26 September 2018

Awas! Antara Bom dan Spekulasi Jahat

Oleh: Dian AK
Women Movement Institute

Lagi-lagi Indonesia digemparkan dengan adanya bom bunuh diri. Kali ini, terjadi di tiga gereja di wilayah Surabaya Jawa Timur. Tak hanya itu, bom juga meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo dan berikutnya bom meledak di Mapolrestabes Surabaya. (Tribunnews.com, 14/5). Banyak spekulasi yang berkembang, seperti biasa spekulasi mengerucut pada gerakan militansi Islam. Sekali lagi Islam dijadikan tertuduh. Wacana ini selalu menjadi gorengan yang laris bagi media baik nasional maupun internasional.

Setidaknya ada tiga hal yang muncul pasca tragedi ini. Pertama, upaya percepatan pengesahan RUU Terorisme. Sepintas keberadaan UU ini adalah hal lumrah, selepas adanya aksi terorisme kemudian muncul UU Terorisme. Apalagi adanya desakan yang massif oleh banyak pihak untuk segera. menggoalkan UU ini. UU No. 15 tahun 2003 tentang Penetapan Perppu No 1 tahun 2002 ini tentang Pemberantasan Tindakan Pidana Terorisme ini yang sudah sejak 2016 menuai kontroversi. Betapa tidak isi RUU ini memberikan kesan kesewenang-wenangan dalam menindak terduga teroris, diantaranya terduga teroris boleh diambil paksa dan diasingkan di suatu tempat selama 6 bulan, menambah waktu penangkapan, penahanan dan pemeriksaan yang awalnya 7x24 jam menjadi 500 hari. Bahkan ceramah-ceramah agama yang tak disukai langsung dikriminalisasi atas nama teroris, yang lebih parah lagi diperbolehkan menghilangkan nyawa tanpa proses hukum dan membuat narasi sendiri seolah-olah dia adalah pelaku teroris padahal belum diketahui identitas lengkapnya apalagi memberikan klarifikasi.

Dengan munculnya lagi aksi pengeboman ini akan memuluskan jalannya UU ini untuk segera disahkan tak melihat apakah sesuai keadilan atau tidak. Sungguh satu hal yang patut dicurigai, seakan keberadaan dan isi UU ini agaknya terlalu dipaksakan dan sarat akan kepentingan asing yang harus segera dituruti.

Kedua, Semakin berkuasanya militer menindak terduga. Ada wacana dari Menkopolhukam untuk melibatkan TNI dalam upaya pembasmian jaringan teroris. Jika ini diamini Pemerintah maka akan sangat membahayakan. Atas nama teroris semua orang dicurigai dan mudah untuk ditindak secara militer. Saat ini saja Densus 88 sudah begitu kejam menindak terduga teroris, apalagi jika ditambah TNI akan seperti apa tindakan mereka tak bisa terbayangkan. Kasus Suyono sudah menjadi bahan pelajaran yang berharga bagi kita betapa buruknya perlakuan Densus 88 ini, menghilangkan nyawa seseorang tanpa adanya proses hukum.

Perlakuan itu tak akan serupa apabila terorisnya non muslim, keselamatan pelaku masih diutamakan padahal sudah jelas-jelas tersangka, seperti yang terjadi pada kasus Leopard yang meledakkan Mall Alam Sutera Serang Banten dengan menggunakan peledak berdaya ledak tinggi (high explosive) beberapa tahun lalu. Inilah tendensiusnya kerja pasukan yang sengaja dibentuk dan bersumber dana asing ini dalam membekuk teroris. Sepertinya sudah bisa dibaca siapa sasaran yang sebenarnya dituju. Akan halnya dengan keterlibatan TNI malah akan semakin menjadikan publik jauh dari terbukanya rahasia atau latar belakang aksi teroris selama ini, karena tindakan senjata yang mendominasi. Maka tak akan pernah terungkap motif aksi tersebut.

