ANGKATAN PENYAIR FACEBOOK : Melawan Kemapanan Media Mainstream

Oleh : Warih W Subekti *)

Saya tidak paham kenapa bapak-bapak kita dahulu senang dengan hal-hal yang berbau-bau militer bahkan sastra yang pada kenyataanya sering berhadap-hadapan dengan tentara memakai istilah 'Angkatan', kita kenal 'Angkatan Pujangga Baru', 'Angkatan Balai Pustaka', 'Angkatan 45' dan 'Angkatan 66'. Saya tak begitu menyimak ataupun mengikuti walaupun saya dengar bahwasanya diluar sana ada deklarasi para penyair ataupun sastrawan Angkatan 00, tapi pada kenyataanya dalam pelajaran resmi di sekolah kita hanya mengenal katagori angkatan yang saya paparkan di atas.

Saya belum pernah merasakan gairah bersastra sedemikian masifnya seperti sekarang ini di era facebook, dan lalu lintas korespodensi melalui jejaring sosial yang bisa terhubung 24 jam nonstop, di era lalu saya juga mengadakan korespondensi dengan beberapa penulis baik di Jogja maupun Semarang kota-kota dimana tempat yang tidak jauh dari kota saya, walaupun dilakukan intens, tapi memerlukan kesabaran sebab lumayan lama paling tidak dua minggu baru ada balasan, seperti juga nasib tulisan kita di media dimana kita mengirimkan naskah dalam hal ini puisi misalnya.

Dengan kemajuan tehnologi dan diketemukannya facebook, tiba-tiba gairah menulis saya hidup lagi yang semula tiarap dan mengalami 'tidur panjang' saya masuk ke dalam beberapa group sastra, kemudian saya menulis di status kata-kata yang agak berbau-bau sastra dan saya anggap itu sebuah karya yang seolah-olah itu puisi, lantas saya posting dan mendapat jempol terkadang komentar dan diri seakan telah berkarya dan menjadi 'Penyair'. Betapa senangnya saya bisa terhubung dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan sama sekali, kemudian seolah-olah kita kawan satu strata sosial tertentu, padahal dalam realitas sosial tentu saya sangat berbeda jauh dengan mereka semua.

Di facebook saya seolah menjadi seorang penyair, tentu saja berbeda dengan para penyair yang karya-karyanya dimuat di media massa-koran lokal maupun nasional, mereka itu semua yang menurut saya 'Penyair dalam arti sebenar-benarnya penyair", kalau yang dilauar itu, yang punya nasib seperti saya tak pernah dimuat di media, kecuali media online dan itu 'Medianya Sendiri' jangan latah menyebut diri sebagai penyair, tentu ini nantinya akan mendestorsi makna penyair yang sesungguhnya. Sungguh-sungguh saya hanya ingin mendudukan persoalan pada tempatnya, bukan provokasi, terlebih opini.

 

Penyair Facebook Sebuah Fenomena

Sejak tulisan saya 'Angkatan Penyair Facebook' muncul di wall banyak tanggapan terbuka berupa komentar dan ada juga tanggapan yang tertutup disampaikan lewat inbox, bagi saya semua itu positif, saya tak hendak mempertentangkan fenomena 'Penyair Facebook' dengan 'penyair konvensional' (baca: Penyair), memang tak pada tempatnya mempertentangkan keduanya sebab mereka lahir dan besar pada zaman yang berbeda, dan semakin kita mempertentangkan keduanya semakin kita berjalan mudur ke belakang dan menemui kegelapan.

Coba simak fenomena para penyair facebook ini,mereka akhirnya kembali pada hal-hal yang konvensional, karya mereka yang awalnya di posting melalui group sastra apalah itu namanya dicetak menjadi buku, ada semacam blunder di sini. Menurut saya sebaiknya puisi-puisi era cyber ini tak di cetak dalam bentuk yang konvensional semacam buku, tapi ya dalam bentuk E-Book dan cara mengaksespun masih dalam demensi yang sama yakni digital, sehingga tak ada blunder di sana. Kita masih sering mendapati karya-karya puisi yang konvensional dicetak dalam buku maupun koran mereka posting dalam bentuk yang digital, seolah kita bergerak maju mundur dan tak teratur, kenapa kita tak meninggalkan salah satu dan menggunakan tehnologi yang punya prospek ke masa depan.

Di era digital ini kembali pada medium cetak sama saja pemborosan tak efektif dan efesien, membuang-mbuang energi dan biaya yang pada ujungnya cost yang tinggi dalam istilah yang populer membakar duit saja. Jadi kenapa kita latah pada romantisme masa lalu di cetak dengan kertas yang luxs serta dengan cover buku yang ciamik, toh dengan perangkat digital seperti sekarang ini, semua bentuk itu dapat dicapai dengan singkat dan penyebarannya pun sangat masif menjangkau tempat-tempat terjauh di bumi ini. (K)

________________________________________________________________________________________

*) Warih W Subekti, Praktisi Media Online dan Penyuka Puisi Cyber, Saat ini tengah memproklamirkan "Penyair Facebook"

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...