Arif Conte, Hayya ‘Ala ash-Sholah , menggambarkan keindahan dan keselarasan dalam keberagaman itu. Orang-orang berpakaian putih –perlambang kesucian- tampak berdatangan ke satu bangunan besar dengan gerbang kalimat syahadat. Mereka dari arah berbeda-beda, namun datang untuk satu kesaksian yang sama . Sebelum masuk ke gerbang syahadat, mereka sudah pasti bercengkrama, beramah-tamah, dengan sesamanya, seperti perintah Islam untuk berbuat baik pada siapa saja, meski ia bukan seorang muslim. Siluet muazin menghadap cahaya salam dan mengumandangkan panggilan shalat menunjukkan suatu kesaksian, yakni dua kalimat syahadat, yang dalam azan terletak lebih dahulu daripada panggilan shalat (“hayya ‘ala ash-sholah”) itu sendiri. Kesaksian adalah kerelaan diri penuh kesadaran dan pemahaman , ketika hati telah memperoleh petunjuk ( hidayah )-Nya.

Fauzan Mooshad bahkan menggambarkan keberagaman dalam kesatuan tauhid tersebut bukan cuma terjadi pada manusia, tetapi juga seluruh alam semesta. Ia menggambarkan banyak planet dalam satu poros. Dalam sains alam, planet adalah benda langit tanpa cahaya yang berporos mengelilingi benda langit lain yang memiliki gaya tarik terkuat, yakni bintang, yang bercahaya karena terbentuk dari api. Demikianlah halnya matahari dan 9 planet, termasuk bumi, dalam tata surya kita. Namun lukisan Fauzan, Panggilan Semesta , menggambarkan benda-benda langit tersebut berotasi mengelilingi Ka'bah sehingga menjadi seperti thawaf yang dilakukan orang-orang Islam tiap kali mendatangi Rumah Allah di Makkah itu. Cahaya salam memancar langsung ke pusat kehidupan, keteraturan ( cosmos ), dan keberadaan manusia. Dalam tasawuf, hal ini biasa disebut tajalli wujūdi 2 , yakni manifestasi -manifestasi penciptaan Allah pada setiap maujud (yakni segala hal yang diberi wujud oleh-Nya).

Dua kalimat syahadat menjelaskan cahaya salam yang menerangi alam raya penuh keberagaman, dan keberagaman yang bersumber dari Pencipta yang satu, sehingga tak terbuka ruang bagi paham pluralisme agama yang sering mencatut penjelasan sufistik tentang realitas tersebut. Di zaman Pascamodern ( post-modern ) ini, spiritualitas lintas agama dan tradisi kembali digemari, meski orang-orang sebenarnya abai terhadap kebenaran atas keyakinan suatu agama. Seperti “isyarat-isyarat pascamodernitas” yang ditangkap sosiolog-filsuf Polandia, Zygmunt Bauman, manusia zaman sekarang memiliki kebebasan dan tanggung jawab sepenuhnya atas diri mereka , namun secara bersamaan telepas dari pegangan hidup yang disediakan agama, adat, dan sejenisnya.3 Tren pelatihan meditasi, seminar motivasi, dan doa bersama lintas agama hanyalah serpihan kecil dari gambaran besar kondisi masyarakat dunia.

Dengan syahadat, umat Islam mestinya tak mengikuti kekeliruan itu. Lukisan La Ode Umar Alsuriah, The Virtue of Your Call , seperti sedang bermain-main kondisi yang dimaksud. Gaya pascamodern-nya, baik dalam setiap elemen rupa dan warna, menunjukkan lafadz Allah yang sudah hamper tertembus, samar-samar, hanya tepian, tetapi masih solid dan memiliki bentuk yang jelas. Elemen jam mengingatkan kita pada karya lawas Salvador Dali , Melting Watch (1954)4 , yang menggambarkan jam yang mel el eh dalam rupa tak karuan di tepian jurang. Jarum jamnya kian tercerabut pecah-pecah ke atas, dan lelehan jam itu mulai dihinggapi serangga. Dali melahirkan karya itu memang di saat yang tepat, yakni ketika Barat mulai menunjukkan (dalam bahasa Bauman di atas) isyarat-isyarat pascamodern. Membelakangi tesis surealis Dali, La Ode menggambarkan jam justru dengan jarum-jarum yang menunjuk pada waktu shalat wilayah Indonesia. Kita bisa tafsirkan hal tersebut begini: dalam dunia pascamodern yang sekaan tak terhindarkan karena gadget, globalisasi, dan informasi sudah selalu di tangan, tauhid yang benar, kumandang azan, dan pendirian shalat adalah penjaga manusia.

