19 August 2018

Aniesers vs Jokowers Menjelang Pilpres 2019

Oleh:  Tony Rosyid*

Anies dan Jokowi adalah dua tokoh yang paling tinggi magnetnya bagi media. Apapun terkait keduanya, media menaikkan beritanya. Pertama, karena Anies gubernur DKI Jakarta dan Jokowi presiden. Kedua, keduanya sedang dalam persaingan.

Berita menjadi masif ketika hadir pihak ketiga yakni para pendukung. Anies dan Jokowi sama-sama punya pendukung yang fanatik dan energik. Ditambah lagi hadirnya kelompok ABJ (Asal Bukan Jokowi). Kelompok ini, meski tidak sepenuhnya pro Anies, namun bagi mereka, siapapun lawan Jokowi akan didukungnya. Dan kelompok ABJ ini justru paling bersemangat dan “ngotot” untuk mengalahkan Jokowi. Bagi mereka, jika Jokowi jadi presiden lagi, Indonesia seolah akan kiamat. Benarkah?

Upaya yang sering dilakukan sejumlah pihak untuk menghalangi atau menyerang kelompok ABJ ini, baik secara oral maupun tulisan, justru malah menjadi momentum kelompok ABJ melakukan konsolidasi perlawanan yang semakin masif.

Para pendukung Anies dan Jokowi seperti belah semangka. Pendukung Anies itu anti Jokowi, dan pendukung Jokowi itu anti Anies. Masing-masing punya rasionalitasnya sendiri. Sisanya, non blok. Wait and see.

Pengkubuan ini terus terawat karena faktor pertama, kekalahan Ahok di pilgub DKI yang juga diasumsikan sebagai kekalahan Jokowi. Kedua, karena akan adanya hajatan demokrasi di pilpres 2019.

Jokowi tidak ingin kalah dua kali. Kalah di pilgub DKI dan pilpres 2019. Karena itu, “at all cost” akan dipersiapkan maksimal oleh tim Jokowi untuk bertempur di 2019. Lebih-lebih jika lawannya adalah Anies Rasyid Baswedan.

Para pendukung Anies dan Jokowi, yang belakangan lebih dikenal dengan istilah Aniesers dan Jokowers, terus berhadapan. Media utamanya adalah medsos. Masing-masing pendukung ini melakukan pertama, branding tokohnya. Kedua, mengamati dan mengawasi dengan teliti kinerja, bahkan sikap tokoh lawan. Tepatnya, mencari-cari kesalahan untuk dibully.

Bagaimana dengan para tokoh di luar keduanya? Seperti Gatot Nurmantyo (GN) misalnya. Gatot punya kans sebagai lawan potensial jika GN bersedia menjadi fighter yang secara langsung berani berhadapan dengan Jokowi. Dan momentum ini bisa GN dapatkan jika GN mengambil langkah mundur dari TNI sebelum masa pensiun. Mundurnya GN bisa dipersepsi publik sebagai bentuk perlawanan terhadap Jokowi. Jika tidak, GN berangsur akan kehilangan momentum. Publik menganggap GN berada satu baris dengan Jokowi. Meski tetap punya kesempatan untuk recovery.

Di luar GN, muncul sejumlah tokoh. Namun tokoh-tokoh itu bukan fighter. Mereka lebih memilih jalur landai dan aman. Tidak berani berhadapan langsung dan berseberangan dengan Jokowi. Sebagian besar dari tokoh-tokoh itu justru malah “menunggu dan memburu berkah” dari Jokowi.

Diantara tokoh-tokoh “penunggu dan pemburu berkah” itu adalah Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Romuharmuzy (Romi), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Zulkifli Hasan, Budi Gunawan (BG) dan Puan maharani. Mereka berebut pengaruh untuk dipinang Jokowi sebagai cawapres.

Sejumlah spanduk terpasang di sejumlah kota yang bertuliskan “Calon Wakil Presiden 2019”. Cak Imin dan Romi termasuk yang paling gencar buat branding ini.

Kenapa tokoh-tokoh tersebut tidak nyapres? Tidakkah mereka punya partai pengusung? Pertama, mereka merasa tidak cukup kuat untuk melawan Jokowi. Kedua, mereka terikat sebagai partai koalisi pendukung Jokowi. Ketiga, mereka tidak punya nyali. Ada faktor “x” yang menyebabkan mereka kehilangan keberanian.

Karena bukan sebagai calon presiden, mereka tidak merasa perlu pasukan khusus. Sebab, kekuatannya ada di negosiasi partai berbasis pada pertama, kemampuan partai masing-masing memenangkan calonnya di pilkada 2018. Dan kedua, trend elektabilitas sebagai cawapres.

