18 June 2018

Antara Jokowi dan Ngabalin

Oleh: Muslim Arbi

Jokowi, setelah menjadi Presiden terlihat sangat hormat dan mencium tangan Ketum PDIP, Megawati dalam berbagai kesempatan.

Juga, sikap membungkuk dan merunduk di lakukan terhadap Prabowo Subianto, bahkan di saat Pilgub DKI. Sehingga Prabowo pun all out menjadikan Jokowi sebagai Gubernur dengan meyakinkan kepada Megawati agar PDIP juga berikan dukungan kepada Mantan Walikota Solo itu. Dan Jokowi pun akhirnya terpilih sebagai Gubernur DKI 2012-3014.

Sikap merunduk dan mencium Tangan Megawati oleh Jokowi itu pun di lakukan setelah menjadi Presiden.

Merunduk dan mencium tangan oleh Jokowi terhadap Prabowo dan Megawati itu apakah sudah menjadi jaminan akan ketaatan dan keloyalan di kemudian hari?

Ternyata tidak, Prabowo Subianto kemudian menjadi rival Jokowi di Pilpres 2014. Dan Putera Begawan Ekonomi Prof Soemitro Joyohadikusumo itu pun menelan pil pahit dalam kekalahan nya itu.

Begitu juga apa yang di lakukan terhadap Megawati. Meski Presiden Jokowi di anggap sebagai Petugas Partai, tapi tak selama nya kemauan Megawati di turuti oleh Jokowi.

Bahkan, belakangan ini terlihat Jokowi lebih ke kuning kuningan yakni simbol Partai Golkar. Membiarkan Erlangga Hartanto, Ketum Golkar dan Kader nya, mantan Sekjen Golkar, Idrus Marham di Kabinet nya. Sedangkan Puan Maharani, Cahyo Kumolo, Ganjar Pranowo harus melepaskan Jabatan di partai nya karena berada di Kabinet nya.

Apakah Jokowi sedang merayu dan menimang Golkar dan sedikit membuat jarak dengan PDIP? Tentunya dengan suatu perhitungan politik dan kekuasaan di 2019 dan Konsolidadi di DPR bukan?

Tapi satu hal, Golkar bermain cantik, meski mantan ketum nya di penjara dalam kasus ktp elektronik, tapi Golkar sekarang tetap kuasai Ketua Parlemen, 2 Mentri nya di Kabinet dan bahkan sudah kampanyekan Ketum nya Erlangga Hartanto sebagai Cawapres nga di 2019.

Apakah nanti Puan yang akan di pilih oleh Jokowi atau Erlangga tergantung situasi ke depan. Jika akhir nya karena lobi dan tekanan politik sehingga Jokowi memilih Erlangga, maka pragmatisme politik dan kekuasaan semata yang di kedepan oleh Jokowi.

Akan hal nya cium tangan dan menunduk di depan Megawati sekedar trik dan taktik politik Jokowi untuk meraih dukungan Megawati dan PDIP? Publik mencatat apa yang di lakukan oleh Jokowi terhadap Prabowo, belum hilang dari ingatan.

Beberapa hari ini, publik melihat ketundukan yang sama di lakukan oleh Ali Mokhtar Ngabalin di depan Presiden Joko Widodo. Meski Ngabalin pernah di laporkan ke Polisi dengan tuduhan menghina Jokowi saat Pilpres 2014. Tapi, kini Ngabalin di rekrut sebagai Orang Istana.

Tertunduk nya Ngabalin di depan Jokowi akan mengulang hal yang sama seperti Jokowi perlakukan Prabowo dan Megawati? Atau masuk nya Ngabalin, Putera Fak fak ini akan memperkuat skuwadron pasukan Kuning yang kuasai Istana?

Waktu yang singkat menjelang Pilpres ini akan perlihatkan bagai mana, ketundukan dan cium tangan itu akan sakti? Atau itu hanya sekedar simbolisme sesaat penuh kepentingan Politik dan Kekuasaan?

Apakah Ngabalin juga menjadikan Jokowi sebagai guru dan mentor politik nya?

Wallahu'alam

Category: 

Berita Terkait

Loading...