Tauhid mengantarkan kita mengenali yang tetap dan mutlak, sehingga kita bisa bisa berpegang padanya dalam menghadapi dan mengatasi sesuatu yang berubah, secepat dan seliar apapun perubahan itu. Sambil mengelilingi semesta sesuai waktunya, nyaris tanpa henti sejak dikumandangkan Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘Anhu untuk pertama kali, azan memanggil manusia untuk kembali mengingat dan mengikuti kebenaran. Di beberapa kebudayaan, muazin bahkan disebut bilal. Islam telah menjadikan budak hitam yang dahulu tak berharga menjadi seorang sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dijamin surga. Kemuliaan Bilal yang menjadi ruh, yang menjiwai, setiap muazin di seluruh hamparan bumi inilah yang dibahasakan secara visual oleh Arie Siswana Sebagai Spirit of Bilal .

( 3 )

Semesta azan menemukan visualisasinya dalam lukisan AR Tanjung, Mi’rod . Istilah mi’rod mengingatkan kita pada mikraj, peristiwa kehadiran Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ke Sidratul Muntaha , menghadap Allah secara langsung (dan itulah kondisi ontologis terdekat antara Allah dan makhluk-Nya) untuk menerima perintah shalat. Sebagai panggilan shalat, azan memang selalu mengelilingi bumi. Muazin sus ul-menyusul mengumandangkannya. Ketika azan baru selesai dikumandangkan dari sebuah menara masjid di tengah Jakarta, muazin lain sedang menyiapkan pelantang untuk mengumandangkan azan yang sama di Palembang, demikian seterusnya sampai kembali ke Jakarta lagi. Mi’rod menggambarkan lafaz iqamah (bukan azan) menjangkau sisi bumi yang terkena matahari. Dalam ilmu geografi, sisi tersebut serupa garis bujur, yakni garis khayal (imajiner) vertikal yang terbentang dari utara ke selatan. Dlaam ukuran ini, Indonesia menempati posisi 95 ˚ Butur TImur sampai 141 ˚ Bujur TImur. Pergeseran garis bujur setiap 1˚ dalam ukuran kartografi (kajian tentang penggambaran peta) menandakan perbedaan waktu 4 menit. Itulah mengapa, meski pembagian waktu di Indonesia hanya 3 (WIT, WITA, WIB), waktu azan di wilayah waktu yang sama juga berbeda-beda; yang lebih timur lebih dahulu dibandingkan yang lebih barat.

Bagi orang-orang sekuler apalagi non-muslim, panggilan azan bisa bermakna pengingat waktu (terutama maghrib , karena ia menandai peralihan siang ke malam), bisa juga gangguan, atau justru eksotisme negeri-negeri Timur yang rata-rata dihuni umat Islam belaka. Tetapi bagi seorang muslim yang benar hatinya, panggilan azan adalah panggilan terhadap fitrah kemanusiaannya, untuk mengabdi pada Allah dengan cara yang diwahyukan dan diridhai-Nya. Fitrah tersebut mengatasi segala keterbatasan fisik manusia, seperti sosok lelaki berkaki satu dalam lukisan Ibnu Alwan, Panggilan Paling Paripurna . Ada sebuah hadis yang parallel dengan lukisan ini, yakni ketika Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan uzur kepada lelaki buta untuk tak dating ke masjid karena tiada yang menuntunnya, namun beliau mengatakan juga padanya untuk memenuhi panggilan azan.5 Hal ini menandakan tuntutan untuk memenuhi panggilan Allah , yakni panggilan paling paripurna, dengan usaha manusia paling paripurna juga. Terlepas dari perdebatan fiqh tentang apakah hal tersebut berarti kewajiban shalat di masjid, usaha memenuhi panggilan azan tersebut adalah bentuk disiplin tubuh dan jiwa manusia. Tasawuf menyebut hal itu sebagai riyadhah .

Ratusan juta manusia Indonesia, apalagi kalau warga dunia turut terlibat, jika secara individu mengamalkan riyadhah ini, akan mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang benar berdasarkan agama yang benar. Islam menyebut agama sebagai dīn , yang seakar kata dengan keadaan seseorang yang berhutang ( dā’in ), yakni terutama berhutang keber-ada-an dirinya yang telah diciptakan Allah. Ia harus membayar hutang tersebut kepada Allah yang telah memberinya hutang ( da’in ) dengan cara yang benar sesuai tugas ( dayn )-nya. Keberadaan orang-orang yang hidup sesuai dīn akan memunculkan kebutuhan untuk mengatur kehidupan sosial satu sama lain sesuai hukum dan undang-undang (dayyān) yang juga benar, sehingga mereka bersama-sama mewujudkan kota yang benar ( madīnah ). Perubahan nama Yastrib menjadi Madinah setelah kehadiran Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah contoh nyata penegakkan agama Islam dari tingkat individu, masyarakat, hingga negara. 6

