8 April 2020

Aura Sontoloyo dan Genderuwo di Seputar Pilpres

Oleh: Hanif Kristianto
Analis Politik dan Media

Sungguh peristilahan aneh dalam politik demokrasi menuai polemik. Pasca politik sontoloyo, kini terbit genderuwo. Makhluk halus yang digambarkan kerap menakut-nakuti dan kejam. Dua istilah sontoloyo dan genderuwo sesungguhnya praktik keji dari politik demokrasi suatu rezim. Dua gambaran itu bisa diamati bukan dari sosok pemimpin. Lebih pada kebijakan yang kerap memusingkan dan menakut-nakuti rakyat.

Kehadiran sifat sontoloyo dalam politik Indonesia menandai bahwa politisi saat ini lebih berorientasi pada mabuk kekuasaan. Jauh dari sikap peduli dan mengurusi rakyat. Kesontoloyoan kian menjadi tatkala tahun politik tiba. Baik di musim penghujan, semua bersuara dan bersuka cita. Siap-siap merebut hati rakyat. Demokrasi telah merasuki manusia yang menjadikannya sontoloyo dan represif. Kebebasan sekadar bunga-bunga pewangi untuk mengubur lawan politiknya.

Adapun genderuwo lebih menandakan sikap otoritarianisme dalam kebijakan. Sebut saja sifat amarah menakuti rakyat dengan sebutan anti Pancasila, memecah belah NKRI, bertentangan dengan UUD 1945, dan anti keberagaman. Sematan itu tampak pada masa rezim ini, tatkala pihak yang berseberangan mencoba menyerang. Demokrasi sekadar wacana untuk menghalalkan memberangus lawan politiknya.

Siapa Sontoloyo?

Lontaran kata sontoloyo dalam pilpres 2019 sesungguhnya menandakan beberapa hal:

Pertama, buah ucapan merupakan hasil dari pemikiran. Tatkala tidak ada lagi kosa kata santun yang didengungkan, sontoloyo menjadi pilihan. Tujuannya jelas menggambarkan pribadi yang berucap. Yang namanya politik demokrasi selalu menyimpan musuh abadi.

Kedua, kekalahan dalam menghadapi serangan bertubi-tubi dari pihak yang lawan. Petahana yang berniat dua periode lagi dihajar habis-habisan netizen di media sosial. Begitu pun serangan politik dari oposisi yang mengunci mati. Apa pun yang dilontarkan rezim, selalu ditanggapi negatif dan minus prestasi oleh oposisi.

Ketiga, pemujaan terlalu berlebih pendukung kepada petahana. Demi pencitraan untuk dipilih kembali, selalu ada cara baru mendongkraknya. Sayangnya, dongkrakan itu masih kalah dengan janji-janji yang belum terlaksana. Namanya promosi, ada saja alasan untuk mengelak. Walhasil, pemujaan berlebih akhirnya menimbulkan kekonyolan.

Jika sudah demikian, rakyat pun akan tahu siapa sesungguhnya yang sontoloyo. Lagi-lagi demokrasi bikin loyo. Baik sistemnya maupun orangnya.

Siapa Genderuwo?

Gambaran genderuwo lebih menonjolkan sikap bengis dan aura jahat politisi. Lontaran itu muncul disebabkan beberapa hal:

Pertama, pengucap menggambarkan realita politik demokrasi kekinian. Keculasan, kebengisan, kediktatoran konstitusional, kemunafikan, manipulasi, dan kebohongan sistemik dalam dunia politik. Sosok genderuwo mewakili sifat asli demokrasi.

Kedua, dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada rakyat bahwa pihak penantang kejam. Padahal sebagai sosok pemimpin haruslah dibuktikan dahulu jika pribadinya tak memiliki sifat seperti genderuwo. Dalam pemerintahan yang lebih dilihat adalah kebijakan dan keputusan. Apakah pro rakyat atau menyengsarakan rakyat? Rakyat luas bisa menilainya.

Ketiga, rakyat menilai bahwa tahun politik penuh dengan ketakutan. Takut dipimpin oleh orang yang kejam, bengis, diktator, dan menebar teror. Takut pula dengan kebijakan yang dzalim dan menyengsarakan rakyat.

Jika sudah demikian, genderuwo itu pun akan mengkristal dan merasuki tubuh poltisi. Indonesia akan dipenuhi aura jahat dari sikap politik demokrasi yang brutal.

Pesan untuk Rakyat

Rakyat sebagai pengonsumsi informasi dan hatinya rindu mendapat pemimpin baru. Baru dalam artian yang tak sekadar copy paste kebijakan sebelumnya. Baru dengan tampilan dan gaya yang peduli kepada rakyat. Mencintai rakyat sepenuh jiwa dan memuliakan ulama pada tempatnya.

Pemimpin ke depan haruslah dekat dengan umat Islam dan menjauhi pecah belah. Tak takut dikritik, apalagi didatangi bertemu empat mata. Tak mudah menebar cerita dan citra, lebih pada loyalitas kinerja. Hal paling utama bagi pemimpin Indonesia ke depan ialah amanah, taqwa dinomor satukan, mudah menerima kritik dan masukan, dan mau menjadikan Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Jangan sampai ada politisi sontoloyo, genderuwo yang menguasai jagat Indonesia.

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...