Kecap nomor satu, mudah dijual. Agent pun bisa ambil bagian untuk ikut memasarkan. Kecap nomor dua, tak mudah menjualnya. Tak telalu menarik.

Branding cawapres, meski kreatif dan imajinatif, tapi tak membuat para agent (timses/konsultan profesional) mudah untuk ikut terlibat menjualnya. Maka, tak banyak pendukung setia yang bergairah, apalagi fanatik.

Di luar para “penunggu dan pemburu berkah” dari Jokowi, muncul nama Ahmad Heryawan, (Aher), Sohibul Iman, Anis Matta dan Tuan Guru Bajang (TGB). Ketiga tokoh ini juga bukan seorang fighter. Publik juga membaca tokoh ini sebagai “the second leader” yang berjuang untuk mendapat berkah dari tokoh yang akan melawan Jokowi. Meski tetap menghitung diri jika dilamar Jokowi sebagai cawapresnya. Semua masih terbuka, cair dan serba memungkinkan.

Publik menginginkan tokoh yang akan menjadi lawan Jokowi adalah seorang fighter. Sebab, Jokowi adalah seorang fighter, bahkan seorang fighter yang sangat agresif. Punya perlengkapan nyaris sempurna. Karena itu, butuh lawan yang juga punya tipe fighter.

Tipe fighter ini dimiliki oleh tokoh seperti Prabowo dan Anies Baswedan. Hanya saja, Prabowo, selain faktor usia, elektabilitasnya mengalami trend yang terus menurun. Sementara Anies, kendati fokus menjalankan tugasnya sebagai gubernur DKI, ia banyak mendapatkan momentum untuk berhadapan langsung dengan Jokowi. Kasus reklamasi adalah salah satunya. Dan Jokowi telah masuk perangkap dalam perseteruan itu.

Anies bisa dikatagorikan sebagai tokoh yang menampilkan dirinya fighter sejati untuk melawan Jokowi. Potensinya besar untuk menjadi rival Jokowi di pilpres 2019.

Publik setiap hari dipertontonkan oleh media rivalitas Anies vs Jokowi yang semakin panas. Faktor fighting inilah yang membuat lahirnya pengkubuan para pendukung semakin membesar dan tajam. Sikap dan moment ini tidak ada pada tokoh-tokoh yang lain.

Apa yang dilakukan pendukung Anies dan Jokowi itu lebih karena orientasi memenangkan kontestasi politik di pilpres 2019. Siapapun yang nanti terpilih menjadi presiden, apakah Anies atau Jokowi, atau malah tokoh lain, perseteruan para pendukung Anies dan Jokowi akan surut. Lambat laun pasti berakhir dengan sendirinya.

Perseteruan model ini pernah terjadi antara pendukung Prabowo dan Jokowi menjelang pilpres 2014. Tak kurang dasyat, dan tak kalah gaduh. Pilpres selesai, perseteruan pun terurai. Muncul lagi, dan semakin kencang ketika hajatan pilpres 2019 makin dekat.

Kali ini Anies mewakili kubu Prabowo, jika Prabowo tidak maju. Anies seolah reinkarnasi Prabowo zaman now.

Kenapa mesti Anies yang merepresentasikan Prabowo? Pertama, karena Anies adalah tokoh potensial yang saat ini punya kedekatan khusus dengan Prabowo. Kedua, resistensi Anies relatif kecil di kalangan kader Gerindra. Ketiga, Anies paling memungkinkan suaranya untuk melejit dan mengimbangi Jokowi. (wawancara Kompas Tv dengan J. Kristiadi/CSIS)

Pertarungan Anies vs Jokowi akan lebih menarik dibanding Jokowi dengan tokoh yang lain. Sama-sama muda dan mesinnya sudah panas. Keduanya memiliki konstituen yang konsisten dan bergairah. Para pendukung inilah yang selama ini memeriahkan dunia medsos dengan beebagai meme, karikatur, video dan tulisan.

Tidak seperti perseteruan Anies vs Ahok di pilgub DKI yang dikesankan sarat dengan tafsir ideologi dan agama, pertempuran Anies vs Jokowi di pilpres 2019, jika benar-benar terjadi, akan lebih menekankan pada design konseptual dan koreksi/track record kinerja. Ini akan lebih berkualitas dan bermutu. Disinilah Aniesers dan Jokowers akan mendapatkan suplai vitamin yang mencerdaskan dalam pertempuran.

______________________________________

Tony Rosyid adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

(KONF/POROS.NEWS)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...

Berita Terkait