Dalam negara seperti itu, kehidupan berjalan dengan manusia-manusia yang selalu mengingat Allah. Lukisan Agus Junawan, Azan Shubuh , mewakili gagasan tersebut. Meski berdaulat secara politik, ekonomi, dan kebudayaan, sebuah negara belum bisa disebut memiliki daulat (dari istilah Arab: Daulah ) penuh ketika pemerintah dan rakyatnya masih hidup dalam kubangan hawa nafsu hewaninya sendiri, sehingga praktik korupsi, kejahatan, penistaan, dan perampasan hak dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Dalam keadaan sperti ini, kita mesti cepat-cepat ingat dan ber- riyadhah kembali, supaya negara kita diterangi cahaya salam dan disentuh semesta azan. Itulah negara masjid, di mana orang-orang di dalamnya mengingat Allah, dari mulai pejabat sampai penyapu jalan, dari mulai petani bawang sampai kaum cendekia. Dalam negara masjid, kita hidup seiring sejalan demi mencapai tujuan, yakni bersujud pada Allah seperti dalam setiap shalat berjama’ah. Tak ada gugatan dan keributan, cuma ada ada kedamaian.

Ketika rakyat sebuah negara azan memilih pemimpin, landasannya adalah pengakuan mereka pada ketaqwaan dan kefashihan pemimpin. Sang pemimpin pun sadar bahwa hal tersebut hanyalah amanah dari Allah, sehingga ia memimpin rakyat untuk berdiri, ruku’, dan sujud, dengan susunan gerakan dan bacaan yang memang sesuai syariat Islam. Rakyat diberi hak untuk menegur kesalahan yang terjadi dan pemimpin yang amanah akan memperbaiki kesalahan tersebut atau menggantinya dengan sujud syahwi. Jika mata pemi m pin sudah disilaukan, bahkan dibutakan, oleh dunia yang terkait dengan k ekuasaannya, peringatan-peringatan dari rakyat itu menjadi tak terdengar. Ada tangan-tangan setan menyumpal telinganya, seperti dalam lukisan Sys Paindow, Insecure . Saat tulisan ini dibuat, konteks lukisan tersebut sangat mudah dipahami, yakni kontroversi pengaturan volume azan setelah terjadi kasus kerusuhan di Tanjung Balai. Sys tak lupa menampilkan ikon suara dalam gadget untuk menggambarkan upaya pengaturan volume tersebut. Upaya memperbaiki keadaan harus dimulai dari penyingkiran terhadap keberadaan setan-setan tersebut, yang mengganggu hubungan pemimpin dan rakyat, juga sesame rakyat yang berbeda agama.

Setan-setan bertangan merah itu, jangan-jangan, juga ikut menggentayangi kita di setiap tempat dan saat. Kewajiban shalat 5 waktu, yang ditandai dengan panggilan azan, mesti menjadi upaya melepaskan jerat-jerat setan dari setiap perilaku dan peripikir kita. Azan Bukan Sekedar Panggilan , kata Abdul Aziz dalam bahasa visual lukisannya. Ia menampilkan lukisan berteknik cipratan yang kaya warna, namun berada dalam sorotan cahaya putih dari kejauhan, dan penggalan lafadz azan yang mengajak kita untuk shalat. Tanpa cahaya salam, semesta azan, dan negara masjid, kehidupan kita barangkali akan menjauh dari pencerahan dan menuju kegelapan. Warna-warni kehidupan yang menggoda bisa ditambah, namun barangkali diperlukan lebih banyak cipratan tak karuan lagi untuk menggambarkan kehidupan duniawi seperti itu.

______________

( Pameran Lukisan bertajuk “ Panggung Azan : Khusyu’ Negeriku” diselenggarakan oleh Pesantren La Tansa bekerjasana dengan Walicare dan Dewan Kesenian Banten, di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, 15-16 Oktober 2018. Pameran lukisan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 ini diikuti oleh 12 pelukis , yaitu : Arif Conte, Abdul Aziz, Agus Junawan, AR Tanjung, Arie Siswana, Fauzan Moosad, Guntur Wibowo, Ibnu Alwan, Laode Umar, Mozley Kusnandar, Sukamto Kamto, dan Syis Paindow . Pameran dibuka oleh budayawan dan sejarawan Ridwan Saidi )

 

1. Istanbul Seminars 2016, Bilgi University, “Religion, Rights and the Public Sphere”, https://www.resetdoc.org/event/istanbul-seminars-2016/ , diakses pada 5 Oktober 2018, pukul 07:52 WIB.

2. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Ibid., hlm. 41-43.

3. Teks lengkap: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’” (HR. Muslim, no. 503)

4. https://www.dalipaintings.com/melting-watch.jsp , diakses pada 5 Oktober 2018, pukul 08:55 WIB.

5. Zygmunt Bauman, Intimations of Postmodernity (London dan New York: Routledge, 2003) , hlm. xxii .

6. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilizations, 1995), hlm. 288.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...