18 October 2019

Aneh, Pak Prabowo Mau Shalat Jumat Kok Dilarang?

Oleh: Nasruddin Djoha

Jujur sekali ini saya benar-benar gak paham dengan kelakuan pendukung kubu petahana. Garuk-garuk kepala saja gak cukup. Kayaknya garuk-garuk tanah juga tetap tidak cukup.

Press rilis yang dibuat oleh Ketua Takmir Masjid Agung Semarang KH Hanif Ismail pagi ini (14/2)  terpaksa bikin saya jedot-jedotin kepala, biar paham. Jangan-jangan jaringan di otak saya lagi korslet, sehingga gagal paham.

Kok bisa Kyai Hanif menolak Pak Prabowo yang berencana shalat Jumat di masjid Kauman, Semarang. Sejak kapan ada orang mau shalat Jumat harus lapor? 

Shalat kan urusan ibadah kepada Sang Khalik. Lha ini kok harus bawa-bawa nama KPU dan Bawaslu?

Sejauh informasi yang saya baca di media, Pak Prabowo saat ini berada di Jawa Tengah. Foto dan videonya digendong-gendong pendukungnya di Purbalingga viral di medsos. Tapi tidak di media mainstream.

Hari Jumat (15/2) rencananya akan menggelar Pidato Kebangsaan di sebuah hotel di Semarang. Wajar dong kalau harus shalat Jumat? Lha kalau tidak boleh shalat Jumat di masjid, harus salat dimana?
Apa harus salat di alun-alun Simpang Lima?

Barangkali Kyai Hanif lupa atau salah orang. Menduga Pak Prabowo itu sama dengan Pak JKW. Kalau shalat harus ada kameranya. 

Saya setuju! Kalau ada jamaah shalat dan kemudian ada kamera dimana-mana. Itu sangat mengganggu. Apalagi sampai posisi shalat para jamaah harus diatur-atur.

Kalau masalahnya itu kan tinggal bikin perjanjian dengan tim Pak Prabowo. Kalau perlu tandatangan di atas materai enam rebu perak. “ Kalau shalat jangan ada kamera. Jangan sampai atur sana, atur sini. Atur bloking kamera,  memindah-mindahkan posisi para jamaah, jangan sampai menghalangi kamera. Jangan pasang kamera dari posisi imam.” Kan gitu.

Tim Prabowo juga pasti ngerti. Pasti paham dan manut. Mereka pasti tahu diri.  Mereka tidak boleh menyamai Pak JKW yang setiap shalat harus menghadap kamera.

Pak Prabowo, sejauh keterangan guru ngajinya Ustad Sambo, tidak pernah mau dipotret, setiap shalat. Tapi karena para pendukung petahana selalu mempertanyakan dimana Pak Prabowo shalat Jumat.

Sampai-sampai #Prabowoshalatjumatdimana jadi trending topic, Ustad Sambo sampai nekad foto candid. 

Itu hanya sebagai bentuk tabayun. Jangan sampai fitnah terus berkembang. Bukan pamer. Tapi itupun digoreng lagi. Katanya bukan shalat Jumat. Tapi seminar. Prabowo tukang bohong. Tukang hoax.

Shalat itu kan urusan personal. Hubungan dengan Sang Khalik. Kalau dipamer-pamerkan jadi riya’. Hangus semua amalannya. Pak Prabowo tahu banget itu.

Beliau juga tahu diri dan tahu tatacara shalat yang benar. Tahu bahwa untuk jadi imam itu harus dipilih orang yang paling fasih bacaannya. Kalau ada imam yang tidak fasih bacaannya, shalatnya bisa batal.  Kalau ada orang yang tidak fasih bacaannya, tetap memaksa jadi imam. Nekad namanya.

Sekali lagi sikap Kyai Hanif ini sangat sulit saya mengerti. Menghalangi orang shalat Jumat itu sebuah bentuk kebathilan dan dzalim.

Kyai Hanif pasti paham. Doa orang yang didzalimi apalagi sedang dalam perjalanan (safar) itu langsung diijabah oleh Allah SWT. Tidak ada hijab. Langsung dikabulkan. Lha ini dobel mustajab!

Istighfar pak Kyai. Jangan hanya karena beda pilihan politik, sampai harus berbuat dzalim.  
Gusti Allah mboten sare!

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...