AirAsia QZ8501 Lenyap. Munir, Sukhoi, dan Seterusnya Mencuatkan Pakar Penerbangan

Ingat Seand Munir? Ingat kecelakaan pesawat Sukhoi? Fenomena Seand Munir itu bisa muncul lagi terkait hilangnya AirAsia QZ8501. Munculnya Seand Munir baru bisa menjadi keniscayaan yang harus bisa dihindari. Kenapa?

Serta-merta saat ini, seperti kasus kecelakaan Sukhoi, telah lahir Kompasianers yang menjelma menjadi ahli penerbangan mendadak. Pejabat penerbangan bisa kalah dengan Kompasianers. KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) pun bisa kalah canggih dengan mereka. Bagaimana sepak-terjang mereka dalam mengumpulkan data analisis terkait cuaca, teknis pesawat, angin, engine, peralatan navigasi, ATC, dsb. yang mencengangkan yang melebihi kecanggihan para pejabat KNKT sekalipun dengan hati gembira senang sentosa bahagia ria.

Para Kompasianers memang kreatif. Berbekal browsing, para Kompasianers mampu menulis apa saja, topik apa saja, kapan saja, dengan sudut pandang apa saja. Dalam kasus Seand Munir, hoax muncul dan postingan Seand Munir mencapai hit 1,000,000 klik. Fenomenal. Di saat seperti hilangnya AirAsia QZ8501, di dunia media sosial muncul berbagai informasi dan kreasi informasi dan bahkan kesimpulan dari analisis para pembuat berita termasuk Kompasianers.

Berdasarkan berita, informasi, dan data kutipan berbagai sumber sana-sini, maka lahirlah berbagai teori tentang pesawat itu. Dari mulai yang masuk akal, sampai yang tak masuk di otak. Yang penting dan menarik adalah lahirlah Kompasianers ahli penerbangan. Ruang informasi Kompasiana pun dikuasai oleh para ahli dan pakar dadakan tentang penerbangan bernama: Kompasianers.

Bagi sebagian Kompasianers, menulis artikel aktual memang gampang. Caranya? Ambil topik yang sedang hot di media online dan televisi. Atau soal yang tengah trending di Twitter atau hangat di Facebook. Kasus paling hot adalah hilangnya pesawat AirAsia QZ8501. Kompasianers yang memiliki keahlian browsing dan searching dipastikan tak akan melewatkan momentum menjajal kepakaran dan keahlian serta expertise yang dimiliki. Beramai-ramai menuliskan berita lanjutan dari media online, televisi, dan media sosial lain.

Maka, di berbagai kanal Kompasiana saat ini dipenuhi oleh berita ulasan AirAsia QZ8501. Yang sangat menarik adalah mengamati kemampuan para Kompasianers yang tiba-tiba menjadi sangat detail dan ahli menganalisis berbagai kemungkinan penyebab kecelakaan.

Bahkan, sejak kemarin dapat diamati, para Kompasianers dengan data yang dimiliki yang dipastikan dari sumber televisi, koran, media online, dan bahkan rumor dan gossip, mereka berani memastikan dan spekulasi menentukan seperti (1) AirAsia mendarat di laut, (2) AirAsia mendarat di daratan, (3) penyebab hilangnya pesawat human error atau teror, (4) spekulasi kesalahan terkait perubahan arah yang diminta pilot, (5) faktor cuaca buruk, (6) faktor mistis terkait politik yang dikaitkan dengan pemerintah baik Malaysia maupun Indonesia.

Yang hebat dari semua Kompasianers itu adalah rasa percaya diri yang sangat tinggi dalam menulis, dan mengambil kesimpulan. Apapun teori dan spekulasi menjadi tidak penting. Yang penting, tulisan muncul dan menjadi hit. Teori Seand Munir yang asal posting demi ketenaran diri pun bisa muncul dalam benak Kompasianers - jika motivasi menulisnya adalah untuk posting sekedar posting.

Yang menarik, dari semua analisis (baca: enam topik) contoh spekulasi tulisan Kompasianers, dapat dipastikan bahwa semua yang ditulis oleh para Kompasianers adalah merupakan writing exercise saja alias latihan menulis. Hot topic di media dan masyarakat dijadikan starting point untuk menuliskan pesan apapun. Maka warna tulisan model begini menjadi hanya sekedar lanjutan pemberitaan yang berbeda dari media informasi lainnya, dan sebelumnya, sehingga sebenarnya telah kehilangan nilai aktualitasnya, kemenarikannya, keinspiratifannya, dan kebermanfaatannya. Kenapa?

Karena para artikel itu hanya pelanjut berita di media sebelumnya. Penulis yang cerdas dengan artikel yang cadas senantiasa tak akan menulis semua topik yang sedang trending di masyarakat, karena artikel yang berdasarkan ‘semua topi adalah topik dan sumber tulisan saya’ dipastikan akan membuat seseorang tak akan memiliki expertise dalam hal menulis artikel.

Dengan uraian di atas, kalau kasus hilangnya AisAsia QZ8501hanya melahirkan para ahli penerbangan dan pakar pengamat kecelakaan pesawat dadakan yang melebihi pakar KNKT, tak masalah. Yang menakutkan adalah jika muncul Kompasianers yang memiliki nyali dalam kasus hilangnya AirAsia QZ8501 ini, bertindak seperti Seand Munir Sukhoi II, dengan memanfaatkan Kompasiana untuk membuat berita hoax hanya demi ketenaran seperti kasus Seand Munir Sukhoi 1,000,000 hit. (Ninoy Karundeng/kompasiana)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA