31 March 2020

Bantuan Bank Dunia: No Free Lunch!

Oleh: Chusnatul Jannah

Perhelatan IMF –  Bank Dunia telah berakhir. Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde, memberi pujian kepada Indonesia. Indonesia dinilai sukses besar dalam penyelenggaraan pertemuan yang diikuti lebih dari 30.000 delegasi dunia tersebut. Bahkan, standing applause untuk Presiden Jokowi diberikan setelah pidatonya yang mengutip kalimat dalam film Game of Thrones. Berbagai kesan dan pujian diterima Indonesia. Dari penanganan bencana gempa – tsunami  hingga penghargaan yang diberikan kepada Menkeu, Sri Mulyani.  Ia mendapat gelar Finance Minister of the Year East Asia Pacific. Anugerah ini diberikan atas kiprahnya mempertahankan reputasi keuangan Indonesia di tengah anjloknya rupiah. Kebijakannya dinilai efektif dan kredibel.

Di tengah musibah bencana yang melanda Indonesia, penyelenggaraan IMF – Bank Dunia menyita perhatian dunia. Sebab, dalam kondisi berduka, Indonesia terbilang sukses sebagai tuan rumah pertemuan tersebut. Gelontoran dana yang tidak sedikit seolah terbayar lunas dengan berbagai pujian dan citra positif terlontar dari berbagai delegasi negara. Keprihatinan dan simpati dunia tampak dari tawaran bantuan pemulihan rekonstruksi pasca bencana yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala. Tak tanggung – tanggung, 18 negara siap memberi bantuan memperbaiki infrastruktur di Sulawesi Tengah.

Bank Dunia pun tak ingin melewatkan perannya. "Bank Dunia mengumumkan pendanaan hingga 1 miliar dolar AS bagi pemerintah Indonesia untuk melengkapi upaya-upaya bantuan dan rekonstruksi di daerah-daerah yang terkena bencana di Sulawesi dan Lombok. Bantuan ini juga untuk memperkuat ketahanan jangka panjang," demikian keterangan tertulis dari Bank Dunia yang dikutip dari kompas.com. Pinjaman jangka panjang itu dianggap tak membebani Indonesia. Sebab, tenor pinjaman sebesar Rp 15,2 triliun tersebut bisa mencapai 35 tahun. Selain pinjaman, Bank Dunia juga memberikan hibah sebesar 5 juta dolar AS untuk bantuan teknis.

Tak hanya itu, ADB juga menyiapkan dana sebesar 1 miliar dolar AS untuk membantu rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur di Sulawesi Tengah. Bantuan darurat tersebut di luar pinjaman reguler bagi Indonesia yang berkisar 2 juta dolar AS tiap tahunnya. Ini berarti menambah daftar panjang pinjaman Indonesia ke luar negeri. Sekalipun pembayaran pinjaman tesebut memiliki jangka waktu panjang untuk melunasinya. Indonesia kembali terjebak dalam utang. Meski berbentuk bantuan, sifatnya tetaplah pinjaman.

Tidak ada makan siang gratis. Tak ada pinjaman tanpa imbalan. Konsep itu berlaku bagi negara pemberi pinjaman. IMF dan Bank Dunia sejatinya sama. Sama-sama memberi pinjaman utang luar negeri. Bedanya, IMF lebih fokus pada pinjaman ekonomi makro dengan jangka pendek, sementara Bank Dunia jangka panjang. Perlu diketahui pula, Bank Dunia adalah pemberi utang terbesar di Indonesia. Bantuan untuk bencana bukanlah sekedar bermisi kemanusiaan atau sosial, namun juga bersifat politis. Asing akan senantiasa memanfaatkan peluang untuk tetap melanggengkan kepentingannya.

Dalam hubungan internasional, tak ada negara yang sukarela membantu secara cuma-cuma. Selalu diwarnai kepentingan dan tujuan tertentu. Begitu pula pinjaman yang bersifat bantuan. Terlebih Indonesia sedang memasuki tahun politik. Berebut pengaruh adalah hal yang pasti terjadi. Tujuannya, mengamankan kepentingan nasional negara pendonor pinjaman.

Status Indonesia sebagai negara berkembang tak bisa berlepas diri dari kepentingan global. Pinjaman luar negeri selalu diberikan kepada negara yang berusaha memulihkan perekonomian. Itulah cara IMF dan Bank Dunia menjerat sebuah negara. Utang luar negeri telah memaksa Indonesia bertekuk lutut pada kebijakan global. Jadi, bila asing menawarkan bantuan, jangan dipandang sebagai aksi simpatik semata. Sebab, selalu ada kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai dibalik bantuan tersebut. Tetap waspada!

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...