Ketiga, ketakutan akan Islam (Islamophobia). Kasus pengeboman ini memberikan dampak yang sangat luar biasa. Masyarakat menjadi takut dan selalu waspada terhadap setiap muslim, terhadap setiap kajian keIslaman bahkan setiap organisasi dakwah. Sungguh ironis negeri yang mayoritas muslim, menjadikan ajaran yang diyakininya menjadi suatu hal yang terus dicurigai. Inilah brainwash yang sengaja ditampakkan bahwa teroris adalah Islam. Agaknya war on terrorism yang menjadi keyakinan Amerika bahwa perang melawan teroris adalah perang melawan Islam sukses menjadi common enemy.

Adanya bom dan kemunculan tiga hal di atas agaknya sengaja di blow up besar-besaran oleh media. Dan ini bukanlah hal yang wajar, ada indikasi keterkaitan asing akan hal ini. Betapa tidak ada hal yang penting yang sengaja dialihkan untuk menutupi berita besar yaitu peresmian Kedubes Israel di Yerrusalem oleh AS tanggal 14 Mei 2018. (dunia.rmol.co, 14/5). Sudah menjadi rahasia umum bahwa keputusan Trump yang memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke tanah kaum Muslim menuai penolakan yang cukup keras terutama di Indonesia yang sempat mengadakan aksi penolakan Jumat lalu di Monas. Sehingga isu bom ini terindikasi untuk sengaja dimunculkan di Indonesia sebagai pengalihan isu atas kondisi negeri Palestina yang selama ini menjadi perhatian besar bagi rakyat Indonesia.

Situasi-situasi seperti ini tak boleh kita remehkan. Kaum Muslim harus punya sikap sebagai acuan, yang pertama mengecam dan mengutuk keras aksi bom bunuh diri ini. Apapun alasannya apakah dendam ataukah ingin menunjukkan eksistensi, aksi tersebut tak pernah dibenarkan dalam Islam. Kedua, belajar Islam. Ini point yang penting bagi setiap muslim, tak boleh ada dalam benak bahwa ajaran Islam harus ditakuti. Justru semakin dekat dengan Islam, belajar Islam dengan sungguh-sungguh akan pupus rasa ketakutan itu dan akan mendapati sebuah kebenaran bahwa terorisme sejatinya bukan berasal dari Islam.

Ketiga, mewaspadai kebijakan-kebijakan yang mengundang sentimen terhadap kelompok Islam. Adanya tragedi ini menjadikan Pemerintah bertindak agresif untuk segera melandingkan kebijakan atau Undang-Undang yang malah menyudutkan kaum Muslim dan mempersempit dakwah suatu kelompok Islam. Maka tak boleh ada kata setuju atau sepakat dengan kebijakan tersebut.

Keempat, terus menggelorakan perjuangan Islam. Perlu ditunjukkan bahwa penegakkan syariah Islam tidaklah identik dengan kekerasan atau angkat senjata. Penegakkan syariah haruslah dengan dakwah tanpa kekerasan. Tak ada kata kudeta, tak ada kata pemberontakan, dan tak ada pertumpahan darah. Inilah perjuangan hakiki yang dicontohkan Rasululloh, perjuangan yang akan menarik simpati umat dan menginginkan Islam tegak di bumi ini dengan damai. Perjuangan ini yang akan membawa pada kemenangan. Hanya saja perjuangan ini tak semulus jalan tol ada banyak halangan utamanya dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Maka jika benar rentetan tragedi di atas adalah drama untuk menghalangi perjuangan dakwah Islam. Sungguh ini adalah skenario keji yang dilakukan musuh-musuh Islam. Mereka lupa sebaik-baik makar mereka, makar Allah lah yang pada akhirnya akan menang. Allah SWT berfirman, Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan fitnah) mereka, dan Islam menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. (QS. Ash-Shaf: 8)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...